Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 48


__ADS_3

Peter melangkah dengan cepat tanpa mempedulikan seorang wanita di belakang nya itu.


"Peter! Peter bentar, aku ingin bicara dengan mu sebentar saja!" Teriak nya yang masih berlari mengejar Peter.


"Aku mohon!" Wanita itu sekarang sudah berada dihadapan Peter saat ini dengan wajah memelas dan air mata yang mengalir begitu derasnya.


Peter mendengus kesal. Ia pun memalingkan wajahnya, ada rasa benci yang besar dan jika saat melihat wajah gadis itu.


"Apa kamu tak merindukanku peter?" Lirihnya yang masih menatap lekat wajah tampan di hadapannya itu.


"Berhenti mengejar ku amora, aku sudah memiliki seseorang." Tegasnya yang menatap tajam kearah wanita itu.


"Aku mohon kita mulai dari awal ya," Amora mengambil tangan Peter yang berada didalam saku.


Peter langsung menghempas tangan mungil itu, entah kenapa luka didalam dadanya semakin bertambah saat kehadiran wanita itu.


"Aku tak mau, setelah kau dicampakkan dan kau malah mencari ku...ck! Dasar jal*ng" Remeh Nya yang menatap begitu tajam kearah lawannya.


"Aku bisa jelasin..."


"Berhenti mengejar ku, aku tak ingin melihatmu lagi!" Peter segera melangkah membelok melewati tubuh wanita itu.


"Aku terpaksa Peter, INI JUGA SEMUA KARENA MU!" Teriaknya yang langsung terduduk di lantai.


Air matanya mengalir deras, ia tak sanggup menahan beban ini semua. Apa tak ada sedikit pun dirinya di ruang hati pria itu setelah semua yang ia lakukan.


Peter terdiam, ia tak berani untuk berbalik ke belakang. Benci, cinta, dan bersalah semua rasa itu bercampur aduk dalam hati nya, namun satu hanya satu nama yang begitu besar didalam hatinya.


"Aku tak peduli, kau tau aku sekarang sudah memiliki seseorang yang begitu aku cintai dan kau hanya masa lalu yang harus di hempas jauh-jauh!" Ucapnya dengan wajah dingin dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Amora yang menangis tersedu-sedu.


Apartemen, disini lah mereka tak sengaja bertemu. Dimana Peter yang ternyata sedang melakukan pertemuan dengan teman lamanya yang tepat berada di dalam lantai yang sama dengan apartemen Amora.


Sebulan lamanya ia telah berusaha untuk mengambil hari pria dingin itu namun semuanya gagal hanya karena dirinya bekas dari musuhnya.


"Ini semua karena mu Peter, aku melakukan ini demi keselamatan mu...hiks...hiks...tega nya kau meninggalkan ku dalam keadaan terpuruk seperti ini~" Lirihnya yang menangkup wajahnya yang basah penuh air mata.


Air mata mengalir tak bisa terhentikan, pria yang selama ini dinantikan kini membencinya dan begitu tak ingin melihatnya.


"Hay, ada apa dengan mu?" Sapa seseorang yang memegang bahu Amora.


Amora mendongak dan segera menghapus air matanya. Ia segera bangkit tak ingin terlihat menyedihkan dimata orang asing didepannya saat ini.

__ADS_1


"Kau menangis?" Sekali lagi pertanyaan itu terlontar oleh pria dihadapannya itu.


Amora hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu melangkah meninggalkan pria itu.


"Apa kau baik-baik saja, bagaimana kalo kau istirahat dulu di apartemen ku!" Ucapnya menawarkan.


"Thanks, aku tak perlu." Tolak Amora yang melangkah pergi.


"Ayo ikut aku, aku tau kau sedang tak baik-baik saja!" Pria itu segera menarik tangan Amora tanpa mempedulikan ucapan wanita itu yang menolak mengikutinya.


Ia segera pergi ke apartemen nya dan segera mendudukkan wanita itu di sofa.


"Duduklah dulu disini aku ambil minuman!" Ucap pria itu yang melangkah lebih dulu tanpa menunggu jawaban Amora.


"Ck..!"


Pria itu pun segera datang dua dua kaleng minuman bersoda. Pria itu tersenyum manis kearah Amora dan segera duduk disamping wanita itu dengan dua kaleng minuman yang telah dilekatkan di meja.


"Minumlah, aku tau jika sedang bersedih membutuhkan minuman bersoda untuk menghilangkan beban berat itu!" Ucapnya yang langsung saja membuka klik kaleng itu.


"Makasih!" Amora menerima botol kaleng itu dan segera meneguknya.


Pria itu terkekeh dan ia pun ikut minum disamping Amora. Tatapannya kini menatap wajah cantik didepannya itu dengan mata sembab nya.


"Kau cantik, tapi mata sembab mu menguranginya seharusnya kau tak usah menangis." Ucapnya pelan sambil masih fokus dengan kantung mata Amora.


Amora terdiam, ia menatap lekat wajah tampan itu. Desiran rasa begitu menjalar dihatinya, perhatian yang telah lama tak ia rasakan kini ia dapatkan dengan perlakuan kecil seperti ini.


Orang baru yang asing begitu perhatian, kenapa orang lama begitu membenci dirinya. Terdapat rasa sakit begitu saja mengingat tatapan tajam Peter kepadanya.


"Siapa nama mu?" Tanya pria itu setelah merasa cukup mengompres kantung mata Amora.


"Amora!" Jawabnya singkat.


"Aku Febrian Bramastyo, panggil Brian saja!" Ucap nya yang memperlihatkan senyum manisnya.


Amora terdiam, matanya terpanah hanya karena sebuah senyuman manis itu, astaga apa ia mulai...oh no ini tak boleh ia harus segera menangkal itu.


"Aku mau pulang!" Ucapnya yang langsung menunduk setelah sadar terpanah oleh senyuman itu.


"Baiklah, akan ku antar." Ucapnya yang langsung saja bangkit.

__ADS_1


"Enggak, aku bisa sendiri." Tolaknya yang langsung saja bangkit dari duduknya.


"Kenapa? Aku cukup khawatir dengan mu, keadaan mu masih begitu kacau saat ini." Ucapnya dengan wajah khawatir.


"Aku bukan anak kecil, aku bisa sendiri!" Bantahnya dengan wajah jengkelnya.


"Tak apa, jika aku tau dimana tinggal mu mungkin bisa bermain kesana lain kali." Ucap Brian yang kembali lagi memperlihatkan senyumnya.


"Haish...serah kau saja lah!" Pasrah Amora dan langsung melangkah mendekati pintu.


Brian hanya diam, ia memperhatikan Amora yang menarik knop pintu namun tetap taj juga terbuka.


"Buka lah ini kenapa kau diam saja!" Jengkel Amora.


Brian terkekeh, ia pun melangkah mendekati Amora dan mulailah membuka sandi pintu apartemennya.


"Apa kau tak takut ada maling, kenapa sandimu begitu mudah." Ucap Amora yang menatap tak percaya pada sandi pintu pria itu.


"Aku pelupa orangnya, jadi angka tujuh ini sangatlah mudah diingat di otakku." Jawabnya singkat.


"Astaga, bukankah kau bisa menggunakan tanggal lahirmu," Sungut Amora melongos.


"berapa tanggal lahirmu?" Pria itu membuka pintu apartemen nya sambil bertanya.


"Untuk apa?" Amora malah mempertanyakan kembali.


"Katakan saja, aku ada perlu!" Ucap Brian.


"14 April 1994!" Jawabnya.


"Baiklah." Ucap Brian memperlihatkan senyum lebarnya.


Amora berhenti di depan pintu berwarna abu-abu, " Disini kau tinggal, ternyata kita satu lantai!" Ucap Brian tak percaya.


"Ya, makasih." Amora melongos masuk kedalam apartemen nya tanpa sedikit pun mempedulikan Brian.


"Eh...!"


Amora menaikan alisnya satu, sedikit jengkel rasanya harus di panggil kembali.


"Besok aku kerumah mu!" Ucap Brian lembut.

__ADS_1


Amora mendengus kesal dan segera menutup pintu nya dengan cukup kuat.


"Menarik!"


__ADS_2