
Indira sedang menikmati makan malam bersama keluarganya.
" Ehm, ehm..., Ayah sama Ibu kedatangan calon Mantu ya sore ini...?" tanya Adi mulai usil.
" Siapa Mas, calonnya Mas Amar ya...?" tanya Ali ikut nimbrung.
" Salah...!" kata Adi, " Calonnya Mbak Dira dong...," sambung Adi.
" Wahhh..., terus nikahnya kapan...?" tanya Ali polos.
Pletakk..
" Aww..., sakit tau Mbak. Kan Gue cuma nanya...," protes Ali sambil memegang dahinya yang dijitak oleh Indira.
" Nikah, nikah, Gue tuh belom mau nikah ya...!" kata Indira galak.
" Ya ga usah marah-marah lah, tinggal bilang doang apa susahnya...," gerutu Ali.
" Sssttt..., lanjutin makannya, ga baik ribut di meja makan...," kata ibu menengahi sambil tersenyum.
Suasana pun kembali tenang. Setelah selesai makan, ayah dan ibu mengajak Indira ngobrol sebentar di ruang keluarga. Ketika Adi dan Ali hendak nimbrung, telinga mereka ditarik oleh Amar.
" Aduuhhh..., Mas...," teriak mereka bersamaan.
Amar menatap tajam kedua adiknya, hal ini tentu saja membuat mereka berdua ciut.
" Jangan ikut campur urusan orang dewasa...!" tegas Amar.
" Tapi Mas...," bantah Adi.
" Ga semua hal di rumah ini bisa buat bahan bercanda, Kalian harus tau itu. Sekarang Ayah sama Ibu lagi ngomong serius sama Dira, jadi Kalian jangan ganggu...!" bentak Amar.
Akhirnya Ali dan Adi memilih menyingkir, mereka tahu jika Amar marah artinya serius. Karena mereka pernah merasakan 'bogem mentah' sang kakak, jadi mereka pun lebih baik menghindar.
Amar duduk tak jauh dari posisi ayah,ibu dan Indira. Meskipun Indira adiknya, tapi Amar menghargai privacy sang adik. Amar lebih memilih nonton tv untuk mengisi waktu senggangnya.
" Jadi Kalian punya hubungan apa...?" tanya ayah to the point.
" Cuma temen Yah, temen deket...," jawab Indira.
" Masa...," sindir ibu sambil tersenyum simpul.
" Suer Bu...," kata Indira menegaskan sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya bersamaan.
" Tapi Ibu liat tatapannya sama Kamu tuh beda lho Dir...," kata ibu.
" Yaaa..., dia emang suka sama Dira Bu, tapi Dira ga kok...," kata Indira menjelaskan.
" Yang penting Kamu hati-hati, Ayah liat dia orang yang cukup bertanggung jawab. Kalo Kamu belum ada 'rasa', sebaiknya jangan memberi harapan Nak, itu ga baik...," nasehat ayah.
__ADS_1
" Betul kata Ayah, Dir. Jangan mempermainkan perasaan cowok. Kamu harus ingat, Saudara kandungmu semua cowok. Apa kamu mau kalo perasaan Mereka dipermainkan orang...?" tanya ibu serius.
" Bisa aja orang jadi nempuh jalan ga baik karna merasa cuma dimanfaatkan...," kata ayah, " Kamu sudah dewasa, harus bisa memilah yang terbaik untukmu.Jangan lupa minta petunjuk dan perlindungan sama Allah...," sambung ayah sambil mengelus kepala Indira dengan sayang.
Indira pun merenungi nasehat ayah dan ibunya. Langkahnya terhenti saat hendak masuk kamar.
" Mas...," Indira mendekati Amar.
" Hmmm...," sahut Amar.
" Menurut Lo gimana...?" tanya Indira malu-malu.
" Perasaan Lo sendiri gimana...?" tanya Amar balik.
" Gue bingung...," kata Indira lagi.
" Sholat istikhoroh, minta petunjuk sama Allah...," kata Amar sambil menarik rambut Indira.
" Iya ya...," Indira nyengir kuda sambil berlari kecil masuk kamar.
\=\=\=\=\=\=
Hari masih sangat pagi, saat Indira menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Indira segera mandi dan bersiap menunggu kedatangan Aris. Kedua adiknya tak ada yang berani mengganggunya, setelah diingatkan Amar malam sebelumnya.
Jam menunjukkan angka 8 pagi saat Aris tiba. Dengan memakai kemeja kotak-kotak biru, celana Jeans biru dan sepatu kets putih, Aris terlihat sedikit berbeda hari itu.
" Makasih Bu...," jawab Aris sopan.
" Mau berangkat jam berapa...?" tanya ayah Indira.
" Kalo Indira udah siap, Kami berangkat Pak...," jawab Aris lagi.
Indira keluar setelah beberapa menit Aris tiba. Ia mengenakan blouse tangan panjang motif bunga-bunga yang digulung hingga siku, celana Jeans hitam, sepatu pantofel dan tas mungil yang diselempangkan di bahunya. Terlihat santai namun tetap manis. Aris sedikit terpukau dengan penampilan Indira.
" Udah siap...?" tanya Aris sambil berdiri.
" Ya...," jawab Indira singkat.
Mereka berpamitan pada kedua orangtua Indira. Saat tiba di depan pintu, mereka berpapasan dengan Amar. Indira memperkenalkan Amar pada Aris.
" O iya Ris..., nih Abang Gue, Amar...," kata Indira.
" Kenalin Bang, Saya Aris temen Dira...," kata Aris sambil mengulurkan tangannya.
" Amar...," kata Amar singkat sambil membalas jabatan tangan Aris, "Jalan sekarang...?" tanya Amar.
" Iya Mas, Gue jalan sekarang ya...," pamit Indira.
" Ya udah, ati-ati. Jagain Adek Gue ya Ris...," pinta Amar.
__ADS_1
" Beres Bang...," jawab Aris santun.
Aris dan Indira melangkah meninggalkan rumah kediaman Indira.
" Sebenernya tadi Gue mau pake motor, tapi mandang Bokap Lo jadi Gue batalin,ga enak...," kata Aris santai.
" Apa hubungannya motor Lo sama Bokap Gue...?" tanya Indira tak mengerti.
" Gue harus kasih kesan pertama yang baik dong. Bawa Anak orang, masa ga dijagain. Kalo naik kendaraan umum kan lebih aman, secara banyak orang, jadi Gue ga mungkin ngapa-ngapain Lo, tapi kalo naek motor kan cuma Kita berdua...," jawaban Aris terputus.
" Jadi peluang bikin yang aneh-aneh lebih besar...," tebak Indira asal.
" Ha ha ha, tau aja Lo. Tambah pinter,jadi gemes Gue...," kata Aris lagi.
" Yang laen mana Ris...?" tanya Indira.
" Kita janjian ketemu di stasiun Kalibata...," jawab Aris.
" Emang lebih deket naik kereta...?" tanya Indira sambil memperbaiki letak tasnya.
" Iya..., yuk Kita naek angkot itu aja...," ajak Aris.
Aris dan Indira menaiki angkot jurusan Pasar Minggu yang melewati stasiun Kalibata.
Saat kaki Indira baru saja menyentuh aspal, terdengar suara teriakan memanggil namanya. Rupanya Maya dan Sofia sudah tiba di depan stasiun. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Lalu mereka berenam masuk ke dalam stasiun. Agak lama juga mereka menunggu kedatangan kereta komuter line jurusan Bogor.
Di dalam kereta, mereka berdiri berdesakan dengan penumpang lain. Masing-masing berhadapan dengan pasangannya. Dari sikap tiga orang pria itu, membuat Indira tak enak hati.
" Kok Gue baru ngeh ya...," bisik Indira.
" Ngeh apaan...?" tanya Sofia.
" Kita kaya lagi triple date gini sih...," kata Indira.
" Emang iya..., Lo baru nyadar. Kemana aja sih Lo Diraaa...," kata Maya gemas.
" Sssttt..., udah ih,berisik. Tuh liat cowok Lo ngantuk...," kata Indira mengalihkan perhatian Maya.
Maya dan Sofia kompak menoleh kearah Abeng,nampak Abeng yang mulai terkantuk-kantuk. Maya tersenyum melihatnya. Sementara Yogi asik ngobrol dengan Aris.
Tibalah mereka di stasiun Depok, mereka turun dengan tertib. Sambil menuju pintu keluar Yogi menggandeng tangan Sofia, sedangkan Abeng merangkul pundak Maya.
" Mau Gue gandeng juga...?" tanya Aris menggoda Indira.
" Ga perlu, Gue bisa jalan sendiri...!" sahut Indira ketus.
Aris tersenyum mendengar jawaban Indira. Dia makin kepincut dengan sikap Indira yang menurutnya sangat lucu. Aris berjalan di belakang Indira sambil mengawasi keadaan sekeliling.
bersambung
__ADS_1