
Beberapa hari ini Amanda mulai merasa tubuhnya lebih berat dari sebelumnya, meski begitu dia tidak merasa pusing sama sekali hanya saja Amanda berubah jadi malas, dan cepat lelah.
Nala sudah tinggal dirumah bersamanya dan Zayden, mereka juga satu kampus alasan Zayden adalah dia ingin agar Nala menjadi mata-matanya selama di kampus karna Zayden teramat cemburu dan tidak tenang ketika Amanda jauh darinya, seperti hari ini, Amanda dengan jadwal kuliah pagi namun dia terlihat sangat malas, apalagi semalam Zayden kembali berhasil menggodanya dalam percintaan.
Mereka duduk bersama di meja makan untuk sarapan, karna Amanda dan Nala kuliah di pagi hari, jadi rencananya mereka akan berangkat bersama Zayden.
''Makanlah Amanda, ada apa mengapa kau hanya menatap makananmu tanpa ingin makan.''tanya Zayden khawatir.
Mungkin saja benar kalau Amanda telah hamil anaknya, pria itu sedikit tersenyum sementara Amanda menatap malas, dia tak ingin semua yang ada disini.
''Bibi...makanlah sedikit..setelah itu kita akan cari makan di luar bagaimana.''tawar Nala berbunga-bunga.
Amanda sontak tertawa geli mendengar panggilan bibi kepadanya, dia tertawa sampai airmatanya keluar, sementara Zayden hanya tersipu pria itu memijit pelipisnya dengan lucu.
''Ayolah...jangan tertawa, aku sedang serius.'' Nala mengulum senyum.
Amanda menoleh pada Zayden sembari terus tertawa,
''Aku mohon padamu sayang, jangan membiarkan Nala memanggilku bibi aku merasa sangat lucu.''
Mereka semua akhirnya tertawa di meja makan, bahkan Nala masih lebih tua setahun dari Amanda, jadi panggilan itu cukup menggelikan.
Zayden mengangguk patuh, dia mulai mempertimbangkan semua yang di inginkan Amanda,
''Baiklah, kau tidak akan kehilangan rasa hormatku pada paman jika kau memanggilnya dengan Amanda saja sampai dia nyaman, Nala..mengertilah.''pinta Zayden dengan nada lembut.
Nala akhirnya mengangguk patuh, dia menatap Amanda dengan senyuman cerah, Amanda memang licik.
''Baiklah Amanda, apa panggilan itu membuatmu senang.''
Amanda mengangguk..
''Itu lebih baik.'' balas Amanda mengedipkan matanya.
''Jadi kau tidak suka makanannya, ada yang kau inginkan hari ini.'' tanya Zayden dengan wajah serius.
Amanda menatap Zayden sambil menggosok kedua tangannya agar hangat, ia mengigit sedikit bibirnya dan membuat Zayden dan Nala saling menatap bingung,
''Apa yang kau inginkan Amanda.''
''Aku ingin.......''
*******
Zayden hanya mampu menghela nafas, hari ini dia tidak masuk kerja karna permintaan Amanda yang ingin makan buah-buahan segar di atas badan mobil, bukan mobilnya yang menjadi kendala tapi Amanda ingin menikmati makan buah di daerah pegunungan yang tinggi.
Di belakang mereka ada banyak anak buah yang berjaga hingga Zayden berkonsentrasi menjaga istrinya.
__ADS_1
''Kalian liat View disini indah sekali bukan, Nala jika Dava datang ke kota ini kau harus membawanya kemari.''bisik Amanda sambil makan buah.
Nala hanya menggeleng,
''Aku tak punya harapan dengannya...Amanda.''ucap Nala dengan wajah serius.
''Jangan begitu...dia pria baik.'' balas Amanda membujuk.
Sementara Zayden mulai tak tahan mendengar cerita para wanita muda ini, mereka bahkan membicarakan pria yang tak ada di kota ini.
''Kau harus mengerti dia, jangan sampai kau menyesal Nala.''
''Aku tidak akan menyesal kalau itu tentangnya.''
''Bisakah kalian tidak membicarakan pria lain di belakangku.''suara Zayden meninggi di tengah tebing yang sejuk itu.
Hingga Amanda dan Nala sontak diam, mereka lalu memutuskan memandang keindahan alam di sekitarnya tanpa membicarakan siapapun yang akan membuat Zayden murka.
Amanda menghela nafas..aaah segar sekali damainnya hidup disini.
***********
Aksa duduk di dalam mobil gelapnya sejak pagi hari di depan kampus Amanda, pria itu memutuskan hari ini dia tak akan pernah melakukan apapun dan hanya menunggu Amanda disini, dia tak ingin menunggu lama karna hatinya sudah terlalu rindu pada Amanda, karna itu Aksa sudah mengambil resiko untuk merebut Amanda dengan paksa dari tangan Zayden meski dia tau sedikit berat menghadapi keturunan Mafia itu.
Tak berapa lama kemudian,
Aksa membeku ketika melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kampus, bagian kiri pintu mobil terbuka dan menampilkan sosok Amanda keluar dari sana dengan anggun, lalu di ikuti seorang gadis di belakangnya juga terakhir muncul adalah seorang Zayden Steward yang terkenal kejam itu dialah putra pertama seorang Alex Steward.
****
Zayden menyentuh dahi Amanda yang sedikit berkeringat, lalu menarik Amanda ke dalam pelukannya,
''Jika terjadi sesuatu kau harus menelfonku, aku akan datang menjemputmu.''bisik Zayden mengecup pipi Amanda.
Wanita muda itu mengangguk, entah mengapa punggung Zayden terasa nyaman kali ini, biasanya tidak.. Hingga Amanda rela sedikit lama demi menikmati pelukan Zayden yang mulai membuatnya candu,
''Baiklah..jangan khawatir, aku tidak apa-apa.''bisik Amanda ketika pria itu melepaskan pelukannya namun masih menyentuh wajah Amanda.
''Paman tenang saja, aku akan menjaga Amanda baik-baik dan aku juga akan menelfon kalau Amanda tidak tahan.''
''Baiklah Nala, aku harap dia baik-baik saja.''balas Zayden penuh harap.
Zayden kembali mengecup kening Amanda, ketika terdengar suara di belakang mereka.
''Amanda.''
Amanda seketika membeku mendengar panggilan yang merupakan suara dari Aksa,jantungnya berdegup kencang dia mulai gelisah ketika suara itu mendekat tanpa rasa takut, apakah Aksa mau mati hah...?
__ADS_1
Mendengar nama istrinya di panggil oleh seorang pria, Zayden menoleh seketika itu juga dan langsung mengerutkan keningnya, apakah dia Arron tapi jika Arron mengapa Arron tidak menunjukan ekspresi apapun ketika mereka bertemu.
Mereka adalah kembar itu artinya di hadapannya adalah..
Aksa..?
Zayden mengeraskan wajahnya dia mulai waspada, sementara Aksa tampak sangat nekat ketika mendekati Amanda tanpa rasa takut.
''Siapa kau.''teriak Zayden mendekati Aksa, hingga mereka berdua berdiri saling menatap tajam.
Amanda terlihat syok dan langsung di peluk oleh Nala untuk membawanya duduk di sekitar kampus itu,
''Apakah itu Arron.''bisik Nala seperti melihat hantu sementara memegangi Amanda yang juga terlihat syok..
''Nala dia adalah..''
''Aksa, dia saudara kembar Arron.'' jawab Amanda memberi penjelasan pada Nala.
''Apa...'' desah Nala dengan bergidik ngeri, wajah mereka sama tapi tatapan mereka beda, Aksa terlihat begitu dingin.
Zayden punya tubuh yang jauh lebih tinggi dari Aksa, pria itu mendekati Aksa dengan kepalan di tangannya yang sudah siap memukul sampai mereka berhenti untuk saling menatap tajam.
''Siapa kau.''tanya Zayden dengan tatapan menilai.
Aksa tersenyum dingin, melirik Amanda yang berdiri dengan wajah yang pucat.
''Aku adalah Aksa, aku adalah suami Amanda.'' desis Aksa tanpa takut.
Zayden tertawa kesal..sesaat kemudian,
Bughhh...
Dalam sekejap Zayden memukul dan menendang Aksa hingga pria itu jatuh terkapar di aspal,
''Aarrrgghhjh...''Aksa merintih.
Namun dia terkejut ketika Zayden menarik ttubuhnya untuk berdiri tegak di hadapan Zayden yang terlihat murka.
''Katakan sekali lagi dan aku akan memotong lidahmu Aksana.''desis Zayden mengambil pistol di dalam saku jasnnya dan menempelkannya di pelipis Aksa.
Namun melihat hal itu membuat Amanda menjerit..
''Zayden aku mohon jangan...berhenti.'' jerit Amanda histeris.
Zayden dan Aksa sama-sama menoleh dan membeku ketika melihat darah kental mengalir dari balik dres Amanda.
Zayden dan Aksa seketika berteriak.
__ADS_1
''Amanda..''