Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 28


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini disebuah hotel bintang lima yang berada tepat di Kolombia bagian Utara. Peter sedang menghisap rokok dengan beberapa botol wine dengan kadar alkoholnya 55%, cukup tinggi bukan.


Itu bukanlah masalah baginya, tapi sekarang ia senang dan besok akan bertemu dengan gadisnya dan akan membawa atau mengurungnya untuk dirinya sendiri.


Ia pastikan gadis nya itu tidak akan bisa melarikan diri darinya lagi. Senyum semriknya terus terlihat disudut bibirnya, terdapat perasaan tak sabar untuk bertemu dengan gadisnya itu.


"Kau akan menyesal telah meninggalkan ku!" Gumamnya sambil menyesap wine nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dipagi hari yang cerah, dimana kegiatan dipagi harus dilakukan segera sebelum akhirnya matahari begitu membakar kulit.


Tiara, wanita itu akan memotong kayu sebelum tepat tengah hari, karena jika sudah dijam seperti itu mungkin ia akan kewalahan karena sinar matahari yang nanti menyengat.


Saat ini ia sudah siap dengan kapak dan tudung dikepalanya, handuk kecil sudah berada di lehernya untuk mengelap keringat yang membasahi wajahnya nanti.


"Mau potong kayu Ra, sini aku bantu" Ucap jac yang tiba-tiba sudah berada disamping Tiara.


"Enggak perlu, aku bisa sendiri kok!" Tolak Tiara dengan senyum manisnya.


"Udah ah yok, aku tetap akan tetap membantu mu!" Bantahnya yang langsung menarik Tiara.


Kini Tiara hanya dapat melihat jac melakukan pekerjaannya, ia sudah berusaha terus menolak tetapi bukan Jac kalau tidak memaksa.


"Mangkanya ngeyel banget sih dibilangin, padahal aku kan bisa!" Omel Tiara dengan mengelap keringat jac menggunakan handuk kecilnya.


Jac hanya diam, ia memperhatikan wajah Tiara yang tampak setiap hari semakin manis saja, senyumnya begitu menenangkan menurutnya dan membuatnya bisa ikut larut dalam senyuman juga.


"Eh kok diam aja, udah sana minum dulu biar aku yang lakukan!" Ucap Tiara yang sedikit mendorong jac agar sedikit menjauh.


"Udah duduk aja, tinggal sedikit lagi kok!" Ucap jac yang membawa Tiara duduk di gubuk yang memang sengaja sediakan untuk tempat berteduh.


Tiara hanya dapat pasrah, jac memang sangat susah dibilangin, apalagi jika lelaki itu memang sebenar ingin melakukan hal itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari bahwa dari jarak yang cukup jauh sedang merekam dan memperhatikan semua yang mereka lakukan.


...****************...


Peter melakukan meeting pagi ini, ia harus bangun pagi disaat kepalanya begitu sakit setelah mabuk. Bahkan saat meeting ia selalu memegangi kepalanya yang cukup sakit dan tak fokus dengan penjelasan yang dilakukan.


"Tuan apa anda baik-baik saja?" Tanya Juan dengan berbisik.


"gak!"


Meeting pun tetap berlangsung meski Peter dalam keadaan yang mungkin tidak fokus dengan penjelasan yang dilakukan para karyawan nya.


Peter keluar dari ruangan meeting dengan sangat gagah, ia berjalan dengan wajah angkuh nan sombongnya. So tak masalah bukan, dia orang kaya dan memiliki kekuasaan.


Semua mata menatap kagum dengan atasannya itu, selain wajah nya yang begitu tampan, tubuh Peter begitu sangat tegap dan sixpack kekar.


Peter masuk kedalam lift khusus untuk dirinya menuju lantai paling atas dan diikuti oleh Juan.


Juan tak kala tampan, wajahnya begitu kaku dan ganteng, sifatnya yang tegas dan dingin membuat kewibawaan nya tak kalah jauh dari seorang Peter.


"Bagaiman?" Tanya Peter.


Juan yang mengerti dengan maksud tuan nya itu tentu saja langsung mengeluarkan iPad lipatnya dari sakunya.


"Ada Vidio terbaru tentang nona tiara!" Ucap Juan dengan cukup ragu.


Bagaimana tidak ragu coba, sedangkan ini Vidio yang memperlihatkan kemesraan Tiara dengan seorang pria dan bahkan memberikan senyum yang begitu sangat manis.


Peter langsung merebut iPad Juan dari tangannya, ia memutar Vidio tersebut, terlihat Peter hanya diam namun terlihat dari telinga nya yang memerah Seperti nya menahan amarah bukan.


"Hmm...tuan!" Panggil Juan dengan cukup berhati-hati.


"Cari!" Ucapnya yang langsung berlalu pergi dengan melemparkan iPad Juan dan untungnya pria itu sigap.


Juan hanya dapat menghela nafas panjang, ia melihat kearah iPad nya yang anti goresnya sedikit retak dan oh ya tunggu 'cari', Apa yang harus dicari coba, informasi pria tersebut.

__ADS_1


"Sungguh kemarahan yang menyeramkan!" Gumamnya dengan menggelengkan kepalanya.


...****************...


Menjadi bintang film adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh seseorang yang ingin berkembang, ia begitu antusias untuk masuk kedalam dunia entertainment, namun hal itu tak berlangsung lama, setelah mereka sendiri yang merasakan bagaimana sulitnya hal itu.


Itu tak berbeda jauh dari Ria, gadis itu begitu bersemangat masuk kedalam dunia entertainment namun pada akhirnya ia begitu malas untuk melanjutkan kegiatannya.


Kini ia sudah berada didepan kamera, ia akan melakukan foto short ala mafia, dimana ia akan menjadi bintang di film layar lebar yang akan berlangsung 5 bulan lagi.


Ia berfoto dengan lawan jenisnya yang tak lain adalah seorang pria yang akan menjadi peran pria utama di film yang akan ia lakukan itu.


"Sedikit lebih dekat, bengkokkan punggungnya dan wajah menatap kesini dengan datar!" Intruksi fotografer yang sudah siap dengan kamera dan beberapa lensa penerang.


"Baiklah, kau seharusnya lebih gimana gitu, jangan terlalu jutek!" Tegur fotografer yang telah mengambil satu fotonya.


"Jangan banyak bicara, kau cukup tinggal memberiku intruksi dan oh ya jangan cuma aku yang kau tegur!" Sinis Ria yang langsung melangkah menuju meja rias yang sebentar lagi ia akan melakukan foto sesi kedua.


Ya Ria begitu kesal saat ini, selain ia terus ditegur ia juga harus melakukan peran dengan pria yang merupakan mantannya itu, sangat jengkel sih namun ia tetap harus profesional.


"Apa kau begitu membenci ku!" Ucap pria itu yang duduk di meja rias satu lagi.


Ria tetap diam, ia membiarkan wajahnya dibersihkan oleh para pekerja agar merubah sedikit model makeup yang sesuai dengan tema yang akan digunakan.


"Bukankah kau bisa menolaknya, kenapa kau memaksakan ini?" Tanya nya yang menatap lekat wajah Ria yang sebagian terhapus make up.


"Tetap lah bersikap profesional, jangan melibatkan perasaan!" Ketus Ria.


Pria itu tersenyum tipis, ini yang ia suka oleh seorang Ria, gadis itu begitu sangat menakjubkan dalam melakukan segala hal, bahkan ia ingin kembali berpacaran dengan gadis itu, namun tak bisa semua nya sudah berakhir karena sebuah pekerjaan juga.


"Apa kau tak ingin kembali seperti dulu?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir pria itu.


Ria memutar kepalanya sedikit dan menatap wajah mantan pacarnya itu dengan lekat, meski sebenarnya ada secarik rasa yang terdapat di lubuk hatinya terdalam, namun sebuah kebencian karena penghianatan begitu besar.


"Kita sudah berakhir!" Ucapnya yang langsung bangkit.

__ADS_1


__ADS_2