
...☘️ Reading book ☘️...
Kini kantin begitu ramai, begitu banyak murid yang berdesakan untuk memesan makanan di stand makanan yang mereka suka. Begitu juga Tiara dan Ria, dua gadis itu sedang mencari bangku untuk tempat mereka duduk. Ya akhirnya mereka menemukannya, namun harus kalah cepat dengan keberadaan gadis songong yang selalu membuat semua orang takut.
"Yok sana aja deh, ada tu bangku dua yang cukup untuk kita!" Tunjuk Ria pada meja yang berisi dua orang dan tinggal dua bangku saja yang tak berisi.
Tiara hanya mengikut saja dari belakang, ia membawa pelan-pelan makanan dan minuman yang ia pesan.
"Hmm...boleh gabung?" Tanya Ria dan untung nya kebanyakan disana adalah teman seangkatan yang cukup ramah
"Eh gabung aja!" Ucap mereka bersamaan dengan senyum ramah mereka.
Ria dan Tiara pun duduk bersamaan, mereka berdua pun mulai memakan pesanan yang mereka beli dan sesekali ikut nimbrung dalam candaan beberapa teman nya.
...****************...
Pulang sekolah, Tiara baru saja akan keluar dari kamar mandi setelah melakukan argent pada pencernaan nya yang cukup melilit.
Bersikap santai dengan sesekali mengelap wajah dengan tisu, namun cukup terkejut saat berbalik ingin meninggalkan toilet. Peter, pemuda itu berdiri dengan bersandar pada dinding toilet, tatapan yang tajam mengarah pada Tiara yang memasang wajah terkejut namun begitu imut bagi Peter.
"Ka-kamu!" Tiara sedikit gelagapan.
"Ayo!" Ujar nya yang langsung menarik tangan Tiara begitu saja.
"Eh anu...aku tidak bisa!" Tolak Tiara yang memberhentikan langkahnya.
Tampak Peter menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring.
"Enggak ada penolakan!" Bantah Peter yang menarik Tiara dengan cukup kasar.
"Ssttt...no I have business!" Tolak Tiara yang langsung menarik tangannya dengan kasar.
"I don't accept rejection" Geram Peter yang melangkah maju mendekati Tiara.
Tiara semakin gelagapan, ia bingung harus berbuat apa hingga ia mundur selangkah demi selangkah dan akhirnya tersandar pada sudut dinding.
__ADS_1
"Ikut dengan ku atau kiss! so, it's your choice" Ancam Peter dengan wajah yang semakin dekat dan dekat.
Tiara bingung harus berbuat apa, sedangkan kini ia masih berada dalam pengawasan sang ayah dan harus pulang dengan bodyguard nya, tapi sekarang ia berada di situasi genting dimana Peter yang memaksa dirinya untuk ikut.
Tiara mencari ide, ia sedikit merosotkan tubuhnya kebawah lalu dengan kepala yang siap ingin keluar dari kukungan tangan Peter, namun hal itu tak semudah yang ia pikirkan. Peter dengan cepat menurunkan tangannya menghalangi dirinya. Ia hanya dapat nyengir kuda dan berusaha untuk tetap tenang.
Ia pun melakukan hal yang sama tadi disebelah nya lagi, namun Peter malah mengikuti kemana ia bergerak dan alhasil sampai bawah hingga mereka saling jongkok.
Cukup jengkel karena Peter terus menampilkan senyum tipis yang menurut Tiara adalah senyum mengejek yang ia berikan.
"Aku mohon lepaskan lah aku sekarang!" Ucap Tiara dengan tangan yang sudah mengatup di dada.
"No, aku sudah memberi mu pilihan bukan!" Ujar Peter.
Lagi dan lagi senyum itu yang diperlihatkan, baru saja tadi pagi merasa Peter baik dan sekarang harus merasakan jengkel yang teramat sangat.
Tiba-tiba ponsel Tiara pun bergetar, ia tau bahwa itu telpon dari salah satu bawahan sang papa. Ia menatap kearah Peter yang terus menatapnya dan memiringkan kepala seakan menunggu jawaban dari nya.
"Aku mohon, aku ditunggu oleh orang suruhan papa. Sekarang aku berada dalam masa hukuman!" Mohon Tiara.
Seketika tangan Tiara langsung menghalangi bahu Peter agar tak mendekat, namun tenaga nya begitu kalah telak karena Peter yang lebih kuat dari nya.
"I-itu....Iya aku akan pergi dengan mu!" Ujar Tiara yang sedikit memekik.
Peter pun tersenyum tipis, ia langsung bangkit dan menarik tangan Tiara mengikuti langkahnya yang panjang. Ntah apa yang membuat Peter bersikap cukup kasar dan menatapnya penuh arti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini mereka telah sampai di parkiran, Tiara masih enggan untuk masuk kedalam mobil Peter, terlihat Peter semakin geram dengan Tiara. dengan paksaan Tiara akhirnya masuk kedalam mobil meski sedikit meringis karena kaki nya sempat terbentur.
Peter langsung menutup pintu mobil dan berputar menuju bagian pengemudi mobil. Terlihat dari jarak yang cukup jauh, para bodyguard penjaga Tiara berlari ingin menghampiri mereka, namun dengan segera Peter melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.
"**** sial!" Umpat salah satu bodyguard itu.
"Sekarang kau telpon tuan Rahman, kita laporkan sekarang dari pada tuan Rahman marah besar pada kita!" Lanjutnya lagi dan dengan segera temannya yang satu lagi segera menelpon tuan nya.
__ADS_1
Kini didalam mobil Peter, hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Tak ada satu pun yang berniat untuk memulai pembicaraan, Tiara sesekali melirik Peter yang fokus dengan jalanan.
Seutas senyum terpampang di wajahnya, namun akhirnya ia kembali memasang wajah ditekuk agar tak ketahuan oleh Peter bahwa ia dari tadi melirik pria itu.
Tak berselang lama mobil pun berbelok dan berhenti disalah satu restoran yang cukup mewah, Tiara melihat sekitarnya dan berlari kearah Peter dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kita makan dulu!" Ujar Peter yang langsung keluar lebih dulu.
Tiara terdiam ditempat, ia memperhatikan Peter yang keluar dari mobil. Terlihat Peter yang mendengus kesal dan kembali berjalan kearah mobil. Peter membuka pintu mobil dengan wajah yang kesal.
"Apa kau mau aku kunci disini!" Ujar Peter yang sedikit kesal.
Ntah kenapa mood pemuda itu begitu buruk saat ini, bahkan mengasari Tiara.
"Ba-baik!" Ujar Tiara yang sedikit terbantah-bantah.
Tiara pun keluar dari mobil dan Peter dengan segera menutup pintu dengan kasar, tiara hanya dapat memegang dadanya terkejut melihat perlakuan Peter saat ini.
Peter terus menarik tangannya dan sesekali menarik cukup kasar, hal itu membuat Tiara sedikit terseret-seret karena memang kakinya kecil dan kaki Peter yang panjang, sehingga Tiara seakan sedang berlari.
Peter membawa Tiara menuju ruangan VVIP room, dimana interior nya sangat mewah dari yang room biasa. Yang membuat Tiara bingung adalah, disini mereka hanya makan biasa tetapi tiba-tiba manager restoran dan pelayan nya spesial menanyakan pesanan pada Peter sehingga berbagai pertanyaan yang bergemuruh diotak nya.
"Kamu mau apa, pesan semua atau pilih sendiri!" Ujar Peter yang memberikan menu restoran dengan tatapan tajam yang menghunus.
"A-aku samain aja!" Ujar Tiara terbantah-bantah.
"Aku tak pandai memilih menu, baiklah bawa semua makanan kesini dan minumannya pilih yang paling mahal!" Ujar Peter yang memang tak bisa memilih makanan.
Seketika Tiara melongo dengan ucapan Peter, dengan segera ia langsung menahan tangan Peter. "Aku pilih!" Ujar Tiara yang langsung merebut menu restoran.
Peter tersenyum sedangkan Tiara masih berusaha menenangkan jantung nya akibat shock sambil memilih makanan. Bagaimana tidak shock coba, makanan sebanyak itu mau dihidangkan disini, lalu siapa yang akan menghabiskan dan disini tidak ada menerima bungkus bawa pulang dan hanya boleh makan ditempat saja.
Tiara langsung menunjuk-nunjuk menu yang menurutnya enak dan ia memilih dua, jangan lupa minuman beberapa yang ia tunjuk dan beralih pada es krim dan akhirnya pada makanan penutup.
"Baiklah tuan nona, tunggu sepuluh menit!" Ujar manager restoran dan langsung sedikit membungkuk lalu berlalu bersama dengan pelayan nya.
__ADS_1