Kau Harus Menjadi Milikku

Kau Harus Menjadi Milikku
Nala Yang Curiga


__ADS_3

Amanda membawa Nala berkeliling Mall, mereka terlihat seperti sepasang anak remaja yang sedang tumbuh dan cantik, tentu saja meski Amanda sudah menikah tapi dia tetap seorang Wanita muda, orang yang tidak mengenal pasti mengira mereka sepasang anak gadis yang baru masuk kuliah.


''Apa kau mau membeli baju-baju, disini adalah yang paling terkenal.''bujuk Amanda menunjuk sebuah butik langganannya ketika berkunjung ke Mall mewah ini,


Nala pun mengangguk tanpa ragu...


''Baiklah bibi......Awww....''


Nala menjerit ketika Amanda seketika menutup mulut Nala dengan panik dan melirik sekitar mereka yang sedang tersenyum salah tingkah menatap keduanya.


''Sudah kubilang Nala.......''


''Maaf....aku tidak sangaja Amanda, astaga mulutku.''ucap Nala tersenyum, ia segera memeluk Amanda untuk meredakan kekesalan Amanda, Nala sedikit gemas mengapa Amanda sering marah dia sensitif sekali padahal dulu tidak seperti ini,


''Baiklah....aku akan mengawasimu.''tatap Amanda mengingatkan.''


''Baiklah aku janji akan mengunci bibirku.''janji Nala sambil mengalungkan tangannya di lengan Amanda mengajaknya cepat masuk ke butik agar wanita muda ini tidak marah lagi.


Mereka akhirnya masuk ke dalam butik, dan pandangan mata Amanda jatuh pada sebuah gaun berwarna peace, dengan bentuk leher sabrina, gaun itu sangat cantik dan pas di tubuh rampingnya.


Amanda mulai berbinar-binar, dia ingin gaun berwarna peace di hadapannya, dan Nala juga tau gaun itu pasti cocok untuk Amanda karna gadis ini tinggi, namun senyum Nala berubah ketika Amanda berjinjit dan bayangan gundukan di perutnya menarik perhatian Nala, gadis itu mengerutkan kening.


Tubuh Amanda adalah jeni tubuh yang tidak akan mudah gemuk, walau makan banyak karna memang tubuh Amanda lebih tingga, dia tak punya lemak sama sekali di perutnya tapi mengapa malah tonjolan itu kentara sekali..


Apakah Amanda sedang hamil..?


''Hohh...''wajah Nala berubah cerah.


''Ada apa denganmu Nala, kau mengejutkan aku.''desis Amanda melirik Nala yang mencegahnya mengambil gaun yang dia inginkan.


Nala menatap Amanda dengan tajam, apakah Amanda tidak sadar kalau perutnya sedikit besar, yah mungkin saja Amanda masih muda dan orang tua mereka cukup jauh utuk mengawasi Amanda.


''Kurasa gaun itu kurang cocok untukmu.''


''Kenapa tidak cocok, aku ingin mencobanya Nala sayang tak ada yang bisa menolak pesonaku dengan gaun ini.''


Amanda lalu melangkah ke ruang ganti dan Nala yang menjadi cemas sendiri, apakah Amanda Hamil atau kah.


Ah dia akan menjadi gila sendiri, mungkin Nala akan memberitahu paman Zayden tentang hal ini nanti malam,


**


Amanda berada di dalam ruang ganti dengan wajah pucat pasi, dia berdiri di depan cermin menatap tubuhnya yang benar-benar telah berubah lebih berisi, memang selama ini Amanda tidak pernah melihat tubuhnya sendiri, dia tidak pernah membayangkan kalau tubuhnya akan seperti ini.


Gaun yang dia idamkan sesak dan bahkan tidak bisa melewati perutnya, hingga gadis itu gusar rasa takut semakin muncul di hatinya ketika dia merasakan perut paling bawah itu mulai terbentuk bulat.

__ADS_1


''Tidak...jangan pikirkan apapun Amanda, kau hanya sedang mengalami kenaikan berat badan tidak mungkin kau sampai.....''


Amanda bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya jelas dia tidak percaya sedikitpun, Amanda lalu membuka gaun itu dengan sedikit tidak rela karna ini gaun yang cantik dan dia hanya bisa melihat.


Amanda keluar dari butik dengan wajah penuh kecewa dan Nala menghampirinya.


''Mengapa kau tidak mencoba gaun itu Amanda.''


''Gaun itu buruk Nala..aku tidak suka, bagaimana kalau kita pergi saja.''


''Yah ayolah...lagi pula ada banyak gaun baru, ini tidak cocok untukmu.''Nala masih menghibur.


''Lalu kita akan kemana sekarang.''tanya Amanda terlihat sedih.


''Makan..ayolah aku sudah lapar.''


''Yah...tapi aku sedang diet aku harus menahan diri.''


Tidak boleh Amanda tidak boleh diet kalau ingin maka Nala akan merusak dietnya, bagaimana kalau dia hamil astaga dia akan menyakiti bayinya.


''Baiklah aku akan memilih restoran untuk makan, kau kan diet biar aku yang pilih resto.''pinta Nala dengan mata berbinar.


Amanda mengangguk pasrah mereka lalu melangkah dan menjelajahi sekeliling Mall sampai lelah, dan singgah ke salah satu restoran cepat saji yang dulu menjadi kesukaan Amanda, bahkan dia dan Nala sering datang di malam hari demi membeli makanan kesukaan mereka itu.


''Astaga Nala...mengapa kau membawaku kesini, kau akan menghancurkan dietku.'


''Yah...baiklah,''


Mereka lalu mencari tempat untuk segera duduk dan memesan makanan, sambil bercerita,


''Kak Ana sedang hamil yah apa kau sudah mendengar kabar ini.''ucap Nala pada Amanda.


''Yah,...kak Ana menelfonku kemarin, aku senang akan mendapatkan seorang keponakan...kau juga bukan''bisik Amanda tersenyum.


Nala mengangguk,


''Aku suka anak kecil Amanda.''


''Yah rumah akan ramai...kau cepat menikahlah Nala...maafkan Dava astaga dia pria yang baik.''ucap Amanda membujuk.


''Yah...yah....aku tau Amanda tapi sudahlah lupakan aku bahkan tidak ingat padanya,.''


''Kau dingin sekali Nala.''desis Amanda menyipitkan matanya..


Nala hanya mengangkat bahu, tak berapa lama kemudian datanglah makanan mereka yang dihiasi memenuhi meja, hingga membuat nafsu makan Amanda lepas kendali, enak sekali semua pesanan Nala di depan matanya hingga dia hanya melonggarkan tenggorokannya.

__ADS_1


Amanda mendesah tersiksa ketika Nala mulai membagi bagiannya yang sedikit sementara dia tak tahan ingin makan banyak.


''Ini untukmu Amanda katanya kau diet.''


''Tidak tapi bagianku sedikit sekali Nala.''


Sedikit bagaimana aku bahkan merasakan betapa kau menjaga bentuk tubuhmu Amanda jadi makanlah dengan porsi dietmu.''


''Kau tidak diet Nala...''


''Kau lihat tubuhku cukup kurus, aku tak mau menyisa diriku sendiri.''


Hoh...Amanda mulai menatap makannya yang begitu lezat tapi hanya setengah hal itu cukp membuat ia tergoda apalagi Nala segaja makan di depannya dengan banyak macam.


''Oh..berat sekali ujiannya kali.''desah Amanda mulai makan dengan cepat tapi anehnya dia masih lapar lagi..


Bagaimana sekarang, disaat yang sama Nala meletakan makanan yang lain di dekat Amanda, keduanya saling menatap.


''Nala..''


''Nanti saja dietnya kita butuh banyak makan...''bisik Nala menggoda Amanda untik ikut makan.


''Baiklah kalau begitu, ini karna kau memaksa aku yah...''ucap Amanda tak mau berlalu dengan rasa bersalah.


''Yah aku memaksamu.''balas Nala mengalah.


Keduanya tersenyum.


******


Karna Nala tinggal dirumah, maka otomatis Amanda dan Zayden harus sekamar, atau semua keluarga akan tanda tanya pada hubungan mereka,


Amanda melirik kesal malam ini ketika Zayden keluar dari ruang ganti dan bergegas naik ke ranjang dengannya,


''Jangan memanfaatkan keadaan.''ancam Amanda tajam.


''Baiklah tapi aku ingin memelukmu dari belakang jika kau tak ingin.''


''Mengapa aku harus.''


''Karna jika tidak maka aku akan tidur di luar dan membiarkan Nala curiga aku yakin berita itu akan sampai dalam hitungan detik, Mommy Serena dan Sherin akan menelfon kita.....''


''Baiklah aku menyerah jangan terlalu dekat.''desis Amanda memperingatkan.


Lebih baik mengijinkan Zayden memeluk dari pada menghadapi sejuta pertanyaan Mommy Serena dan Sherin, Amanda tak akan sanggup.

__ADS_1


Mereka lalu berbaring, Amanda tidur dalam hitungan menit karna dia lelah seharian di Mall sementara kesempatan itu di gunakan Zayden untuk memeluk perut Amanda yang mulai terlihat di balik gaun tidurnya, tonjolan itu cukup teraba oleh telapak tangan Zayden yang besar, pria itu tersenyum.


Anakku.......


__ADS_2