
...☘️ Reading book ☘️...
Sepulangnya dari rumah sang papa, tampak wajah Tiara sumringah senang, kali ini semua resah dihatinya bilang setelah bertemu dengan sang ayah.
"Bagaimana sayang...apa kamu senang?" Tanya Peter saat melihat wajah tiara yang begitu ceria.
Seketika Tiara menatap kearah Peter, wajahnya langsung datar dan tampak sedang menahan kesal. Peter menatap bingung, apa seorang gadis secepat itu merubah ekspresi nya kah.
"Hmm...makasih!" Lirih Tiara yang menunduk.
Peter berdecak jengkel, kenapa harus menunduk sih seharusnya itu menatap kearahnya.
"Angkat kepala mu!" Jengkel Peter.
Tiara mengangkat kepalanya perlahan, terlihat wajahnya yang sedikit berkaca-kaca akibat air mata kebahagiaan hampir saja tertumpah.
"Katakanlah sekarang!" Ucap Peter meyakinkan.
"Hmm...makasih!" Ucap Tiara dan langsung kembali menunduk karena ia tak bisa tahan menatap mata elang Peter begitu lama.
"Hmmm...tapi aku ingin imbalan!" Rengek manja Peter.
Tiara langsung mendongakan kepalanya menatap bingung kearah Peter. Peter tersenyum, inilah yang ia suka melihat ekspresi wajah Tiara yang seperti seekor kucing.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Tiara bingung.
Peter menunjuk kearah pipinya, beberapa kali jari nya ia tepuk-tepuk ke pipinya sendiri.
"Ayo!" Ucap Peter.
Tiara bingung harus melakukan apa, ia pun langsung mendekat dan mengecup sekilas lalu kembali ke duduk nya semula.
Peter tersenyum, ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tiara yang menggemaskan, namun ia masih harus bersikap biasa saja untuk menjaga image nya.
"Satu lagi belum!" Ujar Peter menunjuk pipi sebelahnya lagi.
"Udah, enggak mau lagi!" Ucap Tiara dengan pipi yang memerah menahan malu.
"Oke!" Tiara perlahan mendekat, namun siapa sangka Peter tersenyum miring, wajahnya yang menatap kesamping berubah lurus yang membuat Tiara langsung mencium tepat di bibirnya.
Tanpa ingin memberi kesempatan Tiara lepas, ia langsung menahan tekuk dan pinggang Tiara untuk lebih mendekat. Tiara berusaha mendorong tubuh Peter, namun tenaga Peter begitu kuat bahkan malah semakin membuat ia menjadi lebih dekat.
Hingga Tiara beberapa kali memukul bahu Peter untuk menyelesaikan itu semua, setelah terlepas ia langsung meraup udara dengan rakusnya. Wajahnya memerah karena nafas yang hampir habis dan malu yang menyertainya.
"K-kau!" Tiara langsung mendorong berusaha menjauh meski pinggangnya masih tertahan oleh tangan kekar Peter.
"Hmm...kenapa sayang, kamu belum puas kah!" Goda Peter menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Tiara berdecak kesal, ia langsung memalingkan wajahnya menatap jendela. Rasanya jengkel melihat wajah Peter yang menggoda nya seperti itu.
Peter tersenyum miring, ia mendekati Tiara dan tangannya meraih dagu wanita itu memutar menatapnya.
"Hey...apa diluar begitu indah dari ku!" Ujar Peter yang memasang wajah kesal.
Tiara hanya diam, ia berusaha untuk memalingkan wajahnya namun Peter malah menahannya dan malah seperti menekan dagu nya cukup kuat.
"Sstttt!" Ringis Tiara.
Peter mendekati wajahnya, ia mengecup bib*r Tiara dan ia langsung ********** dengan penuh penuntunan. Tiara kewalahan dengan cara bermain Peter yang sangat begitu bruntal, bahkan ia yang hanya diam saja sampai bingung harus berbuat apa.
Tangan Peter tak tinggal diam, ia sudah menunggu dari tadi dan kini ia harus sedikit merasakan itu. Perlahan tangannya menarik seleting baju Tiara dan perlahan memasukan tangan mencari sesuatu.
"Engghhh!" Lenguh Tiara saat satu tangan Peter begitu mudahnya mer***s gund***n bukit kembarnya.
Peter merasa terangsang, ia langsung semakin agresif dan mendominan memulai permainan.
Tiara yang merasa ini semakin kesini, ia langsung menepuk-nepukan bahu Peter, hingga akhirnya Peter melepas tautan mereka.
"Kita dimobil, ada sopir!" Ucap Tiara dengan wajah merahnya.
"Hmm...baiklah, kalo sudah dirumah baru kita lanjutkan!" Ujar Santi Peter dan memperbaiki jas nya untuk kembali tapi.
__ADS_1
Tiara hanya diam dengan wajah merah menahan malu, ia hanya dapat menatap ke jendela melihat sekitar yang ia lalui.