
Amanda sungguh tak bisa mengerti dengan apa yang terjadi siapa yang menghubungi dirinya apakah Aksa masih hidup tapi itu tidak mungkin bukan, suaminya sudah meninggalkan dunia dan teror ini sungguh membuatnya tidak tenang, Amanda memijit pelipisnya dengan kerutan di dahinya tidak dia tak akan percaya pesan ini. Amanda lalu membuang ponselnya kali ini ia menoleh pad pelayan barunya Nira.
''Untukmu Nira...aku ingin kau menghancurkan ponsel ini.''
Nira mengangkat wajahnya merasa tidak percaya dengan ucapan sang nyonya muda.
''Nyonya Amanda tapi ponsel ini masih baru jangan di buang.''
Amanda memandang ponsel itu dengan enggan,dia tak akan pernah membiarkan siapapun meneror dirinya.
''Aku telah mengosongkan semua foto dan file ku ponsel ini sekarang tidak ada gunanya lagi.''
''Bagaimana kalau buat aku saja nyonya.''
Amanda tersenyum ringan, ketika melihat ponsel mahal itu di tangannya.
''Apa kau tidak pilunya ponsel sekarang.''
''Punya tapi ponselku tak ada camera.'' jawabnya dengan lugu.
''Baiklah aku akan memberikan nya kepadamu Nira.''
__ADS_1
''Benarkah....apa nyonya yakin.''
''Yah....aku yakin.''
Amanda melangkah ke arah meja dan mulai menata bunga disana dan tersenyum puas, tak sengaja ia membuang pandangan ke luar kamar wanita muda itu menghela nafas, dia hanya ingin melupakan semuanya melupakan masa lalunya meski hubungannya dengan Zayden juga jauh dari angan bahagia dia dan Zayden bahkan tidak saling cinta tapi walau begitu dia emang harus melupakan masa lalu agar dia bisa menatap masa Depannya menyelesaikan kuliahnya dan hidup bahagia setidaknya untuk diri sendiri.
''Jangan lupa membuang kartunya Nira.''
''Baiklah nyonya.''
Setelah merapikan kamar, Amanda lalu membersihkan dirinya dan berbaring di ranjang karna rasa lelahnya sementara di lantai satu Zayden masih sibuk dengan memberikan instruksi bagi para pelayannya, di bantu dengan bagian penata rumah dan taman yang dia bayar untuk membantunya.
''Tuan Zayden sebaiknya tuan istirahat saja biarkan kami menyelesaikan semua pekerjaan ini.''
Mereka pun melakukannya, setelah merapikan ruang tamu sesuai gambaran Amanda mereka lantas pindah ke halaman untuk membuat taman kecil juga kolam berisi ikan yang dia gemarinya. hari itu Zayden bekerja tanpa lelah dia ikut turun tangan untuk menyulap rumahnya menjadi seperti yang mereka inginkan yah. bukan tanpa alasan Zayden melakukannya selama ini dia begitu memimpikan sebuah keluarga dan ketika akhirnya bisa menikah itu adalah sebuah anugrah untuknya apalagi istirnya cantik dan begitu mempesona sepanjang hari itu ia tak berhenti tersenyum.
''Tuan di sebelah sana adalah tempat yang bagus untuk di buat taman bermain untuk anak-anak tepatnya di samping taman bunga milik nyonya, bagaimana kalau kami membuatnya menumbuhkan tumbuhan rumput disana.''
Zayden bersedekap sambil berpikir dia dan Amanda adalah orang dewasa untuk apa taman bermain.
''Tapi kami tidak memerlukannya.''
__ADS_1
''Memang taman ini bukanlah untuk orang dewasa tapi untuk anak kecil bagaimana kalau putra atau putri tuan Zayden lahir mereka akan kesulitan punya teman bermain.''
''Anak.'' ucap Zayden menaikan sudut bibirnya.
Disaat yang sama Amanda keluar dari dalam rumah bersama para pelayan perempuan sambil membawa makanan dan minuman untuk para pekerja. Amanda tersenyum ramah pada setiap orang yang dia temui bukan hanya itu senyuman manisnya sanggup membuat siapapun hanyut termasuk Zayden. jika di pikir-pikir di usianya sekarang wajar kalau dia punya anak lagi pula dia harus mengikat Amanda dengan adanya anak, sinar mata Zayden penuh rencana.
''Istirahat dulu sebentar makan dan minum dulu, sayang ayo istirahatlah.'' ucap Amanda tersenyum pada setiap petugas yang ada bersama Zayden.
''Terimakasih nyonya Zayden.''
Zayden mengangguk patuh mendekati istrinya dan merangkulnya dengan penuh kebanggaan ia menatap tajam, lalu berbisik yang hanya bisa di dengar keduanya.
''Kau cantik sekali istriku.'' bisik Zayden dengan ekspresi memuja.
Seorang petugas perempuan yang ikut datang menatap Amanda dengan teliti.
''Nyonya sangat bercahaya sekarang kalau boleh tau berapa usia kehamilan nyonya Amanda.''
Ucapan itu membuat Amanda dan Zayden saling menatap..
''Hanil.'' ucap Amanda sambil tertawa.
__ADS_1
''Hamil.'' sambung Zayden tertarik.