
Arron segera menarik Nala masuk ke dalam apartement dan menutup pintu lalu membawa gadis itu masuk ke dalam ruangan,
Nala membeku ketika keduanya berdiri saling menatap tajam, Arron menatap Nala dengan sinar mata membara, gadis cantik yang putus asa itulah yang tergambar jelas di mata Nala saat ini dan membuat Arron cukup puas.
''Apa yang terjadi Nala..dari mana kau Nala apa semua baik-baik saja.'' Arron cukup terkejut karna tubuh Nala bahkan bergetar di dalam rengkuhannya.
''Aku tidak baik-baik saja Arron..'tatap Nala hampir menangis.
Nala sudah tidak tahan dengan keadaan dirumah bagaimana sang Mommy mulai memaksakan kehendak di tambah lagi Dava yang mulai posesif, Nala tak ingin menikah dengan Dava dia sudah yakin hatinya sekarang jadi Nala tak ingin apapun itu terjadi di dalam kehidupannya ini merusak dirinya sendiri.. Dia ingin mengambil keputusan sendiri dan bersama Arron adalah keputusan yang tepat, dia mencintai Arron.
Mereka kembali saling menatap panjang dan Arron hanya mengangguk seolah mengerti isi hari Nala, ia pun mengangguk patuh..
''Duduklah dulu.''
''Yah..terimakasih.'' jawab Nala segera mengambil tempat duduk di sofa ruangan ini dan sedikit mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan apartement yang mewah milik Arron.
Nala duduk sedangkan Arron melangkah menuju kulkas dan mengambil minuman dan menuangkannya di dalam gelas, sambil menatap Nala yang duduk membelakanginya, pria itu lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya dan mencampurkannya di dalam minuman Nala, terlihat sangat segar dan tidak berasa minuman ini akan benar-benar nikmat.
Arron lalu membawa minuman itu untuk di berikan pada Nala,
''Minumlah..cuaca di luar sangat panas, aku yakin hatimu juga.'' suara Arron terdengar menenangkan dan itu cukup membuat Nala tersenyum lega.
Nala mengangguk penuh airmata, dia langsung meneguk minuman itu sampai habis dan menatap Arron yang terlihat berbeda, dia jelas Arron namun tatapannya berbeda entah mengapa.
''Jadi katakan padaku sayang apa yang terjadi.''
''Arron....apa kau benar-benar serius dengan mengatakan kau jatuh cinta padaku Arron.''
Pria itu terdiam sebentar, sambil mengamati Nala lekat, menatap Nala yang terlihat terguncang.
''Aku tak pernah berbohong pada siapapun apalagi padamu sayang.''
Hening..
''Mommy akan menikahkan aku segera dengan kekasihku Dava.''
''Dava...yah..aku ingat pria itu.''
''Yah..dia adalah pria yang kau liat di kampus kemarin Arron.''
Arron menyandarkan tubuhnya sofa seraya berpikir sementara Nala semakin tersiksa sendiri dia harus mencari jalan keluar.
''Apakah kau sudah memilih siapa yang ada di hatimu Nala.''
''Aku memilihmu itu sebabnya aku datang kepadamu Arron.''
''Bagus, aku senang kau menentukan pilihan karna aku menyukaimu Nala.''
Nala menoleh mencoba melihat kesungguhan Arron sekali lagi dan syukurlah ia masih melihat ketulusan di wajah Arron. Sementara itu Arron mendekat sembari menyentuh jemari Nala dan menggenggamnya dengan erat pria itu memutus jarak di antara mereka, hingga keduanya saling memandang.
''Entah aku harus senang atau sedih Nala, aku tidak tau.''
''Apa maksudmu Arron.''
Arron semakin mendekat kali ini benar-benar dekat, mereka kembali lagi saling memenjara dengan tatapan mata.
''Sayang...aku sedih karna kau bertengkar dengan orang tuamu, kau menolak pernikahan namun aku bahagia ketika kau akhirnya memilihku.''desah Arron mengecup punggung tangan Nala dengan sangat lembut.
''Ahh....yaah...aku merasa tenang bicara denganmu Arron.''
Nala melepaskan genggaman tangan mereka dan mencoba bangkit walau dia sedikit terhuyung, ini aneh karna Nala kehilangan kendali di dalam dirinya, kepalanya mulai berputar dan hal itu cukup membuat Nala bingung.
''Nala...apa yang terjadi.''
__ADS_1
Arron berdiri berusaha menangkap tubuh Nala yang mulai terhuyung di belakangnya,
''Aku tidak apa-apa dan ingin pulang sekarang.''
''Jangan pergi sayang.''bisik Arron melingkari tangannya di pinggang Nala dengan posesif.
''Yah....''
Tubuh Nala mulai goyah lagi dan kali ini ia merasakan jantungnya berdebar dengan cepat, Nala merasakan sesuatu yang panas b ergejolak di dalam dadanya hingga Nala pasrah ketika Arron membalikan tubuhnya hingga mereka saling menatap tajam.
Oh...astaga, mengapa Arron tampak sangat tampan saat ini..Nala tersenyum, tidak menolak ketika Arron menarik tubuhnya mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka, hal itu membuat kedekatan yang panas tak bisa di elakan, Nala sungguh merasa ini adalah hal terindah, perasaan nyaman dan percaya itu mengalir memenuhi Nala yang jatuh cinta.
Arron tersenyum ketika ia berhasil memeluk tubuh Nala, menariknya posesif di dalam pelukannya dan memenjara mata Nala yang indah...
''Aku mencintaimu sayangku.'' bisik Arron merayu.
Nala hanya diam dan menatap mata Arron yang indah bagai terhipnotis, Nala pun tersenyum.
''Aku juga mencintaimu Arron itu sebabnya aku kesini.''
''Kau tak boleh pergi kemanapun Nala, kau adalah milikku.''bisik Arron mendekatkan bibirnya mengecup pipi Nala.
Gadis itu berdebar entah mengapa, rasanya seperti seluruh tubuhnya menginginkan sentuhan Arron tidak terkendali entah mengapa Nala tidak mengerti perasaannya. Dan ketika Arron ingin mendekati Nala, dan hendak mencium bibir Nala, ada bunyi telp masuk dan membuat suasana panas dan romantis itu sirna seketika
Arron tidak berhenti mengutuk siapapun disana yang telah berani mengganggu mereka, Nala mengambil ponselnya dan segera pucat karna dia menerima banyak panggilan masuk dari sang mommy.
''Oh....sial sekali, mengapa Dava mengadukan aku.'' jerit Nala mulai kesal.
Sementara Arron mengepalkan tangannya, dia terlihat dingin sembari mengepalkan tangannya di balik punggungnya dan menatap Nala dengan tajam.
Nala segera mengambil ponselnya untuk menjawab.
Nala : Hallo Mommy..
Syakira : Kau dimana, apa yang sedang kau lakukan Nala..pulang sekarang!!!
Syakira : Dengan cepat Nala, Mommy menunggumu dirumah.
Nala : Baiklah.
Syakira : Dan satu lagi Nala, pulanglah segera karna Mommy dan Daddy akan menerima lamaran keluarga Dava, minggu depan.
Nala : Apa!
Syakira : Pulang sekarang Nala.
Nala " Tidak, mengapa Mommy kejam padaku mengapa ( menangis.)
Syakira : Mommy menunggu dirumah, ayolah bicara.
Hening...
Nala : Baiklah.
Nala memutuskan sambungan telp dengan cepat dan segera memasukan ponselnya, jika Mommy memintanya pulang maka itu harus di lakukan karna tak akan ada yang bisa melawan keputusan Mommy di keluarga mereka, Daddy akan selalu ikut kata Mommy entah mengapa...terlalu cinta hingga menyerahkan semua keputusan pada Mommy.
Nala segera meraih tasnya dan hendak melangkah namun dia sangat terkejut ketika Arron menarik tubuhnya hingga mereka saling menatap tajam.
''Nala....kau mau kemana.''
Nala mengusap wajahnya, ia seakan lupa kalau dari tadi Nala bicara dengan Arron disini.
''Sayang maaf, aku harus pulang karna Mommy menelfonku.''
__ADS_1
Arron tersenyum dingin seraya melepas dasinya dan membuka beberapa kancing kemejannya, pria itu tampak kesal.
''Apa maksudmu kau akan pulang dan menerima pernikahan.''
''Aku tidak tau bagaimana menjelaskan padamu sayang, jika Momy memintaku pulang maka itu yang harus terjadi, aku harus pulang atau Mommy akan marah.''
''Lalu bagaimana denganmu, dengan cinta kita apakah kau sedang menyerah sekarang, dengan pulang itu artinya yang kau akui di depanku hanyalah omong kosong.''
Nala menjadi bingung sendiri dan tentu sedikit takut, dia tak pernah melihat Arron dalam sikap seperti ini jadi tentu saja Nala sedikit terkejut,
''Arron..maafkan aku, aku pulang untuk berjuang...aku akan mengatakan perasaanku pada orang tuaku dan mereka pasti mengerti.''
''Apa kau sedang bermimpi, kau tak akan di lepaskan aku sangat yakin Nala...''
Nala menggeleng, dia bingung harus menghadapi Mommy atau Arron.
''Aku harus pergi sekarang Arron,...aku akan kembali dan kita bicara.''
Nala melangkah menuju pintu dan mencoba membukanya namun sia-sia, dia pun menoleh putus asa pada sosok Arron yang terlihat dingin.
''Arron...mengapa pintunya terkunci, tolonglah aku sedang buru-buru.''
Namun Nala sedikit terkejut ketika dia melihat pandangan dingin seorang Arron yang berbeda, tatapan Arron seperti sosok lain di dalam dirinya hingga gadis itu menghela nafas..
''Arron..jangan menakutiku, ayo buka pintu.''
Pria itu trsenyum sembari meleparkan jasnya sembarangan dia terlihat gusar..
''Aku telah mencoba memberikan hatiku namun beraninya kau ingin mempermainkan aku Nala..''
''Tidak...Arron.''
Gadis itu mulai ketakukan ketika Arron melangkah mendekat Nala dan mengambil ponsel gadis itu secara paksa dan merendamnya di dalam air.
''Oh...apa yang kau lakukan Arron..''
Nala berlari untuk merebut kembali ponselnya yang mulai berkedip-kedip tanda kerusakan namun tubuh kokoh Arron menangkapnya dari belakang dan menyeretnya menuju sofa dan menghempaskan tubuh Nala disana..sembari Arron melepas jasnya...
Airmata Nala mengalir ketakutan, tentu saja dia ketakutan setengah mati, melihat tatapan buas Arron kali ini.
''Aku minta maaf Arron tapi kau membuatku takut sayang.''
''Kau harus menjadi milikku, kau harus menikah denganku apa kau mengerti.''teriak Arron murka.
Tidak pernah..tidak pernah Nala melihat sosok Arron bisa semarah ini dan mau tak mau gadis itu semakin ketakutan.
''Arron, ada apa denganmu tolong jangan begini kau membuatku takut.''airmata Nala mulai menetes..
Namun Arron sudah terbakar amarah, pria itu bangkit dan menyeret Nala, membawanya menuju kamar milik Arron dan kembali mengunci Nala disana..airmata mengalir deras..
''Arron..tolonglah..''isak Nala memohon ampun pada pria ini.''
''Aku tak akan pernah menyerah kali ini, aku tak akan membiarkan seseorang bisa menghancurkan aku lagi...apa kau mengerti Nala.'
''Tidak..Arron aku mohon lepas.''
Nala meronta mencoba melawan ketika Arron menerjangnya.
''Arron cukup.'
Srak!!!!!!
Nala menjerit keras ketika Arron merobek atasan miliknya hingga dia ketakuan.
__ADS_1
''Kau adalah milikku Nala.'' desis Arron dengan suara dinginnya.
''Apa.....Arron jangan..'' jerit Nala dengan kesedihan yang melandanya.