
...☘️ Reading book ☘️...
Kini ria menatap Tiara dengan intens, ria memperhatikan penampilan Tiara yang saat ini sungguh sangat berbeda saat di sekolah.
Ingin dirinya bertanya, namun ia cukup segan kalo bertanya yang menyangkut soal penampilan meski dirinya adalah sahabat nya.
"Nggak usah lihat kayak gitu kale Ria!" Kesal Tiara.
Ia cukup sedikit merasa tak nyaman dengan tatapan bingung dari sahabatnya itu, ia merasa bahwa sahabatnya itu sedang mengulitinya dengan tatapannya itu.
"Ini kamu kan ra?" Tanya Ria yang tak percaya.
"Nggak, ini Aulia!" Jawab Tiara dengan ketus.
"Owh... Aulia toh, yaudah cari bangku lain aja mbak soalnya bentar lagi teman aku dateng!" Ucap Ria dengan tampang polosnya.
"Ria!!! astaga...huh nyebelin!" Sungut Tiara yang langsung melipat tangan didada dan memajukan bibirnya sedikit kedepan.
"Lah salah aku apa coba, Ihh jadi serba salah deh!" Ujar Ria yang malah ikut kesal, hal itu membuat Tiara hanya dapat menghela nafas pasrah mendapatkan sahabat yang begitu nggak peka.
"Ini aku Ria, astaga...cuman beda tampilan aja loh!" Pekik Tiara yang merasa kesal.
"Iya deh, tapi kok beda...hmm...eh salah, maksud aku...!" Ucap Ria yang berusaha mencari sebuah kata-kata yang tepat.
"Ah aku sudah tau gimana reaksi kamu itu, sekarang kita lupakan soal tampilan aku dan kita mulai pembicaraan yang baru!" Ucap Tiara yang tak ingin tak ingin sahabatnya itu terus bertanya.
"Baiklah!" Ucap Ria yang pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat lain, tepatnya disebuah gedung lama yang sudah ditinggalkan sekitar 4 tahun yang lalu. Kini seorang Peter dengan wajah bringas dan sangarnya siap untuk melawan lawan yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Haiyo, ini tuan muda Peter bukan. Wajahnya lumayan, hmmm.... bagaimana jika ini mengenai wajahnya ya!" Ucap seorang pria yang berusia 35 tahun dengan senjatanya yaitu pisau lipat.
Peter tetap diam, ia duduk disofa dengan bersandar dan sebuah gelas berisi win ia pegang dengan gaya se*xi nya.
"Mari minum, aku malas untuk memulai lebih awal!" Ucapnya menawarkan.
Ia masih bersikap sangat santai ditengah beberapa anggota lawan yang terbilang lebih banyak dari anggotanya.
Pria itu menatap dengan tajam kearah Peter, seakan Peter memasukkan sesuatu yang membuat dirinya kalah.
"Tenang, aku tidak akan meracuni orang yang akan bertarung dengan ku!" Ucap Peter yang tau sirat tatapan tajam lawannya.
Lelaki itu pun merasa tenang, ia pun menuangkan win itu kedalam gelasnya dan meneguknya sekali tegukan.
"Kita lakukan perjanjian!" Ucap Peter santai dengan aura dinginnya.
"Perjanjian? Aku tak ingin!" Tolaknya langsung.
"Kau menipuku untuk bersantai, dasar licik!" Ucap pria itu yang ngeh bahwa saat ini Peter sedang mengalihkan perhatiannya.
Pria itu awalnya biasa-biasa saja, namun saat melihat senyum Peter dan melihat bayangan dari gelasnya membuat dirinya dengan segera sadar.
"Hahahah...tuan Ardes kau cukup pintar ya!" Ucap Peter yang bangkit dari duduk santainya.
Dor...
Satu tembakan meluncur kearah Peter, namun ia bukan benar-benar mengenai Peter tetapi langsung mengenai kepala bawahan Peter.
"Oh, kau membunuh anggota ku, bagaimana menurutmu aku harus bertindak...heh!" Seketika senyum devil Peter terlihat jelas.
Ardes sempat gemetaran saat melihat ekspresi Peter yang mulai berubah, hal itu menandakan ia harus berhati-hati dengan serangan Peter yang lincah.
__ADS_1
"Menembaklah dengan baik!" Ucap Peter mengelus ujung pistolnya dan langsung memutar badannya berbalik ingin duduk kembali.
"Kurang ajar!" Ardes meras emosi melihat ekspresi meremehkan dari wajah Peter itu, ingin rasanya ia membunuh pria yang dihadapannya ini.
Dor...dor... dor serang....
Tembakan tiga kali yang dikeluarkan oleh Ardes, seketika terjadilah yang namanya pertarungan mempertaruhkan nyawa.
...****************...
Kini sudah hampir jam 10 malam, tapi kedua gadis itu tak ingin beranjak dari duduknya dan terus bercerita tentang hal-hal random, terlebih Ria yang begitu bersemangat.
"Oh benarkah, terus bagaimana dengan kakak sepupu mu itu Ria?" Tanya Tiara yang cukup kepo dengan keadaan kakak sepupunya itu.
"Ya tentu nggak bisa berdirilah dan ketiban gajah!" Ujar Ria dengan tawanya yang bebas.
Tiara ikut tertawa, saat ini ia bisa menghilangkan sementara pikirannya yang terus berkecamuk.
"Udah ah, udah malam yok pulang!" Ajak Tiara saat melihat jam ditangannya.
"Aish...cepet banget ya, yaudah deh yok pulang!" Lirih Ria yang cukup tak rela harus pulang.
"Udah lain kali kita kayak gini lagi!" Bujuk Tiara sambil merangkul sahabatnya itu.
"Yaudah deh!" Ucap Ria yang tersenyum manis.
Mereka pun berjalan kearah kasir, kini Tiara memaksa untuk agar dirinya yang membayar makanan mereka. Setelah melakukan pembayaran mereka pun akhirnya pergi meninggalkan cafe tersebut.
*******
Maaf authornya ngantuk, author kan masih seorang pelajar jadi ngantuk, yaudah besok author up lagi deh janji😁🤟
__ADS_1