
Rutinitas pagi yang melelahkan, kini di tukar menjadi olahraga di tempat gym yang cukup besar. Meskipun keseharian nya begitu padat ia harus menyempatkan diri untuk memperbaiki tubuhnya.
Ia berjalan santai menuju tempat duduk, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah melakukan olahraga dengan beberapa alat gym.
"Kamu disini juga?" Tanya seseorang yang langsung saja duduk di samping ria.
"Hmm...siapa?" Tanya ria bingung.
"Mark, masa iya lupa sama aku," ucapnya sambil meneguk sebotol air.
"Mark, tunggu-tunggu Mark kakak kelas itu kah!" Terkejut ria yang langsung saja menarik tangan Mark dan menjabatnya.
Mark sempat terkejut dengan reaksi ria, gadis itu seakan akrab dan langsung saja menarik tangannya.
"Aku ria kak, hmm...dulu aku fans kakak sih...hehehe!" To the point ria dengan cengiran nya.
"Eh sorry kak!" Ria langsung saja melepas jabatan tangannya, ia cukup kikuk melihat tatapan intens dari Mark.
"Hahaha...enggak apa juga kalik, btw...tumben kesini atau memang aku yang tak pernah perhatiin kamu?" Sahut Mark dengan tawanya yang begitu menawan di mata ria.
"Gila nih senyum manis banget, diabetes pasti lama-lama!" Batin ria yang terus berteriak-teriak.
"Cafe yuk, kapan lagi ye kan ngumpul udah lama!" Ujar Mark.
Ya Mark adalah kakak kelas yang sempat menjadi fans ria, Mark mengenal ria saat salah satu sepupu ria dengan gamblang nya memperkenalkan ria dan terus menjodoh-jodohkannya dengan Mark.
"Ayolah itu mah" ucap ria yang langsung bangkit dengan begitu semangat.
Lihatlah dua orang yang telah lama tak bersua itu terus bercerita dan mengobrol hal-hal random. Ria begitu antusias dan selalu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya itu.
"Bagaimana kehidupanmu sehari-hari?" Tanya Mark sambil menyesap jus mangga.
"Begini lah, aku mah biasa aja!" Jawab ria dengan merendah, bagaimana pun dirinya tidak boleh tinggi hati hanya karena sebuah peran sinetron.
"Hahaha...kau terlalu merendah, aku tau kau sedang naik daun dan bahkan jadi berita panas, kau tau mungkin kau harus berhati-hati saat ada paparazi menangkap mu bersama ku!" Sahut Mark dengan kembali tertawa lepas.
"Aku gemas melihat mu," sambung Mark sambil mengacak-acak rambut ria.
"Iss...berantakan loh, jadi nya aku harus memperbaiki ikatan lagi!" Gerutu ria sambil melepas ikat rambutnya.
"Udah lepas aja, enggak usah di ikat," ujar Mark dan ria hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Kau tau sepupu mu itu selalu saja sibuk, aku saja bahkan tak pernah ketemu dia lagi!" Gerutu Mark.
"Dia tu sok sibuk loh kak, tapi sih mungkin sibuk soalnya ia menjadi CEO sementara di perusahaan ayahnya, kamu tau kan ayahnya gimana," jelas ria sambil memasukan cake krim yang ia pesan tadi kedalam mulutnya.
"Ngeri! Bahkan sampek sekarang aku enggak berani kerumah Arya," ucap Mark dan ria langsung ngajak bebas mendengar penuturan Mark yang begitu gamblang.
Kalian tau, Mark pernah sekali kerumah Arya dengan alasan mengerjakan tugas, kalian tau apa sambutan yang di berikan ayahnya. Hanya satu yaitu sebuah pertanyaan dan tatapan tajam.
Flashback
"Siapa nama mu!" Tanya ayah Arya dengan tatapan begitu tajam
"Ma-mark!" Jawab Mark dengan tergagap.
"Harus tegas, kau laki-laki tetapi menjawab nama mu saja tergagap!" Sentak ayah Arya yang terus saja menatap tajam Mark.
"Baik om," jawab Mark.
"Apa benar kau mau belajar dengan Arya hah!" Tanya nya lagi yang lumayan santai, namun tetap tajam gaya Batak nya enggak tanggung-tanggung.
"Benar om!" Jawab Mark.
"Apa presentasi mu disekolah?" Tanya ayah Arya.
"Lalu kenapa Arya begitu nakal, apa kau tau penyebabnya?" Ayah nya Arya malah mempertanyakan dengan Mark, lalu Mark harus menjawab apa, pertanyaan itu menjadikan Mark untuk tidak pergi kerumah Arya.
Flash of
"Hahahaha...untung kamu enggak kencing di celana kak...kak!" Tawa ria lepas mendengar cerita Mark saat disidang oleh ayah Arya.
"Ketawa terus sepuasnya, kau tak tau bener gimana ayahnya Arya serem nya," sungut Mark.
"Dia tu emang kayak gitu kak, meski orang Batak tapi baik kok, apalagi ia solat lima waktu!" Ujar ria.
"Dia mualaf gitu?" Tanya Mark dengan wajah tak percaya dan ria hanya mengangguk saja mengiyakan.
"Hebat!!!!" Mark langsung menunjukkan jempol tangannya takjub.
"Hey ria!" Sapa seseorang yang begitu saja langsung duduk di kursi samping ria.
Ria menatap jengkel dengan orang yang duduk di sampingnya itu, Gerald. Ria berdecih kesal, kenapa selalu saja ada manusia yang tak diinginkan datang di hadapan nya.
__ADS_1
"Ngapain sih!" Jengkel ria.
"Eh kalo ketemu pacar itu senyum bukan malah jutek," tutur Gerald.
"Di perjelas, mantan oke. Pergi deh, aku sedang menikmati suasana cafe!" Usir ria.
"Ya...gimana dong, soalnya nih cafe punya aku tuh," Ujar Gerald dengan gaya yang dramatis dan tersenyum mengejek pada ria.
"Eh bro sebaiknya kau cari tempat duduk lain, atau memang ingin bergabung sebaiknya jangan membuat suasana menjadi panas!" Tegur Mark.
"Aku hanya duduk doang, dianya aja yang sensian!" Tunjuk Gerald pada ria.
"Serah aku lah, mau gelut sini," Kesal ria yang sudah siap-siap dengan ancang-ancang meninju.
"Galak amat mbak,"
...****************...
7 bulan berada di rumah sakit bukanlah waktu yang singkat, Tiara melakukan berbagai macam perobatan bahkan hingga perobatan tradisional, sehingga ia sekarang sudah bisa bergerak leluasa meski ada sedikit kesusahan.
Tiara menatap lekat wajah Peter, entah perasaan apa yang ingin ia ungkapkan, namun saat ini begitu tak ingin pria itu dekat-dekat dengannya.
"Kenapa, kita sudah menikah!" Tutur Peter yang menatap lekat pada Tiara.
"Hmm...itu tapi aku tak ingat dengan mu, jikalau kau berbohong bagaimana!" Ujar Tiara.
"Tidak akan, nikmati saja aku ini suami mu!" Ucap Peter. "Bukankah aku sudah memperlihatkan surat nikah kita," sambungnya.
"Hmm...iya, tapi kenapa aku merasa kau orang yang harus aku jauhkan," Jujur Tiara dengan wajah polosnya.
Peter terkekeh kecil, ia langsung menoel hidung Tiara dengan gemas, "Aku tak akan menyakiti mu, percaya lah!" Ujar Peter yang langsung saja mengecup kening Tiara.
"Ah baiklah, ayo tidur!" Final Peter yang bingung harus dengan apa lagi ia menjelaskan pada Tiara bahwa ia adalah suami gadis itu.
"Aku ingin pipis," ucap Tiara pelan dengan wajah yang memerah menahan malu.
"Ah maaf, yaudah sana apa perlu aku temani?" Tawar Peter.
"Noo!" Tiara langsung berlalu menuju kamar mandi, sedangkan Peter terkekeh kecil melihat tingkah lucu Tiara yang menggemaskan.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Tiara bercermin di kaca besar setelah menuntaskan kebeletnya. Ia menatap di pantulan cermin.
__ADS_1
"Apa aku benar istrinya!" Gumamnya, kini tangan nya menatap jari manisnya yang sudah bertaut dengan cincin berlian yang indah.
"Kuharap dia seseorang yang baik"