Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 46 ( Siapkan Amunisi )


__ADS_3

Di dalam angkot menuju arah pulang, bu Ninik menjelaskan pada Indira dan Sofia.


" Yang tadi marah-marah tuh bukan Pak Fajar, tapi khodamnya. Emang kadang suka ikutan nimbrung kalo ada tamu...," kata bu Ninik.


" Ooo..., pantesan kaya agak beda sama Pak Fajar ya Bu...," kata Indira mengerti.


" Tapi yang diomongin khodamnya tadi ada benernya ga...?" tanya bu Ninik.


" Ehm..., iya bener Bu...," kata Sofia malu, " Tapi Saya ga bermaksud narik perhatian mahluk halus lho Bu...," kata Sofia lagi.


" Iyaa..., Saya percaya kok," kata bu Ninik tersenyum.


Tibalah mereka di rumah bu Ninik. Sofia dan Indira pamit langsung pulang kerumah Jayadi. Tapi belum jauh langkah Indira dari rumah bu Ninik, tiba-tiba anak bu Ninik memanggilnya.


" Kak..., Kak Diraaa...!" panggil Hasby anak bungsu bu Ninik.


" Eh iya, kenapa Hasby Sayang...?" tanya Indira sambil mengedipkan mata menjahili Hasby.


" Iiihhh..., ga lucu. Aku tuh cuma mau bilang ada telepon dari Jakarta buat Kak Dira...," kata Hasby cemberut.


" Buat Aku ada gaa...?" tanya Sofia ikut menggoda Hasby.


" Ga ada !. Ini buat Kak Dira...," jawab Hasby dengan pipi merah karena malu lalu berlalu.


Indira dan Sofia tertawa melihat tingkah Hasby. Mereka sering sekali mengganggu Hasby, karena Hasby sudah tau orang 'cantik' diusianya yang baru 8 tahun. Dan Hasby akan melihat malu-malu kearah Indira, Sofia ataupun Chika, jika kebetulan mereka tengah berkunjung ke rumah bu Ninik.


Mendengar berita yang disampaikan Hasby, mereka kembali ke rumah bu Ninik.


" Naaahh, ini Anaknya udah sampe Bu, monggo dilanjutin ya...," kata bu Ninik sambil memberikan gagang telepon kepada Indira.


" Assalamualaikum Bu...," kata Indira pelan.


" Wa alaikumsalam..., gimana kabarmu Nak...?. Perasaan Ibu dari semalam tuh ga tenang, mikirin Kamu terus..., Kamu baik-baik aja kan...?" tanya ibu Indira cemas.


Rupanya ikatan batin Indira dan ibunya begitu kuat. Saat perasaan ibu Indira tak tenang, sebenarnya sedang terjadi peristiwa yang hampir mengancam nyawa putri kesayangannya.


" Alhamdulillah Dira gapapa Bu...," kata Indira setenang mungkin.


" Jangan bohong ya, kalo ada apa-apa mendingan Kamu pulang aja ke Jakarta, ga usah kerja jauh-jauh kaya gini lagi Dirrr...," pinta ibu Indira hampir menangis.


" Iya Bu, Dira inget pesen Ibu. Tolong doain Dira juga ya Bu...," kata Indira lagi.


Perbincangan Indira dengan ibunya melalui telephon membuat rasa iri di hati Sofia. Ia memang tak memberi kabar sama sekali pada ibunya. Berbeda dengan Indira yang rutin mengabari keluarganya, meskipun lewat wartel. Bahkan Indira, dengan seijin bu Ninik, memberi nomor telephon rumah bu Ninik jika sewaktu-waktu diperlukan seperti saat ini.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Sore itu semua kembali berkumpul di rumah Jayadi. Mereka menuruti permintaan bu Ninik untuk tak lembur hari ini.


" Dira, tadi jadi ga diajak ke rumah Adiknya Bu Ninik...?" tanya Jayadi.


" Jadi Bang...," jawab Indira, " Ntar malem mau kesini, mau ngeliat katanya...," lanjut Indira.


Jayadi mengangguk mengerti. Tiba-tiba bu Ninik memanggil Jayadi dari luar rumah.


" Jay..., Jayadi. Ntar Kamu sama temenmu ke rumah Saya ya. Pak Fajar udah dateng, mau ngobrol sama Kamu dulu...," kata bu Ninik.


" Iya, Saya mandi dulu ya Bu. Ntar Saya kesana sama Dimas...," kata Jayadi.


Bu Ninik mengangguk dan segera masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang.


\=\=\=\=\=\=


Jayadi dan Dimas tampak serius mendengarkan penuturan pak Fajar. Walaupun mereka sudah lama berada di kota C, tapi mereka tak pernah mengalami kejadian aneh seperti yang dialami Sofia.


" Ayo, Saya mau lihat rumah tempat Sofia 'diserang' makhluk itu...," ajak pak Fajar.


" Lo di depan Jay...," kata Dimas.


Jayadi menunjukkan jalan ke rumah yang dimaksud pak Fajar. Dengan kunci rumah yang sudah dimintanya pada Indira tadi, Jayadi pun membuka pintu rumah.


Pintu terbuka perlahan dengan mengeluarkan suara derit khasnya. Tampak suasana yang lengang. Setelah mengucap salam, Dimas masuk dan menyalakan penerangan.


Pak Fajar menoleh kearah lorong tempat ruang makan, tampak senyum sinis di sudut bibirnya.


Pak Fajar diikuti Dimas dan Jayadi mulai mengelilingi rumah, mengecek tiap ruangan, hingga sampailah mereka di depan kamar terlarang. Pak Fajar lama menatap pintu kamar itu, seolah ingin menembus kamar dengan mata batinnya. Lalu mereka menuju kamar mandi, dimana ada sumur dan wc juga di sana.


" Baru pertama kali gue masuk sampe sini...," kata Dimas bermonolog dalam hati.


" G*la nih cewek-cewek, berani tinggal disini, nekat juga...," kata Jayadi takjub.


" Itu bukan asli kehendak Mereka. Mereka seperti diarahkan atau ditarik untuk mau tinggal di tempat ini. Jadi kejanggalan yang Kita lihat, Mereka tuh ga lihat ...," kata pak Fajar panjang lebar.


" Siapa yang nemuin tempat ini sih Jay...?" tanya Dimas penasaran.


" Ga tau, Mereka lapor sama Gue udah dapet rumah ini, udah ngeliat-ngeliat juga sebelom bilang sama Gue...," kata Jayadi tak mau disalahkan.


" Mereka diincar sejak pertama kali datang kesini untuk melihat-lihat...," kata pak Fajar saat telah keluar dari rumah itu.

__ADS_1


" Mereka bertiga lho Pak, tapi kok cuma dua yang diincar, yang satu lolos gitu aja, aneh...," kata Jayadi menambahkan sambil mengikuti pak Fajar yang berjalan kearah rumahnya.


" Biasanya tumbal yang dicari adalah gadis perawan...," kata pak Fajar sambil memalingkan muka.


Jayadi dan Dimas saling menatap. Mereka seolah paham sesuatu.


" Jadi Chika...," ucapan Dimas terputus saat pak Fajar menganggukkan kepalanya.


" Jangan sebarkan aib ini, kasian. Kita ga tau kenapa dia bisa kehilangan keperawanannya. Kalo ada yang tanya, bilang aja karena Sofia dan Indira lebih lama tinggal di kampung ini...," pesan pak Fajar.


Tibalah mereka di depan rumah Jayadi. Setelah mempersilakan pak Fajar masuk, Jayadi memanggil semua temannya.


" Ini teman-teman Saya Pak, Kami tinggal bareng di sini, nah yang cewek tidur di sini...," kata Jayadi sambil menunjuk kamar depan yang kembali ditempati Indira dan kedua temannya.


Pak Fajar mengangguk-angguk sambil bersalaman dengan teman-teman Jayadi.


Semua duduk mengelilingi pak Fajar dan mendengar dengan serius ucapan beliau.


" Nanti malam adalah saat penjemputan tumbal...," kata pak Fajar menghela nafas sebelum melanjutkan.


Ketegangan terasa di ruang tamu itu. Sofia gemetar ketakutan di samping Indira. Ari yang melihatnya mencoba menenangkannya dengan merangkul bahunya.


" Jadi Saya minta, mulai jam 11 malam jangan ada yang tidur walau sangat ngantuk dan ingin tidur, terutama Indira dan Sofia. Nanti yang lain bisa bantu dengan sholat, doa, dzikir dan baca Al Qur'an...," kata pak Fajar.


Semua mengangguk tanpa suara.


" Jangan keluar rumah, jangan buka pintu walau ada yang mengetuk, jangan berjudi, mabuk atau apapun yang buruk. Kalian laki-laki biasa mengisi waktu luang dengan hal yang Saya sebutkan tadi kan...?" kata pak Fajar menyindir mereka.


Mereka cuma terdiam malu karena ketahuan.


" Saya akan melakukan ritual di rumah Bu Ninik, sampe Saya datang jangan ada yang buka pintu...," pesan pak Fajar.


" Maaf Pak..., itu mulai jam berapa ya?. Kita kan belom makan malem, ntar kalo laper gimana...?" tanya Ari.


" Mulai jam 9 malam Kalian kunci pintu. Kalo bisa makan sebelum jam 9, biar Kalian ga usah keluar, atau siapkan makanan ringan supaya tetap aman...," saran pak Fajar.


Setelah memberitahu apa yang harus mereka lakukan, pak Fajar pun pamit untuk bersiap di rumah bu Ninik.


" Deg degan Gue..., kaya waktu mau tawuran pas sekolah dulu...," ucap Gunawan.


" Tapi yang ini mah jauh lebih menegangkan kampret...," kata Dimas sambil melempar bungkus kopi.


" Iyya..., kan Gue belom selesai ngomong kadal...," kata Gunawan balas melempar bungkus rokok.

__ADS_1


Tawa pun merebak sejenak akibat ulah Dimas dan Gunawan. Tapi cukup lumayan untuk menghilangkan ketegangan yang terjadi. Semua pun mulai bersiap-siap sesuai kemampuan masing-masing.


bersambung


__ADS_2