Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 10


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Keesokan harinya, Tiara sangat malas untuk pergi sekolah, ia memutuskan untuk ijin hari ini dan akan terus berkurang didalam kamar.


"Tolong izinin aku ya, soalnya nggak enak badan rasanya!" Ucap Tiara yang saat ini berada dalam panggilan dengan Ria.


"Seriusan Ra, tumben!" Terkejut Ria.


Tiara langsung menjauhkan ponselnya, suara Ria sungguh sangat membuat telinganya sedikit sakit.


"Yaelah, sekali ini doang!" Ucap Tiara yang kesal.


"Yaudah deh, ntar pulang sekolah aku kesana ya!" Ucap Ria yang langsung begitu saja mematikan ponsel.


Tiara hanya dapat menghela nafas pasrah, sahabatnya itu masih seperti seorang anak kecil saja.


Tok...tok...


"Non Tiara mobil sudah siap, apa non sekolah hari ini!" Ucap seorang pelayan dengan mengetuk pintu kamar Tiara.


Tiara pun mendekat ke pintu, membuka perlahan pintu karena jika ia berteriak dari dalam maka tidak akan terdengar dari luar.


"Nggak deh bik, lagi males ke sekolah!" Ucap Tiara yang saat itu hanya membuka pintu sedikit memperlihatkan wajahnya saja.


"Baiklah non, bibi pergi dulu ya!" Ucap pelayan itu yang sedikit membungkuk dan secara bersamaan Tiara mengangguk kepalanya.


Pintu kamar kembali dikunci, Tiara memutuskan untuk membersihkan badannya memulai pagi yang cerah meski ia tak sekolah hari ini.


Setelah mandi ia langsung mengecek ponselnya dan mencari salah satu nomor yaitu Papa , Perlahan tangannya mengetik sesuatu dan setelah itu handphone ia lempar di kasur.


Ia berjalan ke meja rias, mengambil salah satu masker yang bisa ia gunakan untuk menghilangkan beberapa ruam wajah yang begitu buruk.


Meskipun ia culun dan tak mengerti akan alat kecantikan, tapi ia sedikit banyak mengerti bagaimana menggunakan masker dengan baik dan benar.


30 menit lamanya ia berkutik memperbaiki wajahnya, terlihat wajahnya sudah lebih cerah dan bersih.

__ADS_1


krriukk...krriukk...


Tiba-tiba suara perut membuat nya berhenti menatap wajahnya di cermin, ia pun berjalan keluar kamar menuruni tangga menuju ruang makan.


Terlihat ruang makan itu sudah tertata oleh beberapa makanan dan ia pun segera duduk karena saat ini perutnya tidak bisa menahan aroma makanan didepannya itu.


Tangannya segera mengambil nasi sedikit dan mengambil satu persatu lauk, lalu memakan nya dengan perlahan. Meski ia cukup lapar tapi ia tetap harus bersikap sopan saat makan.


"Eh nona anda makan, apa anda masih memerlukan sesuatu!"Terkejut pembantunya dimana baru datang dari arah pintu belakang.


"Tak perlu bik, aku sudah bisa sendiri kok!" Ucap Tiara yang sudah menyelesaikan menguyahnya.


"Baiklah, makan yang banyak non Berlin, bibi pergi kebelakang nyuci ya!" Ucap pelayan itu yang membungkuk dan Tiara hanya mengangguk saja.


Tiara pun kembali fokus dengan makanannya dan menyuapkannya hingga habis masuk kedalam perutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sekolah Tiara, dimana Ria yang tak mendapatkan kabar apa-apa dari Tiara terus mengirim pesan pada gadis itu, namun satu pun pesan tak dilihat ataupun dibaca.


"Kemana sih tu bocah!" Gerutu Ria yang menatap pesan yang ia kirim.


BRAKK...


Ponselnya terjatuh dengan cukup keras, bagaimana tidak Ria yang tidak memperhatikan sekitar dan menabrak seseorang membuat ponselnya melayang meluncur kedepan dan terjadilah suara yang cukup keras yang dihasilkan ponsel itu.


Posisi Ria dan orang yang ditabraknya begitu sangat romantis jika orang sekitar melihatnya, apalagi ini siaran langsung yang hanya yang disiarkan di siaran drama romantis.


"Berhati-hati lah!" Ucap seseorang yang diyakini oleh ria saat ini ia lah seorang lelaki.


"Ma-maaf!" Ucap Ria yang merasa gugup.


Ria langsung bangkit dari pelukan lelaki dihadapannya, ia langsung berlari menuju ponselnya yang sepertinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Astaghfirullah handphone ku!" Teriak Ria yang sebegitu terkejut melihat keadaan ponselnya.

__ADS_1


Ria berjongkok menatap sedih dengan ponsel yang sudah begitu retak, dimana anti gores yang masih aman tetapi layar utamanya yang malah retak dengan cukup parah dan bahkan saat ini ponselnya hanya bisa menyala.


Lelaki itu menghampiri Ria, ia berjongkok menatap bingung dengan ponsel Ria saat itu.


"Apakah kau baik-baik saja, ada yang bisa saya bantu?" Ucap lelaki itu menghampiri Ria.


Ria memperlihatkan ponselnya dengan wajah dan mata yang sudah berkaca-kaca, terlihat gadis itu ingin menangis dengan kencang tetapi tertahan karena begitu banyak orang.


"Nanti akan saya ganti, jangan bersedih!" Ucap lelaki itu mengusap kepala Ria dengan senyum manisnya dan segera berdiri lalu pergi meninggalkan Ria.


Ria hanya bengong, ia terkejut dengan sikap lelaki yang ia tabrak itu. Satu kata yang ia rasakan Lembut Lelaki yang mengusap kepalanya begitu lembut dan bahkan senyumnya begitu manis.


Ria terus bengong sampai suara bel pun membuyarkan bengongan nya dan segera ia memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya.


......................


Ditempat yang sama di mana masih disekolah, Peter yang saat itu mendengar kabar bahwa Tiara tak sekolah, membuat ia terus diam di ruangannya dan berniat ingin pergi langsung ke rumah gadis itu.


Tapi ia tidak ingin membuat gadis itu menjadi begitu tertekan dan bahkan tidak menginginkan kehadiran nya saat ini.


"Tuan!" Panggil seseorang.


Peter tetap diam, ia terus fokus dengan buku yang saat itu berada ditangannya, meski sama sekali tak ada ia baca.


"Tuan besar Coldas ingin bertemu dengan anda, apakah anda bisa menemui nya sekarang!" Ucap takut-takut pria itu menghadapi tuan muda nya yang tak ada sama sekali respon.


"Baik, siapkan mobil!" Ucap Peter yang langsung meletakkan buku yang berada ditangannya.


Dengan segera pria itu keluar dari ruangan pria tuan mudanya itu. Sedangkan Peter ia segera bersiap-siap dengan membawa ponsel ditangannya dan segera berjalan keluar.


Terlihat sekolah tampak sepi karena saat ini masih melakukan jam pelajaran dan masih fokus dengan pelajaran yang diberi guru pengajar masing-masing kelas.


Dengan wajah datar Peter berjalan menuju depan sekolah, disana sudah menunggu mobil hitam Avanza dengan pintu yang sudah dibuka dengan lebar.


Peter tak mengucapkan satu patah kata pun, ia masuk begitu saja dengan wajah datar dan dinginnya.

__ADS_1


Mobil pun perlahan keluar dari gerbang sekolah dan saat sudah keluar dari gerbang sekolah, dua mobil lagi juga mengikuti mobil Peter dari belakang sebagai jaga-jaga keamanan Peter.


Peter selalu diam dalam perjalanan, saat ini ia sungguh tak ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mau bagaimana lagi sang ayah tetaplah ayah kandungnya yang telah menghadirkan nya didunia ini.


__ADS_2