Kau Harus Menjadi Milikku

Kau Harus Menjadi Milikku
Rasa Sakit


__ADS_3

Aksa benar-benar terkejut mendengar berita tentang kehamilan Amanda, bahkan dalam mimpi pun Aksa tidak rela kalau ia akan kehilangan Amanda, pria itu bergerak maju hingga ia tidak memperdulikan Nala yang mengarahkan pistol kepadanya pria itu bahkan sudah siap mati, hal itu membuat Nala semakin sulit.


Aksa melangkah mendekati Nala untuk kemudian mengambil dengan gampang pistol dalam genggaman Nala dan membuangnya ke tanah, mereka saling menatap tajam.


''Kau salah besar gadis kecil, aku bahkan sudah siap mati apa kau mengerti, jadi jangan pernah mengancamku dengan hal bodoh itu, dan biar aku beritahu sesuatu kepadamu jika....Amanda memang sedang mengandung maka kemungkinan itu pasti adalah Anakku juga..aku tidak menyerah, jadi sebaiknya gadis kecil sepertimu berhenti ikut campur.''


''Kau pria yang malang, bukankah semua salahmu dan kau pikir pamanku akan membiarkan dirimu.''teriak Nala keras.


Aksa menoleh dingin, ketika tatapannya kian berubah menjadi sangat beku, pria itu mendekati Nala, mengusir jarak di antara mereka hingga mereka bisa merasakan nafas masing-masing, Aksa menghentikan langkahnya,


''Amanda mengandung anakku, aku yakin dan peringatkan kepada pamanmu jika badai itu akan segera datang dalam hidupnya...aku tak menyerah.''


Aksa tertawa dengan keras,lalu beberapa detik kemudian melangkah menuju mobilnya dan pergi dari sana, Nala mengela nafas, pria gila itu benar-benar sangat mengerikan, apa yang ada di dalam kepalanya dia pikir paman Zayden akan membiarkannya berbuat sesuatu yang nekat.?


Nala menggeleng dengan wajah gusar.


************


Amanda akhirnya membuka mata dan objek pertama yang di lihatnya adalah langit kamar rumah sakit yang khas, ia mengerutkan kening ketika menatap ke segala arah,


''Selamat pagi sayang.''


Sebuah suara lembut menyapanya pagi ini, Amanda menoleh ke asal suara itu dan tertegun melihat Zayden bangkit dari sofa dengan wajah paginya pria itu melangkah mendekati Amanda yang menatapnya tanpa kedipan. Zayden mengecup bibir Amanda dengan lembut, lalu naik ke keningnya pria itu tersenyum.


''Bagaimana keadaanmu sayang, apakah semua baik-baik saja.''


Zayden menarik kursi untuk duduk di depan Amanda,


''Aku baik-baik saja, tapi apa yang terjadi mengapa aku disini.''tanya Amanda dengan bingung.


Zayden tersenyum sembari mengecup punggung tangan Amanda dengan lembut lalu menatap istrinya dengan lekat.


''Kau sedang hamil.''


''Hah.....''


Amanda terkejut mendekati Syok, hingga Zayden kembali memintanya tertidur lagi.


''Mengapa kau terkejut...apa kau tidak suka dengan hamil anakku.'' desis Zayden dengan suara yang berat.


Amanda menghela nafas, matanya terpenjam sesaat ketika dia berusaha menenangkan pikirannya, Hamil..apakah perkataan Zayden benar kalau dirinya hamil kalau begitu itu artinya maka perjanjian mereka akan berakhir, Zaydenlah pemenangnya.


Amanda masih memejamkan matanya, ketika dia kembali merasakan Zayden melum** bibirnya matanya seketika terbuka dengan protes.


''Zayden..'' suara Amanda terdengar serak dan membuat Zayden gemas, mereka kembali saling menatap.


''Mengapa kau diam, apa kau tidak senang hamil anakku, kau tidak tau berapa usia kandunganmu sayang, kau bahkan sedang menggerutu di dalam hati.''


Amanda melebarkan matanya..

__ADS_1


''Kau bisa membaca wajahku, kau tau aku sedang menggerutu.''


''Jadi kau benar sedang menggerutu padaku Amanda.'' tanya Zayden benar-benar menjebak.


Seketika itu juga Amanda pecah dalam tawa, dan suasana pagi itu cair seketika,


''Aku hanya terkejut saja, dan berapa usia kandunganku.''


''Hampir dua bulan.''


''Baiklah....ehm...''


Amanda kembali menatap Zayden yang tak pernah mau mengalihkan pandangan sedetikpun darinya, Amanda menjadi gugup.


''Mengapa kau terus menatapku,'' wajah Amanda merona kemerahan.


Zayden mendekatkan tubuhnya semakin membuat Amanda salah tingkah dan malu sendiri, dia berdehem beberapa kali..


''Zayden...aku malu di tatap seperti itu, ada apa denganmu.'' jerit Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Namun kali ini Zayden menangkap kedua tangan itu dan menurunkannya hingga mau tak mau mereka saling menatap.


''Yah...ada apa denganmu Zayden..jangan menatapku begitu.''


''Terimakasih sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah setelah skian lama aku menginginkannya.''ucap Zaydenn dengan mata yang berbinar.


Amanda mengangguk patuh lalu mencoba untuk tersenyum.


''Aku juga tak sabar untuk menghancurkan perjanjian kita.''


Kali ini wajah Amanda berubah merah, namun dia tidak melawan, segera ingatan Amanda jatuh pada kejadian sebelum dia pingsan dan pendarahan, bagaimana ketika Aksa datang dan mengganggunya.


''Zayden....aku ingin bicara tentang Aksa, kalau dia.''


''Dia atau siapapun tak akan bisa merebutmu dariku, dia hanyalah mantan suamimu yang bodoh..aku akan menghajarnya jika suatu saat dia mengganggu hubungan kita atau mengganggumu.''


Amanda menghela nafas..


''Apakah kau memukulnya.''


''Dia tidak akan mati kalau itu yang kau pikirkan.''


''Baiklah...aku lega.''


Amanda terkejut ketika Zayden kembali meraih bahunya mendekat,


''Apa kau masih mencintainya.'' Zayden yang membuat Amanda seketika beku.


''Aku hanya iba.''

__ADS_1


''Benarkah.''


''Yah.''


''Bagus,...aku hanya ingin tau itu darimu sayang, dan satu lagi aku ingin kau ingat kalau tak ada yang bisa memisahkan kita, kau adalah milikku selamanya.'' desis Zayden dengan ketegasan yang sempurna.


Amanda bergetar ketika mendengarnya, hanya mampu mengangguk dalam diamnya.


''Lalu kapankah kita akan pulang.''


Zayden mengerutkan kening sebentar,


''Sayang kau harus sedikit lama berada disini.''


''Hah.''


********


Amanda menjadi bosan, sudah hampir sebulan dia tidak di ijinkan keluar dari rumah sakit, hubungannya dengan Zayden semakin dekat ketika mereka disini, setiap hari Zayden selalu pulang pergi ke perusahaannya dari rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya.


Nala juga sering menengoknya, ketika dia bebas dari kuliahnya.


Siang ini Amanda sendirian, ketika dia mendengar suara ketukan di pintu ruangannya,Amanda mengangkat wajahnya dan membeku ketika berhadapan dengan tatapan dingin seorang wanita yang cantik, siapa dia apakah dia salah kamar karna Amanda tidak mengenalnya.


Wanita itu terlihat dewasa dan modis, dia mendekati Amanda dengan tatapan dingin,


''Selamat pagi, apakah kau sedang tersesat.''tanya Amanda mengerutkan kening.


Wanita itu malah bersedekap dan memincingkan matanya dia tersenyum mengejek,


''Apakah kau adalah Amanda istri dari kekasihku Zayden.''


Amanda seketika terkejut mendengar nama Zayden, wanita itu menjadi waspada dan seketika memeluk perutnya dengan gerakan melindungi.


''Siapa kau.''


Wanita itu tersenyum dingin dan mendekat,


''Aku adalah...Monica wanita yang di cintai oleh Zayden, aku tak menduga dia menjadikan seorang gadis kecil sebagai pelarian hanya karna kesal padaku, Zayden sungguh keterlaluan.''


''Apa maksudmu, yah..bukankah kau wanita yang telah meninggalkan Zayden sebelum pernikahan.''


Monica tersenyum dingin, dia mendekatkan wajahnya..


''Amanda, kau masih muda dan bodoh..sementara Zayden pria dewasa yang berpengalaman dan pintar, aku yang memilih tidak di nikahi dulu...aku yang memintanya menikahi gadis lain saja karna aku tidak suka terikat.''


Wajah Amanda berubah merah padam, jemarinya terkepal dengan kuat, tidak mungkin kan kalau Zayden membohonginya..mengapa ini terasa sakit.?


''Pergi dari kamarku Monica.''desis Amanda berkaca-kaca.

__ADS_1


Disaat yang sama, pintu kembali di ketuk dan Amanda kembali di kejutkan dengan kehadiran pria yang pernah menjadi suaminya.


''Aksa.'' desah Amanda gugup.


__ADS_2