Kau Harus Menjadi Milikku

Kau Harus Menjadi Milikku
Jatuh Cinta Padamu


__ADS_3

Di sebuah Cafe di pinggiran kota, seorang pria sedang duduk di dalam ruangan sambil menunggu, ia sendirian di siang hari tak ada satu pengunjungpun karna dia telah menyewa tempat ini sebagai pertemuan khususnya dengan Nala.


''Tuan Arron silahkan.''


Seorang pelayan membawakan minumannya namun tak sengaja menumpahkannya di jas milik Arron hingga pria itu menoleh dingin.


''Tuan Arron...aku minta maaf..''


Arron bangkit lalu mengambil kopi panas itu dan dalam sekejap


Crass,..


Secangkir kopi panas itu berpindah tempat di tubuh sang pelayan, Arron tersenyum dingin..melihat pelayan pria itu kesakitan karna luka bakar,


''Pergilah dari sini dengan cepat sebelum aku menghabisimu.''desis Arron dengan tatapan penuh intimidasi.


''Terimakasih tuan.''


Pelayan itu segera pergi dengan sejumlah luka di tubuhnya, dan semua keadaan kembali normal seperti tidak terjadi apapun dan disaat itulah Nala melangkah masuk dengan wajahnya yang ceria, dan ketika Amanda masuk, Arron sedang melap jasnya yang tertumpah kopi hingga dia tak sadar dengan kedatangan Nala.


''Selamat malam Arron.''


Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum dengan lembut, dan Nala akui dia jatuh cinta dengan senyuman Arron.


''Apa yang terjadi.''


''Pelayan yang malang, dia tidak sengaja menumpahkan kopi.'' ucap Arron lembut.


Nala begitu senang, perbedaan Aksa dan Arron sangat terlihat jika Aksa yang tertumpah kopi pelayan itu mungkin sudah mati. Tapi jika itu Arron maka, pria ini punya hati yang besar untuk memaafkan.


''Kau pria yang baik Arron.''


Deg!!!!


Arron menghentikan kegiatannya melap jasnya dia mengangkat wajahnya dan tersenyum.


''Aku pria yang baik.''


''Yah...''


''Aku telah mengenalmu selama bertahun-tahun, aku tau kau adalah pria yang tidak bisa marah pada hal besar sekalipun dan aku pernah mendengar perkataan ini.''


Arron memajukan tubuhnya dia mengerutkan kening.


''Nala katakan.''


''Aku percaya dengan perkataan, perlakukan orang lain dengan baik dan kebaikan itu akan kembali kepadamu.''


''Apakah itu artinya orang jahat tidak memiliki kesempatan.''


Arron menyambut kopi barunya dengan ramah, lalu mengaduknya pelan.


''Kita semua pernah berdosa, layak mendapatkan kesempatan kedua..jadi Arron teruslah berbuat baik..maka kebaikann akan selalu mengikuti langkahmu.''


Arron tersenyum kecil dia menatap mata Nala dengan tajam.

__ADS_1


''Baiklah kebaikan, aku suka perkataan itu.''


''Bagus.''


Nala menyambut coklat dinginnya, sesaat dia menatap mata Arron yang menatapnya dengan senyuman.


''Kau cantik Nala.''


''Tidak...aku tidak cantik Arron ayolah, jangan memujiku sekarang...kau bahkan jatuh cinta pada Amanda dengan sangat banyak.''


Wajah Arron berubah mengeras, seakan memikirkan sesuatu.


''Amanda adalah masa lalu, aku tidak ingin mengganggu atau membicarakannya bagaimana kalau tentang kita saja.''


''Tentang kita apa maksudmu Arron.''


''Aku jatuh cinta padamu Nala, dan rasa cintaku sudah semakin besar kepadamu...jadi maukah kau menerima diriku.''desis Arron sedikit memaksa.


Nala mengulum senyum,


''Kekasihku Dava sudah datang ke kota ini Arron, sejujurnya aku memiliki sedikit kebimbangan.''


''Pilih aku saja Nala...aku bahkan adalah pria yang mengenalmu lama.''bujuk Arron tajam.


Nala pun tersenyum..


''Arron.''


Gadis itu terkejut ketika Arron menangkap jemarinya dan menggenggamnya untuk membuat Nala semakin bimbang,


''Arron..''


Nala segera menarik tangannya dari genggaman tangan Arron dengan wajah yang pucat.


''Aku pikir ini sedikit terlalu cepat, Arron aku tak bisa.''


''Aku tidak memaksamu Nala..''ucap Arron sedikit dingin.


Pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menatap mata Nala dan menjebaknya disana.


''Aku hanya ingin kau memilih dengan hatimu jangan sampai menyesal...aku mencintaimu dan kau bisa melihatnya sayang, tapi jika kau memilih Dava maka aku sedikit hancur.'' Arron meneguk kopi miliknya dalam cangkir dan minum sekali teguk, lalu ia menatap mata Nala dengan tajam.


Nala menjadi pusing sendiri, dia akhirnya menganggukan kepalanya..


''Maafkan aku Arron, tapi setidaknya aku harus memberikan kesempatan hatiku untuk memilih...aku tidak bisa.''


Arron kembali lagi menarik tangan Nala, kali ini sedikit posesif, pria itu menundukan kepalanya dalam-dalam ia mengerang, lalu mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum.


''Aku akan menunggumu di sebuah Restoran 3 hari dari sekarang, jika kau memilihku maka datanglah,tapi jika kau tidak datang maka aku anggap kau memilih kekasihmu.''


Nala menghela nafas dia memijit pelipisnya...mengapa dia menjadi dilema begini.


Arron lalu melepas genggamannya tanpa di minta oleh Nala, pria itu tersenyum lalu kemudian bangkit berdiri dan menatap wajah Nala.


''Semoga harimu menyenangkan Nala, sampai jumpa.''

__ADS_1


''Tapi..mengapa cepat sekali.'' cegah Nala tak rela melepas Arron pergi.


Pria itu berdehem, dia kemudian tersenyum.


''Aku minta maaf Nala.''


Arron lalu melangkah keluar dari Cafe dengan tatapan beku namun di luar dugaan, Nala melangkah mengikutinya keluar dari Cafe..


mengikuti langkah Arron yang menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh, keadaan sekita mulai gelap.


''Arron tunggu.''


Nala menghentikan langkahnya ketika Arron berhenti, pria itu tidak menoleh.


''Pulanglah ini sudah gelap.''


''Katakan padaku apa kau kesal Arron, karna aku bilang kekasihku datang.''


Arron tak bergeming pria itu semakin mempercepat langkahnya dan mendekati mobilnya dan Nala juga semakin mempercepat langkahnya menahan Arron pergi.


Ketika pria itu membuka pintu mobil, Nala menarik lengan Arron namun yang terjadi adalah Arro merengkuh tubuh Nala dan membenturkannya pelan ke badan mobil lalu mengunci pergerakan Nala dengan menahan bahu gadis itu..


Pandangan mereka begitu dalam ada berbabagai emosi di dalamnya hingga mata Nala berkaca-kaca sesaat.


''Apa yang kau inginkan dariku Nala.''


''Tidak...mengapa kau bersikap dingin padaku Arron,mengapa.''


Pria itu menggertakan gigi, pandangannya mengeras.


''Aku tau semua yang ada di dalam pikiranmu bagaimana kau terus mengaitkan aku dengan saudara kembarku Aksa, aku tau semua isi di kepalamu Nala...tapi bukankah aku berbeda, tak bisakah kau melihatku sebagai Arron dan sebagai Aksa.'' suara Arron meninggi di halaman sepi itu hingga Nala merasa jantungnya berdebar keras.


Mengapa hatinya begini...mengapa...?


''Jadi jawab dengan jujur, kau mencintaiku tapi tak bisa menerimaku karna Aksa...jujurlah Nala.''


Nala seperti tersadar, dengan kuat dia mendorong tubuh Arron hingga pelukan mereka terlepas saat itu juga, Nala tak mampu menahan airmatanya yang menetes.


''Yah kau benar Arron, setiap melihatmu aku melihat Aksa bagaimana pria itu dengan kejam hampir merusak keluarga pamanku.''


''Baiklah aku tau sekarang semua ketakutanmu Nala.''


Nala mengangguk dengan sedih,


''Tapi aku tak bisa mengendalikan hatiku kalau aku juga mencintaimu Arron...aku sama sekali tak bisa melupakanmu.''


Sinar mata Arron membara, pria itu mendekat, merengkuh tubuh Nala untuk tenggelam di pelukan, Arron lepas kendali ia membuka pintu mobil dan menarik Nala masuk bersamanya..


Dan pria itu mendaratkan bibirnya pada bibir Nala ketika mereka sudah di dalam mobil.


''Arron..''


''Aku mencintaimu Nala...''desah Arron melum** bibir Nala dengan panas.


''Arrrghthhh...''

__ADS_1


__ADS_2