Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 33 ( Diangkat )


__ADS_3

Indira tetap menyimpan rapat kejadian malam itu. Beruntungnya Jono bukan orang yang 'ember' sehingga Indira tak perlu menjelaskan apapun pada teman-temannya.


Kedekatan Indira dan kedua temannya dengan orang penting di perusahaan tetap menjadi perhatian. Hingga suatu hari Indira dipanggil ke ruang Personalia.


" Dir..., Lo dipanggil ke ruang Personalia sekarang...," kata Asman.


" Ada apaan ya Mas...?" tanya Indira kawatir.


" Ga tau Gue, tadi Gue denger Lo dicariin sama kepala Personalia. Lo belom pernah ketemu kan...?" tanya Asman sambil memeriksa catatannya.


" Belom, tapi kenapa ya...," Indira bingung sendiri.


Didampingi Asman, Indira menuju ruangan Personalia. Setelah mengetuk pintu, Indira pun masuk ke dalam ruangan ( setelah sebelumnya ada suara yang menyuruhnya masuk ).


" Selamat pagi Pak...," sapa Indira sopan.


" Pagi..., Kamu yang namanya Indira...?" tanya kepala Personalia.


" Ya bener, Pak...," sahut Indira tegas.


Kepala Personalia tersenyum ramah, ia lalu mempersilakan Indira duduk.


" Saya baca CV kamu, di sini tertulis Kamu lulusan STM jurusan Bangunan ya. Itu artinya Kamu ngerti kayu dong...?" tanya kepala Personalia.


" Iya Pak, tapi Saya cuma ngerti sedikit Pak...," jawab Indira.


" Gapapa, Kamu bisa belajar lagi sambil jalan nanti. Yang penting basicnya Kamu udah ngerti...," kata kepala Personalia.


Indira mengangguk saja, ia tak mengerti maksud pembicaraan itu.


" Nah Kamu sekarang ga usah ngamplas lagi. Mulai sekarang, Kamu jadi Supervisor. Tugas Kamu menyeleksi kelaikan bahan siap rakit. Bisa survey dulu di pabrik 2. Jika ada yang kurang jelas, nanti boleh tanya langsung sama Pak Jayadi...," kata kepala Personalia ramah sambil menjabat tangan Indira memberi selamat.


Indira mengerutkan dahinya, bingung. Lalu Indira melangkah keluar dari ruang Personalia. Tampak di luar ruangan Jayadi cs sedang menunggunya. Mereka tampak sedang tertawa-tawa. Lalu mereka menoleh kearah Indira dan tersenyum puas.


" Salut Gue sama Lo, belom sebulan kerja aja udah langsung diangkat jadi Supervisor...," kata Jayadi sambil menepuk pundak Indira dengan bangga.


" Selamat ya Dir...," kata Dimas, Totok dan Asman bersamaan sambil bergantian menjabat tangan Indira.


" Ni baru Adik Gue...," kata Ari senang.


" Hebat Dir..., ga nyangka bisa cepet sampe di titik ini. Ga semua orang bisa dapet kesempatan kaya gini lho Dir...," kata Gunawan sambil menggenggam tangan Indira.


" Ehm... ehm, liat tempat dong Wan...," sindir Asman.


Gunawan segera melepaskan genggaman tangannya. Sementara Indira yang masih takjub, tak menyadari sikap Gunawan padanya. Mereka lalu memisahkan diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Jayadi dan Indira mulai melangkah kearah pabrik.


" Terus tugas Saya apa Bang Jay, tadi kalo ga jelas disuruh tanya ke Bang Jay...," kata Indira.


" Tugas Lo ngawasin pekerjaan orang-orang di pabrik, mulai dari penghalusan sampe pewarnaan. Termasuk ngecek kesiapan kayu yang mau dirakit. Kayu yang mau dirakit harus mulus tanpa cacat, seperti goresan ,lobang, mata kayu yang mengganggu, kayu pecah, bergelombang, juga pernisan yang ga rata. Nah..., Lo bisa tegor mereka kalo kerjaan tadi ada yang ga beres. Karna Lo yang tanggung jawab buat lanjut ke proses berikutnya...," kata Jayadi panjang lebar.

__ADS_1


Jayadi melanjutkan, "Jadi barang yang masuk ke bagian perakitan harus lewatin Lo dulu, dapet acc dari Lo juga, baru tuh kayu-kayu bisa lanjut proses perakitan...," sambung Jayadi.


Indira mengangguk mengerti. Sofia dan Maya nampak memperhatikan dari kejauhan.


Lalu Jayadi memanggil seorang Supervisor senior dan mengenalkan dengan Indira. Namanya Sunyoto, berbadan agak gempal, kulit gelap, berasal dari Gombong, Jawa Tengah. Sikapnya terlihat tak bersahabat.


Saat sedang berbincang dengan Jayadi dan Sunyoto, terdengar suara bel tanda istirahat. Jayadi memutuskan menyambung pembicaraan nanti seusai jam istirahat.


" Diraaa, Lo gapapa kan...? tanya Maya dan Sofia beraamaan.Terlihat kecemasan di wajah keduanya.


" Gue gapapa, Gue cuma...," Indira memotong ucapannya.


" Cuma apa...?" tanya Sofia tak sabar.


" Cuma diangkat jadi Supervisor. Ayo Kita makan bareng buat ngerayain...," kata Jayadi menyela ucapan Sofia.


" Bersyukur, lebih tepatnya...," kata Dimas sambil mengikat rambut gondrongnya.


" Wahhh selamat yaa...," kata Maya dan Sofia senang sambil memeluk Indira erat.


Sambil ngobrol dengan riang, Jayadi cs dan tiga sekawan itu menuju warung makan langganan mereka. Diselingi candaan diantara mereka, membuat siapa pun yang melihat kebersamaan mereka tahu jika mereka tengah bahagia.


\=\=\=\=\=\=


Rupanya pembicaraan Indira dan teman-temannya didengar oleh salah seorang 'biang gosip' di pabrik itu. Dalam sekejap beredar berita tentang pengangkatan Indira menjadi supervisor.


Seperti teman sedivisi Indira sebelumnya, Mimin dan Karin. Keduanya jelas memperlihatkan rasa tak suka sejak awal Indira dan ketiga temannya bekerja di pabrik itu.


Apalagi mendengar 'pengangkatan' Indira, yang menurut mereka tak lazim.


Menurut Mimin dan Karin, mereka lah yang seharusnya diangkat menjadi supervisor. Karena selain mereka sudah lama bekerja disana (sejak awal pabrik berdiri), mereka juga sangat menguasai pekerjaan mereka. Tak jarang mereka ditunjuk oleh mandor untuk mengajari karyawan baru.


Sayangnya kepiawaian mereka membuat Mimin dan Karin sedikit angkuh. Ini juga yang membuat mereka dijauhi dan tak punya banyak teman. Mereka bersikap seolah-olah mereka menguasai 'isi' pabrik. Mereka berdua mengenal semua security hingga semua staf kantor. Tak jarang mereka berdua terlibat obrolan seru dengan staf kantor, yang mana membuat karyawan lain 'angkat topi' untuk Mimin dan Karin.


Meskipun Mimin dan Karin lulusan SMA, tapi nilai akademik mereka ternyata ada di bawah rata-rata. Di pabrik tempat mereka bekerja, kebanyakan wanita yang menjadi karyawan di sana hanya lulusan SMP. Mungkin hal ini juga menjadi salah satu penyebab Mimin dan Karin lupa diri, karena merasa lebih unggul dari yang lain.


Ketika mendengar berita yang menghebohkan tentang Indira, mereka sontak terkejut. Mereka saling berpandangan seolah tak terima.


Saat itu mereka sedang makan siang di pos security yang merupakan tempat 'exklusif' mereka.


" Wahh hebat tuh karyawan baru dari Jakarta, baru sebentar udah bisa jadi Supervisor...," kata Omang security yang bertugas saat itu.


" Iya, salut deh. Pasti orangnya pinter tuh...," sahut Mono security lainnya.


" Ya iyalah..., Personalia ga bakal asal ngangkat orang sembarangan, bisa ancur nih pabrik, ha ha ha...," kata Omang lagi.


" Siapa namanya Mang...?" tanya Mono di sela tawanya.


" Si Indira kalo ga salah...," jawab Omang.

__ADS_1


Mimin dan Karin yang ada di dalam pos itu hanya terdiam membisu. Dengan nafas memburu menahan marah, mereka segera menyudahi makan siang mereka. Setelah pamit pada security yang berjaga di pos, mereka berjalan cepat menuju bagian dalam pabrik.


" Kok bisa sih Min, Aku ga percaya...," kata Karin sambil mengekori Mimin.


" Aku juga ga percaya. Heran, pake ilmu apa sih dia, kok bisa diangkat cepet...?" tanya Mimin penasaran.


" Iya ya. Waktu dateng pertama kali Aku udah ngeliat ada yang ga beres sama Anak Jakarta itu, Mereka berempat kok bisa kenal sama kelompok 'orang penting' sih?. Terus sikap Mereka yang sok baik sama semua orang bikin Aku sebel banget...," kata Karin.


Karin terus nyerocos, Mimin yang jalan di sampingnya juga terlihat berpikir.


" Jangan-jangan Mereka melakukan sesuatu...," kata Mimin.


" Ya pasti lah..., Cih, si Indira itu diangkat juga karna kenal sama orang dalem. Mana mungkin bisa tiba-tiba naek kaya gitu. Kita aja yang udah lama di sini belom diangkat...," gerutu Karin.


" Iya, kalo ga maen kotor mana mungkin bisa kaya gitu...," cibir Mimin sebal sambil melangkah masuk ke dalam pabrik.


Mimin dan Karin terus berkutat dengan rasa suudzon mereka terhadap Indira. Sikap mereka yang semula memang tak suka pada Indira dan kedua temannya, makin bertambah.


Tapi Indira dan kedua temannya tak mempedulikannya.


Keramahan Indira, Sofia dan Maya, membuat mereka dengan cepat mendapat tempat di hati para karyawan pabrik.


Sapaan hangat selalu terdengar saat tiga sekawan itu melintas. Semula para karyawan pabrik menduga jika tiga sekawan itu adalah orang yang sombong, apalagi mereka bertiga berasal dari Jakarta. Tapi dugaan buruk pun luntur saat mendapati senyum tulus Indira dan teman-temannya.


Tak heran jika berita pengangkatan Indira membuat para karyawan pabrik ikut senang dan memberi selamat pada Indira.


" Selamat ya Indira..., Kamu memang pantas 'naek pangkat' lho...," kata seorang karyawati sambil menjabat tangan Indira.


" Kamu kan orang baik, ga sombong, pinter lagi, jadi wajar lah kantor milih Kamu. Ga kaya orang yang itu tuh...," kata karyawan lainnya.


" Iya Dira, kita dukung Kamu kok...,"


" Kalo ada yang jahatin Kamu, bilang sama kita yaa...,"


" Tenang aja Dira, ga bakal berani 'dia' lawan kita, kalah jumlah...,"


" Malu lah dia, udah ngerasa jadi Bos eh malah ga jadi Bos...,"


" Semangat ya Diraaa...,"


Ucap karyawan-karyawati yang mengerumuni Indira saling bersahutan.


Indira terharu dengan perhatian teman-temannya.


" Makasih ya semua...," kata Indira sambil tersenyum tulus.


Senyum tulus juga tampak di bibir Sofia dan Maya mendengar dukungan teman-teman mereka untuk Indira.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2