
Amanda dan Zayden saling menatap dengan pandangan beku, jangan kalau bisa jangan sampe hamil setidaknya sebelum ada cinta di antara mereka kalau tak ada cinta bagaimana anaknya akan hadir di antara mereka lalu jika hadir bagiamana dia bisa melihat orang tuanya hidup seperti orang asing.
''Aku memang terlihat lebih berisi karna belakangan ini aku makan sangat banyak jadi aku rasa semua itu karna selera makanku saja, aku tidak sedang hamil.''balas Amanda sambil tertawa ringan walau dia bisa melihat wajah serius Zayden juga beberapa pria dan wanita di depannya.
''Well....semoga tebakanmu benar karna aku akan memberikanmu hadiah besar jika istriku benar-benar hamil.''ucap Zayden dengan wajah serius.
Wanita di depannya tampak antusias lalu mengangguk.
''Terimakasih sebelumnya tuan, tapi percayalah padaku mungkin nafsu makan nyonya bertambah setelah nyonya hamil.''
Amanda ikut tertawa walau wajahnya sudah merah padam, mengapa wanita ini cerewet sekali.
''Baiklah..bagaimana kalau kalian teruskan saja pekerjaan ini setelah selesai baru makan dan minum.'' Amanda sedikit sinis.
Wanita itu membeku ketika ia baru saja menggambil minuman dingin segar.
Melihat itu Zayden hanya mampu tersenyum, yah...dia tau kalau Amanda sedang kesal sekarang dan sedang bersikap kejam.
''Baiklah nyonya.''
__ADS_1
Amanda mengulum sinis,
''Baiklah pastikan taman bungaku jadi hari ini karna aku tak suka menunggu.''
Amanda tak menunggu, sambil memasang wajah culasnya dia pergi begitu saja dari taman, hal itu cukup membuat Zayden terdiam sambil menatap anak buahnya, merasa iba karna mereka sangat haus dan lapar, namun dia tak bisa marah pada Amanda selain dia tidak tega mereka juga punya perjanjian pernikahan sendiri.
''Kalian istirahat dan makan saja dulu, setelah satu jam mulai lagi bekerja.''
Senyum lega terbit dari wajah mereka, hingga hanya ada ucapan terimakasih untuk sang tuan..
''Terimakasih untuk kebaikanmu tuan, kami minta maaf jika pembicaraan tadi membuat nyonya tersinggung.'' ucap wanita tadi membungkuk.
Zayden menggeleng...
''Kami semua mendoakan yang terbaik tuan ''
''Bagus.'' jawab Zayden sambil memandang ke lantai atas tepatnya di depan kamar milik mereka dia sungguh berharap kali ini Amanda benar hamil.
♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Nira terpaku mendengar pertanyaan Amanda yang mengherankan baginya,
''Katakan apakah kau melihat tubuhku lebih berisi dari sebelumnya.'' Amanda menunjukan perbedaan fotonya dua Minggu lalu dengan kondisinya sekarang dan meminta Nira membuat perbandingan, dan gadis itu membeku di tempatnya jelas perbedaannya cukup besar namun dia tidak berani bilang karna tatapan nyonya Amanda seakan memaku keberanian dalam dirinya.
''Tidak ada perbedaan yang cukup besar nyonya jadi aku pikir nyonya hanya semakin cantik.''
Amanda berdehem puas dengan ucapan Nira, yang cukup menenangkan dirinya tentu saja anggapan tentang hamil itu memang adalah tuduhan tidak beralasan apalagi dia tidak merasakan gejala apapun seperti wanita hamil lainnya.
Tidak...dia tidak hamil..!!!! Amanda mengangguk puas, dia tak akan pernah membiarkan Zayden menang kali ini dan memanfaatkan kan dirinya dalam sugesti bahwa dia sedang hamil.
''Bagus aku senang jawabanmu Nira, sekarang kau boleh pergi.''ucap Amanda dengan senyuman ceria.
Nira lalu pergi namun bersamaan dengan datangnya Zayden, pria itu menutup pintu di belakangnya dan mendekati Amanda.
''Kita harus bicara Amanda.''
Amanda menyipitkn matanya dengan tajam.
''Katakan apa maumu Zayden.'' desis Amanda bersedekap.
__ADS_1
''Aku serius tentang dugaan kau hamil Amanda...jadi kau harus ikut aku untuk memeriksakan diri ke dokter.''
Amanda menatap dengan gusar, pria ini tidak menyerah.