
''Bibi Amanda.'' jerit Nala memeluk Amanda cukup kuat hingga Amanda menjadi kesal.
''Aku belum tua, berhentilah memanggilku bibi..astaga ada apa denganmu.''
Amanda memutar bolamatanya protes, sementara Nala terlihat tidak perduli, ia memeluk Amanda dengan gemas karna sahabat sekaligus bibinya semakin gemoy saja.
''Kau sangat cantik bibi.''
''Nala...berhentilah memanggilku bibi, kau membuatku gila.'' jerit Amanda menghindar dari pelukan Nala di belakangnya.
Keduanya saling mengejar di ruang tamu hingga tawa menjadi pecah disana, sudah lama mereka tidak bertemu jadi ini cukup menggembirakan untuk Nala. di saat yang sama Lift terbuka, Zayden keluar dari sana dengan wajah terkejut melihat dua perempuan muda itu saling berkejaran.
''Bibi Amanda..jangan pergi.''
''Aku akan membunuhmu jika kau memanggilmu seperti itu Nala..pergilah..''
''Aku merinkanmu bibi Amanda.''
''Oh..kau sudah gila Nala.''
Amanda berlari ke arah Zayden hingga pria itu menangkap tubuh Amanda yang hampir jatuh karna lantai yang licin dan segera memeluknya.
''Apa yang terjadi disini.'' suara tegas Zayden membungkam tawa Nala dan Amanda seketika,
Zayden dalam mode serius memang sangat mengerikan.
hingga kedua gadis itu saling menatap tajam.
''Jangan memanggilku bibi....aku tidak setuju.''ucap Amanda kesal.
''Tapi kau adalah bibiku ketika kau menikahi paman Zayden.''
''Kau bahkan lebih tua setahun dariku, aku malu di panggil bibi.'' Amanda tetap tidak mau terima.
Zayden pun berdehem, ia menatap Nala dan mengedipkan matanya dengan isyarat.
''Begini saja...karna memang kau adalah istriku Amanda, dan Nala keponakanku jadi dia harus memanggilmu bibi tapi karna usia kalian hanya beda setahun maka jika kalian berada di luar kalian boleh memanggil nama.''
Amanda dan Nala saling menatap dengan senyuman setuju.
''Yah..begitu juga bagus.''seru Amanda tenang.
''Padahal aku suka memanggilmu bibi.''
Mendengar hal itu Amanda mulai merajuk tanpa sadar mengalungkan tangan di lengan Zayden dan sedikit menguncangnya.
''Lihatlah suamiku dia tidak setuju.''hasut Amanda kejam.
''Nala.....''
Nala meringis,
''Baiklah maafkan aku paman, aku hanya bercanda.''ucap Nala terkekeh.
Di saat yang sama beberapa pelayan menurunkan banyak koper milik Nala dan di bawa masuk ke dalam rumah.
Amanda juga cukup terkejut, mengapa banyak barang Nala, ada koper warna hitam kesukaan Nala, juga beberapa barang yang di kenali Amanda sebagai milik Nala.
__ADS_1
''Kau akan menginap disini.'' tanya Amanda dengan wajah polos.
Zayden melingkari pinggang Amanda dan tak sengaja, jemarinya menyentuh gundukan kecil di perut Amanda, pria itu menoleh menatap wajah Amanda dengan menilai, mengapa besar sekali tonjolan di perut Amanda, mungkinkah dia mengalami kenaikan berat badan.? Zayden baru saja menyadarinya.
''Zayden jawab aku.'' bisik Amanda menoleh meminta jawaban.
''Yah..''
''Mengapa kau melamun, apakah Nala menginap disini.''ulang Amanda berdebar senang..
Selama ini Amanda tidak punya teman jadi dengan adanya Nala disini dia akan lebih tenang.
''Coba tebak.''ucap Zayden mengecup pipi Amanda, biasanya dia akan marah namun kali ini Amanda membiarkannya.
''Aku tak pintar dalam menebak.''
Zayden menatap Nala yang tersenyum.
''Apa kau setuju jika Nala tinggal bersama kita dia akan kuliah di tempat yang sama denganmu sayang.''
''Apa.'' jerit Amanda senang.
''Yah..bibi.'' bisik Nala masih menggoda.
Amanda melangkah mendekati Nala dan menjewer telinganya dengan gemas,
''Aku bibimu bukan temanmu jadi jangan menggodaku seperti itu.''teriak Amanda tertawa.
''Maaff bibi...tapi bagaimana perasaannmu ketika aku akan tinggal disini.''
''Aku bahagia...aku senang kau tinggal dirumah ini, aku sendirian dan kesepian...tapi Mommy Syakira menginjinkanmu datang.'' tanya Amanda antusias.
''Nayla..''
''Siapa lagi, Nayla sedang hamil jadi Mommy sangat menyayanginya.''
Amanda mengangguk ikut senang, bagaimana pun Nayla punya akhir cerita yang bahagia bersama Nathan. tak ada yang lebih menyenangkan dari hal itu.
''Lalu bagaimana hubunganmu dengan Dava.''tanya Amanda penasaran, terakhir kali bertemu Nala dan Dava akan menikah,
Wajah Nala menjadi mendung,
''Eehhem...bisakah kalian melanjutkan ceritanya di kamar saja, aku butuh sarapan pagi.''ucap Zayden memutus percakapan menenganggan pagi itu.
Amanda lalu menarik Nala berdiri,
''Setelah sarapan ceritakan semuannya kepadaku Nala.''
''Yah...akan aku ceritakan bibiku.''seru Nala mengedipkan matanya.
Mereka lalu keruang makan,
*********
Setelah sarapan, Zayden sudah berangkat ke perusahaannya, dan kesempatan itu di gunakan Amanda dan Nala untuk bicara.
Nala lalu menceritakan hubungannya yang tiba-tiba mengalami masalah, dimana gadis dari masa lalu Dava datang dan mengganggu, karna Nala begitu cemburu hubungan mereka memanas dan Nala memutuskan keluar dari perusahaan Dava untuk melanjutkan kuliah.
__ADS_1
Nala menghela nafas berat,
''Mungkin kau harus mendengar penjelasannya Nala.''
''Tidak..aku tidak akan memberinya kesempatan.''
''Tapi jika kau mengalah sekarang, wanita itu akan senang karna dia berhasil menipumu.''
''Aku tak perduli Amanda, astaga....aku bisa mendapatkan banyak pria lebih darinya,.''
'Yah..kalau prinsipmu seperti itu maka selamanya kau tak akan pernah menikah.''
''Biarkan saja..aku tidak mau menikah muda sepertimu, kak Ana dan juga Nayla...aku masih ingin bebas.''
''Kau benar juga menikah muda sangat mengerikan.''
''Oyah....kau belum hamil.''tanya Nala polos.
''Mau bagaimana lagi, kami jarang melakukannya.''
''Apa maksudmu jarang melakukannya apa kalian pisah kamar.''
Amanda menoleh panik, jika Nala mengatakan ini pada Mommy maka dia akan di eksekusi, Amanda seketika tertawa kencang.
''Kau selalu menyimpulkan di kepalamu, tidak seperti itu Nala, aku sibuk beberapa waktu ini Zayden juga...bagaimana kalau kau mendoakan yang baik-baik saja.''tatap Amanda sedikit mengancam dari matanya.
''Mengapa aku merasa auramu seperti bibi-bibi yang kejam.''ucap Nala bergidik.
''Aaaahah....Nala, aku kesal sekali padamu.'' Amanda mulai merajuk kesal.
''Amanda dewasalah astaga kau sudah menikah, janga merajuk aku harus memberitahu Mommy Serena.''
''Tidak aku akan membunuhmu.''
''Yah...lepaskan aku Amanda.''jerit Nala ketika Amanda menerjang tubunya dan memukulnya dengan bantal.
Kedua wanita seusia itu hanya mampu tertawa, karna jiwa mereka tetaplah seorang remaja, usia mereka masih sangat muda.
''Aku ingin makan Spageti, cepat antar aku Nala.''
''Aku tidak mau.'' Nala protes.
''Baiklah kau mulai melawanku, aku akan menelfon Zayden dan mengatakan segalanya.''
Amanda meraih ponselnya namun buru-buru Nala bangkit dari ranjang,
''Dasar kau wanita pengadu.''
''Biar saja asal kau ikut aku.''desis Amanda tak perduli,
Dengan sedikit kesal Nala meraih jaket.
''Mengapa tidak memakai supir.''
''Kaulah yang menyetir Nala...aku akan menunjukan kota ini kepadamu.''desis Amanda kemudian merangkul Nala setengah memeluk.
Dengan wajah ceria mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah, ketika mobil keluar dari gerbang tampak sebuah mobil berwarna hitam menyusul membuntuti mobil Amanda dan Nala.
__ADS_1
Siapakah dia...?