Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 40


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini mereka langsung menuju restoran, saat ini mereka akan siang lebih dahulu untuk memulai kegiatan yang lainnya. Lihatlah seperti pengantin pada biasanya Peter terus tersenyum bahagia, seperti bukan dirinya saja. Sedangkan Tiara hanya dapat diam dengan muka masamnya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Peter dengan wajah ceria.


"Seterah!" Ujar Tiara dengan wajah acuh.


"Bagaimana kalo kita memakan BBQ A cheese?" Tanya Peter sekali lagi.


"Aku lagi diet!" Ujar Tiara.


"No...kamu enggak boleh diet, so...aku tidak suka itu!" Tolak Peter yang memperlihatkan sebuah menu makanan.


"Aku pengen bakso!" Ucap Tiara.


"Hahahaha...baiklah!" Ucap Peter dan sedikit menggerakan lonceng yang disediakan, seorang pelayan datang dengan membawa buku catatan.


"How are you sir, is there anything I can help you with?" Sapa pelayan itu.


"I want to order oyster sauce spaghetti and also meatballs, don't forget to drink lemon tea!" Ujar Peter.


Pelayan itu mengangguk dan menulis semua yang dipesan oleh tamu nya. Mengapa mereka menggunakan bahasa Inggris, ya karena mereka berada di restoran kelas atas yang mengandalkan sistem bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.


"Wait a minute sir, in 10 minutes it will come!" Ucap pelayan itu dengan sedikit membungkuk dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Peter kini memfokuskan diri pada ponselnya dengan menggenggam erat tangan Tiara, banyak sudah yang masuk dari email nya yang seharusnya ia selesaikan sekarang namun harus tertunda akibat pernikahan ini.


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman mansion besar keluarga Coldas. Ayah Peter dengan wajah sangarnya melempar bawahannya menggunakan hiasan ruangan, beling ada dimana-mana akibat amukannya.


"Aku enggak mau tau, culik wanita itu dan bunuh dia!" Sentak cordas dengan wajah piasnya.


"Siap tuan!" Jawab bawahannya itu dengan menunduk takut dan berlalu pergi meninggalkan nya.


"Sial ini semua karena Wanita sialan itu!" Umpatnya kesal.


Emosinya sudah tak tertahan, seharusnya diusia nya yang sudah tua ini tidak mengharuskan melihat tingkah anaknya yang begitu menjengkelkan. Lihatlah, dia bahkan berani menikahi gadis yang sudah ditentang keras olehnya dan menolak keras gadis yang akan di jodohkan.


"Semua akan berakhir setelah dia m@ti!" Gumamnya yang menatap nyalang kedepan.


...****************...


Kini disebuah taman dengan di tengah sebuah air pancur yang cukup besar, disinilah ria bersantai dengan menggoyang-goyangkan kakinya. Ia baru saja selesai syuting didaerah ini dan ia memutuskan untuk bersantai meski hanya setengah jam.


"Apa kau memiliki banyak pikiran, aku sedang membawa boba!" Ucap Tristan yang memperlihatkan minuman dingin dengan jel bulatan yang kenyal.

__ADS_1


"Makasih!" Jawab ria menerima minuman itu.


Tristan ikut duduk di samping ria, ia menikmati wajah cantik ria yang terpancar oleh sinar matahari yang cukup silau.


"Berhenti menatapku!" Ucap ria yang saat itu berbalik menatap Tristan.


"Kau cantik!" Ucapnya pelan dan masih dapat di dengar oleh ria.


"Hmm!" Tiara hanya berdehem, ia menetralkan degup jantungnya. Meskipun ia sering dipuji, namun ia merasa cukup tersanjung mendengar pujian dari seorang lelaki tampan.


"Kau lucu!" Ujar gemas Tristan yang sedikit mencubit pipi ria.


Ria langsung terdiam ditempat yang mendapat perlakuan seperti itu, ia menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu.


"Kau seharusnya tak terlalu diluar batas!" Geram seseorang yang tak lain adalah Gerald.


Ya Gerald dari tadi memperhatikan ria, ia sempat tersenyum tipis melihat pemandangan ria yang menikmati suasana taman, namun ia menjadi jengkel akibat datangnya Tristan yang menghampiri Ria.


"Bukan urusan mu, seharusnya kau tak mengganggu disini!" Sinis tristan dengan wajah jengkelnya.


"Kenapa kau yang sewot bukankah ini tempat umum dan aku bebas mau kemana saja!" Sewot Gerald dengan wajah sinis.


"Tapi bukankah banyak tempat disana, kenapa kau harus berdiri disini!" Jengkel Tristan.


Mereka berdua pun saling melayangkan tatapan tajam, sedangkan ria hanya dapat menghela nafas panjang melihat kedua pemuda yang seperti anak kecil saja.


"Sudahlah, aku lapar!" Ucap ria yang langsung bangkit dari duduknya.


"Ayo!" Ajak mereka secara serentak.


"Kalian kenapa?" Tanya bingung Ria.


"Kau kenapa mengikutiku!" Ujar mereka kembali secara serentak lagi.


"Hahahaha...kalian memang kompak!" Ujar ria yang sedikit bertepuk tangan dan langsung melangkah lebih dulu meninggalkan dua pria yang saling bersitatap tajam.


"Eh aku ikut!"


"Aku juga!"


Mereka pun langsung berlari mengikuti ria dari belakang, mereka mengikut saja kemana ria masuk dan berakhir pada penjual bakso.


"Hmm...itu kamu yakin mau makan disana?" Tanya ngeri Tristan.


Bagaimana tidak ngeri, lihatlah begitu banyak masyarakat biasa yang makan dan mungkin salah satu diantara mereka pasti fans mereka, meskipun tidak akan mengejar-ngejar seperti di drama-drama namun jika makan menjadi pusat perhatian membuat mereka tidak bisa menikmati makanan.

__ADS_1


"Ya kenapa, kalo kalian enggak mau bisa kembali!" Jawab santai ria yang langsung saja melangkah mendekati penjual bakso.


Tristan dan Gerald hanya menatap ria yang sudah memesan bakso dengan begitu senang, dengan hembusan nafas yang berat secara bersamaan mereka pun mendekati penjual bakso.


"Satu bakso lagi pak!"


"Saya juga!"


Mereka pun berjalan beriringan menuju meja kosong, disana diantara mereka masih dalam mode diam dengan semua mata terus menatap mereka.


*Eh lihat-lihat, itu bukankah Tristan ganteng...aduh...ganteng banget yak kalo dekat


Eh vidioin kali mereka makan disini dan kita ketemu mereka, pasti viral


Itu bukankah kak ria yak, cantik banget yak...lihat tu kayak cinta segitiga anjir


Kok bisa ya mereka nyasar di tempat tukang bakso*?


Begitu lah semua ucapan beberapa orang yang secara terang-terangan menunjuk mereka. Bahkan baru saja merasakan lega, mereka sudah dihampiri beberapa gadis yang ingin foto bersama.


"Baiklah!" Jawab mereka pasrah.


Kini mereka semua berfoto, namun malah bertambah dan bertambah yang membuat mereka menjadi semakin pusing.


"Ini lah yang ku takutkan!" Ucap Tristan dengan wajah yang berusaha tersenyum ramah.


"Siapa suruh ikut!" Sewot Ria.


"Banyak banget!" Gumam Gerald dengan wajah yang gerah.


"Ehemm...kami disini mau makan, mohon toleransinya untuk kalian agar kami bisa makan oke!" Tegas Gerald dengan notasi suara yang cukup besar.


"Yaaa...!" Hanya kata itu yang terdengar cukup jelas, selebihnya adalah omelan mereka jengkel karena tak mendapatkan foto bersama.


Kini mereka bertiga pun menjadi lega dan bisa nafas, hingga 4 mangkok datang menghampiri mereka, eh tunggu malah ditambah dua mangkok lagi. Ini enggak salah bukan.


"Ini!!" Mereka berdua menatap ngeri melihat banyak mangkok bakso di depan mereka.


"Aku yang pesan dan kalian ambil bakso kalian tu!" Ketua ria.


"Yakin mau ngehabisin ini?" Tanya Gerald tak percaya.


"Yaiyalah, aku sudah berusaha untuk kabur dari managerku dan kesempatan ini harus aku puaskan untuk menikmati semua jenis bakso!" Ujar ria dengan santainya melahap bakso yang ada di depannya.


Sedangkan Tristan dan Gerald sudah bersendawa sendiri saat melihat bakso yang begitu banyak, seperti mereka tidak perlu makan deh karena hanya untuk melihat saja sudah kenyang.

__ADS_1


__ADS_2