
Brakk...
Pintu kamar tertutup dengan kasar, terdengar kunci yang mulai terputar. Peter terdiam di depan pintu kamarnya, ayolah ia baru saja di usir dari kamar.
"Sayang! Tega kamu ngusir aku??!" Teriak Peter yang masih berusaha membujuk sang istri.
"Enggak mau sebelum kamu janji mau bawa aku terbang!!" Teriak dari dalam yang dilakukan Tiara.
Peter hanya dapat menghela nafas berat, bukan dirinya tak ingin hanya saja itu demi keamanan istri dan calon bayi nya, bagaimana pun istrinya itu lagi hamil besar.
"Setelah melahirkan oke, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu!!" Peter masih berusaha membujuk Tiara namun tetap saja tak dapat jawaban.
Peter menghela nafas berat, saat ini ia harus mengalah. Jika saja diteruskan, mungkin ia akan selalu tidur diluar dan lebih parahnya selamanya.
"Baiklah, iya besok kita akan terbang bebas, jadi bolehkah aku masuk?" Seketika pintu terbuka, menongollah wajah cerah Tiara.
"Benarkah, baiklah aku akan siap-siap besok tapi...!" Peter tersenyum cerah, namun bibirnya kembali melorot kebawah. " Kamu tetap di luar!" Pintu kembali tertutup dengan kuat.
"Sial@n! Haish... sepertinya malam ini aku tidak akan tidur;" Peter pun melangkah lesu kearah ruang kerjanya.
"Kerjaan, kerjaan dan kerjaan...mungkin memang nasib ku!" Gumamnya menggerutu.
...****************...
Disinilah, Peter terdiam di tempat room khusus helikopter. Terlihat Tiara begitu tersenyum lebar dan bahkan tak tinggal diam.
"Berhentilah sayang, nanti kau akan kelelahan!" Tegur Peter pelan.
"No! Aku kan memakai nih koper, kenapa kau berlebihan!" Kesal Tiara.
"ya ya aku akan selalu menyerah jika harus berdebat dengan mu, tapi kau benar-benar ingin melakukan itu?" Sekali lagi Peter menanyakan hal yang sama.
Tiara berdecih kesal, udah berapa kali suami nya itu terus menanyakan hal itu, mungkin sudah lebih dari sepuluh kali.
"Yakin dan sekali lagi kau menanyakan hal itu kembali maka kau tidur di luar sebulan!" Ancam Tiara memutar mata nya kesal.
"Haish...baiklah, ayo!" Peter menyambut tangan istrinya itu, meski ada dalam hati rasa was-was namun hal itu harus tetap dilakukan.
Peter terduduk dengan cemas, tangan nya sudah berkeringat dingin. Ia tidak lah merasa sama sekali takut akan dirinya, satu yang ia takutkan adalah istrinya. Ayolah ini sudah hamil besar bukanlah hamil pemula.
__ADS_1
"Aku ingin muntah!" Ucap Peter, entah kenapa pria itu merasakan sesuatu yang hampir keluar dari dalam.
"Astaga, seriusan kamu...oh tolong ambil plastik!!" Pekik Tiara.
Dengan cepat pilot segera mengambilkan kantong plastik untuk menampung muntah itu.
"Hoekk...hoekk!" Peter terduduk lemas setelah mengeluarkan semua isi dalam perut nya.
Tiara mengurut tekuk kepala Peter dengan minyak kayu putih, bagaimana pun hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Hoekk...hoekk...pusing banget!!" Kembali lagi keluar isi perut Peter dengan sendirinya.
"Pak turunkan saja sekarang, plisss...Peter harus segera ke dokter!" Panik Tiara.
Dengan cepat helikopter yang di udara itu perlahan turun kebawah, bahkan beberapa bodyguard langsung mengerumuni helikopter tuan nya itu.
"Angkat sekarang cepat!!" Tintah tiara pada bodyguard suaminya itu.
Dengan cepat bodyguard itu segera mengangkat tubuh tuan nya itu menuju brankas yang segera disediakan oleh pihak bandara.
...****************...
Peter mengalami panik berlebihan yang membuat pria itu mengalami hal yang seperti itu, salah satunya muntah. Dehidrasi dan kurangnya tidur membuat fisik tubuh Peter berkurang.
"Kan enggak jadi terbang, sepertinya ini memang salah ku!" Gumamnya sambil mengelus dagu nya.
Tiba-tiba sebuah tangan mengelus rambutnya lembut, Tiara mendongak melihat wajah pucat yang tersenyum padanya.
"Apa yang kau pikirkan hmm... jangan terlalu berpikir keras!" Peter tersenyum tipis menatap penuh cinta pada istrinya itu.
"Ini salah ku, maaf!" Lirihnya menunduk dalam.
"Itu bukanlah salah mu, memang kondisi tubuhku kurang fit." Ujar Peter tersenyum manis, ia tak ingin membuat istrinya banyak pikiran.
"Haish...tapi tetap saja karena keinginan ku terjadi hal seperti ini!"
"Ets...itu keinginan anak kita, jadi tidak ada salahnya untuk mewujudkan nya. ayolah sekarang jangan seperti ini, aku baik-baik saja dan hanya membutuhkan sedikit istirahat!" Ucap Peter yang menyudahi percakapan yang mungkin akan membuat istrinya semakin kepikiran.
"Sini tidurlah disampingku, aku rindu dengan aroma tubuhmu!" Ucap Peter yang tersenyum tipis.
__ADS_1
Tiara pun mengangguk senang dan langsung tidur di samping suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu setengah bulan telah berlalu:
Di dalam ruangan persalinan, Tiara sedang berusaha mengejan sekuat tenaga untuk mengeluarkan satu buah hati yang begitu di tunggu-tunggu.
"Tarik nafas buang, lakukan berulang-ulang buk lalu mengejan!" Intruksi dokter persalinan yang berada di bawah Tiara.
"Enggghhh...hah...hah...Peter sakit...tolong!!" Teriak Tiara dengan menggenggam kuat tangan Peter.
"Bersabarlah sayang, harus kuat. Sekali lagi oke!" Ucap Peter menyemangati.
Tiara menarik nafas dengan dalam dan sekali ejanan kuat, suara bayi langsung terdengar mengalun.
"Puji syukur atas mu!" Lega Peter mengecup kening Tiara yang berkeringat penuh sayang.
Bayi segera di bersihkan dan beberapa suster membantu membersihkan tubuh sang ibu bayi. Setelah semua nya selesai, sang bayi segera di letakkan di samping ibunya.
"Anakku!" Lirihnya dengan tangan yang mengelus pipi halus mungil itu.
"Dia mirip seperti ku!" Ucap Peter yang bahagia.
"Aku merasa bahagia setelah keluarnya dia, siapa nama yang akan dibuat sayang?" Tiara mendongak menatap bahagia kearah Peter.
"Dean Edzhar Peter!" Ujar Peter.
"Artinya?"
"Sang pemimpin yang bercahaya;"
...BERSAMBUNG...
*Hallo gaes, bagaimana semoga senang dengan cerita author. Jika ada kesalahan kata, lisan, atau penulisan mohon di maafkan. Kita sesama makhluk tuhan yang maha esa pasti memiliki sebuah kesalahan, semoga dengan ini para readers berkenan memaafkan author jika ada kesalahan.
Salam untuk semua
Author: Gaby Fransisca julia
__ADS_1
Izin berpamitan, semoga menyenangkan☺️😉*