
Aksa melangkah masuk dan menatap ke arah Monica dan Amanda yang masih saling menatap tajam.
''Amanda apa kau baik-baik saja.''
Amanda memejamkan matanya ketika dia kembali harus menghadapi Monica dan Aksa bersamaan, bukankah hal itu cukup membuatnya sakit kepala,
''Kau siapa.''
Monica menoleh pada Aksa yang melangkah masuk, Aksa mengepalkan tangannya.
''Amanda adalah istriku jadi katakan padaku apa yang kau lakukan, mengapa kau membuat istriku kesal.''
Monica melebarkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, wanita itu menoleh pada Amanda yang tak mampu mengatakan apapun, wanita itu berbalik.
''Jangan bilang kalau benar-benar punya dua suami, bagaimana itu bisa dan Zayden tidak marah katakan padaku apakah kau menaklukannya di tempat tidur karna itu.''
''Pergilah..atau aku benar-benar akan menekan alarm ini.'' ancam Amanda menatap Monica dengan tajam,
Aksa yang menyadari kehadiran Monica tidak nyaman mendekati wanita itu dan mencekal tangannya dengan kuat,
''Lepaskan aku.''
''Pergi dari sini Monica.''
''Siapa kau aku bisa menghancurkanmu.''jerit Monica histeris namun Aksa menguatkan cengkramannya,
''Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan ikut campur mengenai masalahmu dengan Zayden tapi..jangan pernah mengusik Amanda jangan pernah mengusik istrimu,.''
Monica menggila di ruangan itu,
''Kau sudah gila, mana ada seorang wanita punya dua suami.''
''Zayden mencuri istriku apa kau mengerti.''
''Apa.'' teriak Monica tidak terima.
''Yah....dan untukmu Monica silahkan ambil Zayden sesukamu, karna aku juga akan mengambil kembali istriku.''
Amanda menutup pendengarannya,
''Pergilah aku mohon.'' tangis Amanda pecah seketika diruangan itu hingga Aksa menoleh beku,
''Baiklah aku pergi tapi ingat ini baik-baik, Zayden tidak akan pernah mencintai siapapun selain aku apa kau mengerti.''
''Tidak, cukup..pergilah sekarang.''desis Aksa membawa Monika dengan paksa keluar dari ruangan.
Lalu pria itu menoleh menemukan Amanda sedang menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya sampai bergetar hingga hati Aksa seperti diremas dengan kuat, Aksa meneteskan airmatanya mendekati Amanda berdiri di depannya dan menyentuh kepalanya.
''Amanda.''
__ADS_1
''Pergilah...pergi sekarang juga Aksa.''isak Amanda sesegukan.
Aksa tidak pergi, pria itu malah duduk di pinggir ranjang tempat Amanda duduk dan menatap wanita yang masih teramat dia cintai itu dengan pandangan penuh rasa sakit.
''Satu hal yang paling aku sesali adalah, aku tidak memberitahumu segalanya...aku terlalu percaya kau akan baik-baik saja tanpaku beberapa waktu, aku benar-benar mencintaimu Amanda dan kau pikir mudah bagiku untuk pergi.''
Amanda mengangkat wajahnya yang penuh airmata...ia bahkan masih terus menangis, Amanda tidak pernah membayangkann bahwa hidupnya akan seperti ini di tempatkan pada situasi yang sulit dan di paksa memilih di antara keduanya yang pernah terikat padanya,
''Apa yang harus aku lakukan sekarang, mengapa jadi begini Aksa...apa yang sedang terjadi pada hidupku..ini pun sulit bagiku apa kau pernah merasakannya...aku juga terluka, aaaku..''isak Amanda penuh rasa sakit.
Aksa tak mampu menahan perasaannya pria itu kemudian menarik Amanda ke dalam pelukannya, airmata Aksa mengalir di wajahnya, begitu pun Amanda yang menangis di pelukannya, hingga di dalam ruangannya hanya terdengar tangisan penuh rasa sakit.
''Kau tau betapa aku mencintaimu Amanda, aku sangat mencintaimu aku bahkan rela melakukan apapun demi kau.''
''Semua sudah begini Aksa, seharusnya kau memberitahuku waktu itu..seharusnya kau memberitahu saja aku akan menunggu Aksa...tapi aku sendirian dan rapuh, kau telah meninggalkan aku dengan penuh luka, kau sangat kejam.''
Amanda meronta dalam pelukan Aksa dan memukul dada pria di depannya yang tidak menghindar, Aksa menatap Amanda yang begitu hancur sama sepertinya.
''Aku yang salah Amanda, akulah penyebab semua yang terjadi padamu salahkan aku..''
''Yah ini semua kesalahanmu.''
Amanda memukul untuk yang terakhir kalinya dan Aksa kembali mendekap tubuhnya dengan lama, menciumi puncak kepala Amanda dengan kesedihan yang dalam.
''Walau sampai matipun aku hanya mencintaimu Amanda...aku mencintaimu sayang..''
''Tidak masih ada harapan, kau lihat wanita tadi dia mengatakan kalau Zayden tidak mencintaimu dan hanya.''
''Aku hamil Aksa....''isak Amanda dengan airmata sedih.
Deg!!!
Ucapan Amanda mampu membungkam seorang Aksa, meski benar dia sudah tau dari Nala, tapi mendengar sendiri dari kata-kata Amanda terasa berbeda seakan ada seribu panah yang menghujam dadanya, terasa begitu menyakitkan.
''Amanda...mungkin saja itu anakku.''
Wajah Amanda berubah,
''Aksa.''
''Yah...aku tak akan menyerah sebelum aku tau dia bukan anakku.''
Hening...
Amanda memalingkan wajahnya wanita itu mengusap airmatanya lalu menatap kembali ke arah Aksa yang tidak rela.
''Aksa..''
''Jangan memintaku menyerah Amanda karna aku tak akan pernah menyerah kepadamu, apa kau mengerti.''
__ADS_1
Hening....
''Jangan menyiksaku lagi Aksa, lepaskan aku saja.'' jerit Amanda sedih.
''Tidak....aku juga hancur Amanda, aku juga terluka bagaimana pun aku tidak akan pernah membuang satu kesempatan pun apa kau mengerti sayangku, aku harus pergi sekarang.''
Aksa mendekat mengecup Amanda di keningnya lalu meninggalkan ruangan dalam sekejap..
Amanda menundukan kepalanya dalam-dalam, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya pada hidupnya..? Bagaimana dia bisa menghadapi semuanya sendirian.
*******
Amanda terkejut setengah mati melihat ada beberapa kiriman foto mesra antara Zayden dan juga Monica yang di kirim kepadanya airmatanya seketika mengalir deras, di saat yang sama pintu ruangan terbuka dan Zayden masuk dengan tatapan beku melihat Amanda menangis di depan matanya.
''Amanda..ada apa.''
Zayden mendekat namun dengan marah, Amanda melemparkan ponselnya ke lantai dalam posisi menyala dan menampilkan beberapa foto mesra dirinya dan Monica.
''Amanda.''
''Apakah karna kehamilanku kau menjadi putus asa untuk menyentuh wanita lain...aaah...dia mantan kekasihmu aku lupa.''isak Amanda kembali menangis.
Zayden mengepalkan tangannya,
''Siapapun yang mengirim ini padamu akan mati malam ini juga aku berjanji.''desis Zayden lalu melangkah menuju pintu.
''Apakah itu caramu menyelesaikan masalah Zayden.''
Pria itu menoleh..
''Apa maksudmu.''
''Tinggalkan aku saja Zayden, ceraikan aku dan kembali pada kekasihmu Monica.''desis Amanda dengan tajam.
Zayden tertawa kesal, dalam sekejap pria itu mendekat Amanda dan menyentuh pundak Amanda cukup keras hingga Amanda meringis, pria itu tertawa dingin,
''Serarusnya aku menyadari kau sama sekali tidak mencintaiku dan hanya mencintai Aksa..dan kau pikir aku akan melepaskanmu Amanda.''
''Apa..''
''Yah...aku akan menghabisi Aksa dan Monica sekaligus agar kau tau siapa aku sebenarnya...''sinar mata Zayden membara..
Hingga wajah Amanda pucat pasi.
''Kau adalah milikku, kau hanya milikku kau dengar itu..kau harus hidup dan mati di sampingku..tak ada pilihan Amanda Steward.'' desis Zayden murka.
Amanda merasa sesak nafas karna ketakutan..
''Zayden..'' desahnya dengan mata yang basah.
__ADS_1