
Amanda membawa kotak beludru itu mendekati ranjang dan mulai duduk disana. gadis itu lalu membuka perlahan kotak yang tampak familiar itu dan segera membukanya.
Dan...
Mata Amanda terbuka lebar ketika mendapati sebuah kalung dan cincin yang berukiran..
AA...
Amanda seketika melemparkan kotak itu ke lantai bersamaan dengan kalung dan cincin yang sama persis dengan miliknya yang pernah di berikan oleh Aksa, mendiang suaminya.
Amanda bergegas bangkit dari ranjang dan mengambil kalung dan cincin yang sama persis yang di berikan Aksa kepadanya dulu yang masih dia simpan rapi di dalam laci meja riasnya dan membanya dekat di depan matanya.
Airmata Amanda mengalir deras ketika dia menyadari kalau cincin dan kalung itu sama persis dengan yang di berikan Aksa kepadanya dulu.
Apa maksud semua ini mengapa ia di kirimkan sesuatu yang ada hubungannya dengan masa lalunya.
Amanda menggeleng..apakah semua ini ulah ibu Aksa karna dendamnya, tapi dari mana dia tau rumah ini, kalau Aron itu tak mungkin bukan karna Arron sedang berada di dalam penjara.
Lalu siapa yang melakukan semua ini...?
***********
Amanda merasa suntuk berada di rumah, dia meninggalkan segala persiapan yang sedang di lakukan keluarganya, sejak kiriman paket yang tidak jelas itu membuat Amanda cukup stres hingga dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya karna itu ia harus keluar..
Ketika mobil Amanda menjauh, Zayden baru saja keluar dari ruang tamu bersama Mattew, mata tajamnya menangkap Amanda yang pergi menjauhi rumah,
''Sejauh ini semua persiapan sudah selesai Zayden..aku sudah mengurus segalanya hingga pesta besok akan menjadi sempurna.''ucap Mattew tersenyum.
''Aku sangat lega Mattew, dan merasa sedikit gugup sekarang.
''Aku mengerti...setiap pengantin merasakannya.''
Zayden mengangguk.
''Aku lebih seperti cemas, kau tau aku pernah gagal menikah sebelumnya.''
Mattew tentu tau, pria itu menepuk bahu calon adik iparnya untuk menenangkan.
''Jangan sedih atau merasakan trauma Zayden..kau akan menikahi adikku, tak akan menjadi masalah karna adikku benar-benar sangat baik dalam menjaga dirinya dan aku yakin kau tak akan kecewa nanti.'
Zayden mengangguk sembari melirik jam di tangannya, sudah 10 menit Amanda pergi dan dia harus segera menyusul Amanda sekarang atau ia tak akan pernah menemukan Amanda.
''Aku tau karna itu aku ingin pernikahan ini di lakukan dengan cepat Mattew...karna aku tak ingin kehilangan adikkmu.''
''Bagus, dia seorang gadis penakluk.'
__ADS_1
''Aku sudah merasakannya.''canda Zayden tersenyum.
''Baiklah Zayden aku harus melihat putraku di taman belakang.''
''Baik..aku juga akan ke suatu tempat, sampai jumpa Mattew.''
''Yah..sampai jumpa.''
Zayden pun seketika meluncur ke arah mobilnya dan segera menghidupkan gps untuk melacak keberadaan Amanda saat ini dan ia menangkap sosok Amanda sudah berada di sebuah lokasi tebing tinggi di depan sebuah lautan luas.
Untuk apa Amanda kesana, jangan-jangan.!
Zayden segera menghidupkan mesin mobil dan melaju kencang menuju lokasi yang di maksud..hatinya berdebar cemas ketika membayangkan kalau Amanda mungkin akan berbuat nekat,
Oh...Amanda, jangan melakukan hal yang bodoh.''gerutu Zayden semakin khawatir.
***************
Sementara Amanda duduk di atas mobil sambil memandang ke arah jurang lautan di depannya, airmatanya menets sekali lagi. hatinya sakit sekali dan menjadi stres..siapa yang meneror dirinya dengan pemberian yang sama seperti Aksa berikan padanya.
Besok adalah hari pernikahannya jadi Amanda sangat takut dengan apa yang akan terjadi. Ia memejamkan matanya menikmati semilir angin malam yang menerpa kulitnya.
Biasanya dia takut berada di dalam kegelapan yang tentu menakutkan untuk dirinya..namun malam ini yang ada hanya rasa hampa.
''Aksa...apakah kau mendengarku, mengapa seperti ini, mengapa rasanya ini tak bisa adil untukku...apakah ibumu benar-benar sebenci itu padaku, kalau bukan dia yang meneror lalu siapa.''
Amanda tak beranjak dari sana, ketika di saat yang sama ponsel miliknya berdering cukup kencang dan memecah konsentrasinya, gadis itu menoleh dan menemukan sebuah panggilan dari nomor tidak di kenal masuk.
''Siapa yang menelfon.'' gumam Amanda penasaran.
Ketika dia mengangkatnya hanya ada suara keheningan yang cukup membuatnya beku.
''Istriku...........''
Tepat di saat yang sama.
Mobil berhenti dan sosok Zayden keluar dari sana dan mendekatinya.
''Amanda.''
Amanda membeku, menyadari ada telp misterius dan kedatangan Zayden yang tiba-tiba.
Amanda tidak fokus mendengar, ia langsung menurunkan ponselnya ketika melihat Zayden datang.
''Zayden, mengapa kau kemari hon,....mengapa kau mengikutiku.''desah Amanda memalingkan wajah, dia melupakan ponselnya yang masih menyala dan menyimpannya di dalam tasnya. dan tidak tau kalau seseorang itu mendengarkannya dari jauh, tanpa suara.
__ADS_1
''Apa yang kau lakukan disini Amanda.''
Amanda berdehem sembari memutar pandangan di sekelilingnya, ia menjadi heran tadi semua pemandangan disini terlihat indah namun mengapa kini terlihat menyeramkan.
segera, Amanda melompat turun dari atas mobil dan mengambil tasnya ia hendak melangkah namun, Zayden menekan tubuhnya di pintu mobil hingga Amanda tidak bisa bergerak sedikitpun, mereka saling menatap.
''Apa kau mau bunuh diri di tempat ini untuk menghindari pernikahan.''
''Apa...''
''Aku bisa melihat kenekatanmu Amanda, apakah aku seburuk itu untukmu.''
''Zayden ada apa denganmu.''
Pria itu mendekatkan wajahnya dengan gusar,..
''Aku tak akan pernah membiarkan rencanaku gagal seperti dulu Amanda jadi yah...aku tak akan pernah melepaskanmu sendiri..''
''Aku tidak mengerti apa yang kau maksud..aku tidak ingin...''
''Diam....sekarang ikut aku pulang besok pagi kita menikah jadi jangan pernah melakukan apapun untuk menghancurkan nama baik keluarga kita..''
Zayden tidak membiarkan Amanda menjawab atau sekedar menjelaskan, pria itu segera memasukan Amanda ke dalam mobilnya dan meninggalkan tebing tinggi itu, dan menuju Hotel yang akan menjadi lokasi pernikahan mereka besok.
Amanda hanya pasrah karna Zayden terlihat marah. tak butuh waktu lama, mereka sampai menuju Hotel.
beberapa anak buah segera mengarahkan keduanya pada lantai atas, para petugas sudah siap mengawal acara besok. Langkah kaki Zayden terarah pada sebuah kamar yang memang di khususkan untuk malam pertama mereka nanti, dia membuka pintu dan menarik Amanda masuk ke dalam kamar.
''Ada apa denganmu Zayden, tanganku sakit.''
''Katakan padaku apa yang kau lakukan disana Amanda.''
''Aku hanya menikmati waktu sendiri.''
Amanda sampai lupa kalau dia belum menyimpan kalung dan cincin pemberian Aksa dulu ke dalam tasnya, namun tindakannya membuat Zayden terbakar amarah, dia merebut kalung dan cincin pemberian Amanda, dan ketika di lihatnya ada ukiran nama Aksa dan Amanda.
''Apa ini, katakan padaku Amanda, mengapa kau masih menyimpan semua ini...disaat kita akan menikah.''
Amanda berdekap.
''Cukup Zayden itu hanya sebuah kenangan.''
''Kenangan!!, kita akan menikah namun kau masih menyimpan kenangan masa lalu, kau benar-benar menguji kesabaranku Amanda.''
Zayden melepaskan jas berikut dasinya lalu mendekati Amanda yang tersudut.
__ADS_1
''Apa yang akan kau lakukan Zayden.'' jerit Amanda cemas.