Kau Harus Menjadi Milikku

Kau Harus Menjadi Milikku
Hamil Anakku


__ADS_3

Melihat Amanda menjerit kesakitan,sontak Zayden mendorong tubuh Aksa cukup keras, hingga Aksa yang kehilangan keseimbangan pun jatuh ke aspal namun dia segera bangkit berdiri ketika sadar Amanda menjerit, walau terluka Aksa tak bisa menepis rasa nyeri di dadanya, melihat apa yang di alami Amanda.


Amanda hampir jatuh ke aspal namun dengan sigap Zayden segera menangkap tubuh Amanda, membawanya ke dalam pelukannya, wajah Zayden terlihat cemas apalagi ada darah.


''Sayangku bertahanlah,..kita akan kerumah sakit sekarang.'' bisik Zayden mendekap Amanda serta membawanya dalam pelukannya untuk memasukaannya ke dalam mobil dan ketika Zayden hendak masuk ke mobil Aksa menghalangi jalannya dengan tatapan tajam, meski dia terluka Aksa menolak menyerah.


''Apa yang terjadi padanya Zayden.'' teriak Aksa terluka.


Zayden yang masih murka mendorong tubuh Aksa cukup keras hingga terdorong ke belakang, pria itu mencoba menahan diri untuk tidak membunuh Aksa, karna istri dan anaknya lebih penting.


''Aku peringatkan kepadamu Aksa...jangan pernah nekat atau aku benar-benar akan kehilangan kesabaran.''


''Amanda adalah milikku Zayden, kau merampas milikku kau pikir aku akan mengalah..aku bahkan siap mati.''


''Kau.....''


''Paman...sudahlah, bawa Amanda ke rumah sakit itu lebih penting.'' pinta Nala mencoba menahan pamannya yang mungkin bisa saja menembak Aksa disini.


Zayden akhirnya tersadar ia dan Nala masuk ke dalam mobil sementara Aksa tak mau menyerah, pria itu segera menyusul menggunakan mobilnya ke rumah sakit, dadanya bergemuruh sesak merasa sungguh ketakutan,


Ada darah yang menetes apa yang sebenarnya terjadi pada Amanda, apa yang terjadi. Pria itu memejamkan matanya dengan hati yang berdebar cemas.


******


Begitu sampai dirumah sakit, Amanda sudah jatuh pingsan, ada banyak darah dan ia langsung di bawa masuk ke dalam ruangan IGD, dan ketika Zayden ingin ikut masuk ke dalam ruangan, seorang perawan menahannya di pintu dengan sopan, ia bisa melihat betapa cemasnya wajah Zayden saat ini.


''Tuan tunggu sebentar, kami akan memeriksa istri anda.''ucap salah satu perawat kepadanya.


''Apakah istriku akan baik-baik saja.''


''Kami akan berusaha tuan, tenanglah.'' balas perawat itu lalu meninggalkan Zayden yang sungguh merasa sesak,


Zayden mengerang, dia juga sangat menderita saat ini menyadari ada banyak darah bahkan tangannya juga masih ada bekas darah istrinya.


Apa yang terjadi, jangan sampai Amanda benar-benar hamil lalu bagaimana anaknya.


pria itu memejamkan matanya dia teramat nyeri dan semua ini karna Aksa, Zayden lalu membasuh tangannya,


''Paman....mau kemana.''


''Aku harus menghajar pria itu sekarang, dia benar-benar ingin mati.''desis Zayden tajam.


Zayden ingin pergi namun, Nala menahan langkah sang paman.


''Jangan melakukan tindakan apapun dulu paman, Amanda sedang berjuang di dalam, dia butuh paman, aku akan menghadapi Aksa...aku akan menyadarkan dirinya dan mengusirnya.''


Zayden menghela nafas, kalau bukan karna Amanda maka dia sudah menghabisi Aksa tadi, kalau bukan Amanda sedang mengandung anaknya maka pria itu sudah lenyap.''

__ADS_1


Zayden mengepalkan tangannya dengan kuat sementara Nala mencoba menyentuh punggung Zayden menenangkan pamannya dari amarah, tak lama kemudian dokter mulai memanggil Zayden untuk masuk dan bicara di dalam, dan pria itu pun pergi sementara Nala menunggu di luar bersama beberapa anak buah Zayden, sekaligus menjaga kalau mungkin saja Aksa akan memaksa masuk, Nala akan menghalanginya.


******


Sementara di dalam,


Zayden membeku melihat Amanda terbaring dengan selang infus yang tertancap di tangannya, wajahnya begitu pucat dia menutup mata hingga hati Zayden seperti di remas seketika, pria itu mengusap wajahnya ketika tubuh Amanda di dorong keluar untuk di pindahkan di ruangan,


''Amanda...Amanda sayangku.''


Zayden melangkah cepatb menujun ranjang dan menciumi seluruh wajah Amanda namun wanita itu tidak bergerak


''Sayang,....aku disini...''


''Tuan Zayden...nyonya harus di bawa ke ruang khusus untuk di lakukan tindakan.''


Zayden menegakan tubuhnya menatap Dokter dengan tajam.


''Apa maksudmu, apa yang terjadi padanya.''


Zayden mengeraskan wajahnya ia mendekati dokter yang berusaha bersikap pengertian, Dokter menatap Zayden dengan tatapan bijak,


''Nyonya sedang di pindahkan di ruangan yang khusus dan tuan silahkan ikut saya sebentar.''


Zayden mengangguk, lalu mengikuti langkah sang dokter masuk ke dalam sebuah ruangan kerja sang dokter ia duduk dengan wajah cemas yang tak mampu di sembunyikannya.


''Yah...ada berita baik dan tidak baik.''


Zayden mengerutkan kening dengan dalam.


''Apa maksudmu.''


Dokter menatap mata Zayden yang tajam, dan berdehem.


''Selamat untukmu tuan, karna istri anda positif hamil, usia kandungannya masih sangat kecil dua bulan.''


''Apa...'' desah Zayden dengan mata berbinar, dia benar-benar terkejut.


''Yah...sekali lagi selamat untuk anda...dan aku harus memberitahumu kabarnya yang kurang baik.''


Zayden pun terdiam sebentar..


''Apa yang terjadi.''


''Nyonya Amanda mengalami pendarahan hebat dan hampir keguguran itu sebabnya kami memindahkannya di dalam ruang khusus dan steril.''


''Aarrrgghh...apakah anakku dan istriku baik-baik saja.''

__ADS_1


''Untuk saat ini kami bisa mengatasinya, namun untuk sementara nyonya Amanda tidak boleh turun dari tempat tidur dan benar-benar berhati-hati, kandungannya sangat lemah jadi kami benar-benar harus berkonsentrasi membawa nyonya Amanda melewati bulan rawan kehamilan di usia kandungan 5 bulan.''


Zayden mengangguk dengan cepat.


''Aku akan melakukan apapun dokter, tapi apakah aku bisa menemuinya selama dia diruangan itu.''


''Yah..tentu tapi kau tidak bisa menyentuh istrimu selama masa rawannya kalau tidak maka akan terjadi sesuatu yang berat.''


Zayden tersenyum lega, dia bahkan mampu melewati apapun demi melihat istri dan anaknya selamat, jadi Zayden akan melakukan apapun.


''Aku ingin dokter memberikan perawatan paling baik untuk istri dan juga anakku..aku sangat bahagia.''desah Zayden dengan mata yang basah.


''Tentu kami akan memberikan yang terbaik untuk istri dan calon anak tuan.'' ucap sang dokter menenangkan.


''Yah...terimakasih.'' ucap Zayden dengan mata berbinar.


*************


Sementara di luar,


Nala melangkah cepat ketika, Aksa keluar dari dalam mobil dan mencoba menerobos rumah sakit namun dengan kuat Nala langsung mendorongnya keras ke belakang.


Brugghhh...


Tubuh Aksa masih sedikit lemah ketika Zayden menghajarnya dengan kuat, tubuhnya membentur mobil dengan kuat.


''Siapa kau.''desis Aksa tidak terima.


Nala menyipitkan matanya dengan tajam.


''Kau....menyerahlah....aku sahabat Amanda aku juga adalah keponakan paman Zayden.''


''Cih....hanya seorang perempuan, kau pikir aku akan menyerah.''


Aksa bergerak maju namun dia terkejut ketika Nala mengeluarkan pistol dari saku jaketnya dan mengarahkan pistol itu tepat di kepala Aksa, ternyata ada untungnya Daddy Rive dan paman Zayden mengajarinya cara memegang pistol dan juga menembak, Nala menaikan sudut bibirnya yang dingin.


Aksa tertawa dingin.


''Apa kau sedang bercanda padaku.''teriak Aksa kesal.


''Aku tau tentang ceritamu dengan Amanda, sayang sekali Amanda sedang hamil anak pamanku, usianya kehamilannya hampir dua bulan dan sudah bisa di pastikan itu bukan anakmu.''


''Apa.'' teriak Aksa dengan putus asa.


Airmatanya mengalir..


Amanda sedang hamil...? wajah Aksa tampak syok.

__ADS_1



__ADS_2