
Zayden bangkit berdiri, tanpa suara ia melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu giliran Amanda yang melakukannya, hari ini sangat lelah bagi mereka hingga Amanda tidak memberikan waktu untuk dirinya berduaan dengan Zayden.
Malam ini adalah malam pertama yang kelabu, pria itu memandang bulan di balkon, sambil meneguk wine dalam gelasnya.
''Aku akan tidur lebih dahulu Zayden, pastikan kau juga harus segera tidur karna besok pagi akan sangat melelahkan.''desis Amanda mengedipkan matanya, sebelum melangkah menuju ranjang dan berbaring.
Sial...dia cantik dan menggoda.
Zayden kembali meneguk minumannya, otaknya berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapatkan malam pertama, meski dia setuju agar tidak menyentuh Amanda jika wanita itu tidak setuju tapi astaga ini malam pertama mereka.
Bagiamana caranya, pikirkanlah Zayden bukankah biasanya kau bisa berpikir dengan cepat?
Zayden kembali melirik Amanda yang tidur membelakanginya, punggung mulusnya teramat menggoda. tak lama kemudian Zayden tersenyum menyadari dia mulai tau satu kelemahan Amanda, pria itu lalu mengambil ponsel miliknya dan menelfon seorang petugas Hotel.
''Matikan lampu khusus kamar kami..sekarang.'' titah Zayden tegas.
Tak lama kemudian terdengar jeritan cukup keras...
''Aaarrrggghhhhtttt....''
Amanda terkejut ketika semua yang dia liat adalah kegelapan, bahkan Amanda tidak menemukan ponselnya sedikitpun, mengapa begini.?
''Apa yang terjadi...Zayden kau dimana.''
''Aku di balkon...mengapa.''
Amanda menjadi gusar, mengapa Zayden tidak berperasaan sedikit bagaimana pun dia sedang ketakutan, suaminya malah terlihat santai.
''Mendekatlah...aku mohon, bisakah mencari ponsel milikku, aku akan menelfon orang tua kita atau siapapun, jarang sekali Hotel mati lampu jadi mengapa ini terjadi.''
''Aku baru saja mendapat pemberitahuan kalau ada sedikit masalah, mungkin esok pagi semua akan selesai.''
''Apa kau bilang, besok pagi tidak bisa...aku akan mati ketakutan Zayden..tolong kemarilah, aku rasa aku mulai kena serangan panik.''pinta Amanda putus asa.
Zayden terkekeh dalam kegelapan, sebentar lagi Amanda akan menyerah padanya.
''Aku tak bisa berada di dekatmu Amanda.''
''Mengapa...'' Amanda masih mencoba meraba dalam kegelapan.
''Karna aku sedang bergairah sekarang, jika aku menyentuhmu maka kau harus rela kau ku sentuh.''
''Dalam mimpimu Zayden.''
''Kalau begitu aku harus pergi, kau hanya perlu tenang dan berbaring Amanda..'' suara Zayden terdengar mulai menjauh, dan hal itu membuat Amanda semakin di landa panik.
''Zayden jangan tinggalkan aku, lagi pula kau mau kemana.''
''Aku perlu keluar sebentar dan mencari angin.''
__ADS_1
''Di balkon juga kau bisa menikmati angin, alasan saja.''gerutu Amanda kesal.
''Tapi aku tidak tenang malam ini ketika berada di dekatmu Amanda.''
''Oh...Shitt...kau mulai lagi.''
''Aku berusaha jujur padamu Amanda, karna itu aku harus pergi sekarang..''
Zayden baru saja melangkah namun terdengar suara pecahan beling.
''Crang...''
Zayden menghentikan langkahnya, dia menoleh dalam gelap,
''Amanda..''
''Jangan pergi Zayden...please.''
Zayden mendekati Amanda dengan hati-hati karna dia melangkah dalam gelap,
ketika kakinya menyentuh ranjang, Zayden meraih Amanda yang terjatuh di pinggir ranjang.
''Amanda..apa yang terjadi.''
Zayden menyalakan ponselnya dan langsung membimbing Amanda bangkit berdiri dan menjauhkannya dari pecahan vas bunga.
Sementara Amanda memegangi lengan Zayden dan menolak pria itu meninggalkannya.
''Jangan coba pergi..'' rintih Amanda enggan melepaskan Zayden di depan matanya.
Amanda sedikit terkejut ketika pria itu merengkuh tubuhnya, setengah tenggelam dalam pelukan posesifnya, Zayden tersenyum dalam gelap..
''Jika kau ingin aku tetap disini...maka kau harus menyerahkan dirimu malam ini Amanda.''
''Yah...baiklah tidak masalah juga bukan, kau suamiku,...jangan pergi dan lakukan sesukamu.''bisik Amanda tercekat.
Senyum kemenangan terukir di wajah Zayden meski di dalam kegelapan..pria itu segera menghidupkan lampu di ponselnya agar terlihat sedikit cahaya...ia menatap Amanda dalam bayangan yang samar, cantik dan menggoda.
''Bukankah itu balasan yang adil sayangku.''bisik Zayden lembut merayu.
Tubuh Amanda di baringkan di atas ranjang dan pria itu bergerak naik dan menyentuh bibir Amanda dengan ahli hingga Amanda sedikit terkejut..
''Zayden.'' desah Amanda berusaha mengimbangi ciuman Zayden yang begitu ahli.
tubuh Amanda bergetar ketika setiap ciuman Zayden meninggalkan erangan nikmat yang lolos dari bibirnya.
Dalam sekejap, tubuhnya yang terbungkus gaun tipis tersingkap dan wanita muda itu mulai mengerang...ketika Zayden, mendaratkan bibirnya di permukaan pa yu da ra Amanda yang menegang sempurna, sementara lidahnya menari-nari disana menciptkan kenikmatan yang menggetarkan Amanda..
''Arrgghh....''
__ADS_1
''Mengapa...kau menyukai aku menyentuhnya.''bisik Zayden sembari menglum p*ting pa yu da ra Amanda dan memainkannya dengan lidahnya yang panas..
''Cukup Zayden..aku mohon..''
Pria itu tersenyum menang, dan kembali menghujani kedua bukit kembar Amanda dengan his*pan yang menggairahkan, Amanda hanya bisa pasrah ketika Zayden menguasai tubuhnya dan menikmatinya...
Sampai sesuatu yang mengeras itu mulai mendesak masuk ke dalam miliknya yang basah..
Zayden menggertakan giginya, setiap dia ingin menyatukan diri ke dalam diri Amanda dia selalu merasakan getaran aneh, seperti perasaan nyaman luar biasa, seperti Amanda adalah rumahnya, rumah miliknya sendiri yang telah dia milikki secara sah.
Pria itu tersenyum menatap Amanda di bawahnya yang tampak pasrah...
''Apa kau baik-baik saja sayang.''bisik Zayden kembali melum** bibir Amanda yang penuh.
''Kau beruntung sekali memanfaatkan......arrggh...Zay..''
Amanda setengah menjerit ketika, Zayden berhasil membungkamnya dengan ciuman panas, pria itu memasukinya dengan hentakan yang cukup menggetarkan...dan membuat Amanda hanya mengerang..
Tubuh mereka bersatu dengan erangan yang begitu nikmat yang lolos dari bibir Zayden, tubuhnya bergerak liar membawa Amanda terbang tinggi menikmati penyatuan indah mereka..
Di malam gelap, dalam cahaya yang redup, Zayden memacu tubuhnya sedikit kasar dan membuat Amanda hanya pasrah di bawahnya, pria itu mengerang menikmati setiap detik penyatuan mereka hingga tak bisa lagi berkata, Zayden bahagia ketika tubuh Amanda begitu pas menerimanya sebagai sang pemilik. Tubuh keduanya bersatu menahan kenikmatan bertubi-tubi yang datang menghempaskan tubuh keduanya menggapai satu kepuasan bersama yang indah..
********
Pagi hari,
Amanda menatap tubuhnya sendiri di depan cermin kamar mandi, dan mendesah..mengapa dia seperti jal*ng yang di penuhi bekas ciuman Zayden..wanita itu memejamkan matanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, betapa malunya dia..bahkan dia sudah berjanji tidak mau di sentuh dengan mudah, namun karna hanya takut gelap dia langsung menyerah.
''Kau..tidak tau malu Amanda.'' cecar Amanda memandang diri sendiri di cermin.
Ia kembali memejamkan matanya, seluruh tubuhnya seperti ngilu, Zayden memanfaatkan segalanya dengan menyentuhnya berkali-kali.
''Arrgghh....kau bodoh Amanda.''jerit Amanda pada diri sendiri.
Sementara di balik pintu Zayden tersenyum menang sambil mengetuk pintu pelan,
''Sayang....apakah semua baik-baik saja.''
Amanda menoleh gusar.
''Dasar kau pria mesum.'' jerit Amanda dari balik pintu.
Hingga Zayden hanya mampu tersenyum geli membayangkan betapa marahnya Amanda.
''Apakah boleh aku masuk sayang.''
''Aku akan membunuhmu.''jerit Amanda memberi peringatan.
__ADS_1