
...☘️ Reading book ☘️...
Peter menahan tangan Tiara, gadis itu tak tau akibat yang ia lakukan jika terus meraba bagian celananya.
"Ah itu, a-aku maaf!" Tiara merasa gugup karena ia tahu pasti saat ini Peter marah besar terhadap nya.
"Sudah tak perlu!" Peter mengambil tisu dan mengelap di bagian yang terkena sedikit kuah somay.
Tiara hanya diam, ia tidak mampu untuk berucap membela dirinya s dikit pun.
"Eh bisa nggak, nggak usah gangguin orang makan!" Tegur Ria yang cukup merasa kesal dengan sikap lelaki disamping Tiara.
Peter hanya diam, ia menatap tajam pada Ria dan hal itu membuat gadis itu merasa takut dengan tatapan tajam Peter.
"Aku pergi!" Peter bangkit dari duduknya meninggalkan Tiara yang masih deg deg an takut akan terkena masalah.
Setelah kepergian Peter Tiara dan Ria menghela nafas lega, mereka merasakan sesak jika terus ada Peter didekat mereka.
Namun hal yang bikin tak nyaman adalah mereka malah menjadi pusat perhatian di kantin saat ini.
"Udah yok!" Ajak Tiara yang sudah tak mood untuk makan.
"Tapi ini makanan..." Ria merasa kasihan pada makanan yang masih banyak.
"Biarkan!" Tiara bangkit dan langsung berjalan lebih dulu.
Ria yang melihat Tiara sudah lebih dahulu pergi, membuat ia langsung bangkit dan sebelum itu sesuap besar mie masuk dalam mulutnya.
Ia langsung berlari menuju Tiara, mengikuti langkah gadis itu.
"Kamu kok mau aja sih diperlakukan sama si Peter tu!" Ujar Ria.
Tiara yang mendengar ucapan Ria membuat ia langsung membekap mulut Ria agar tidak berbicara sembarangan saat ditempat umum.
"Huffffghhhh...eegghhhh!" Ria berusaha bersuara agar Tiara melepaskannya.
"Jangan asal bicara tentang tu orang!" Bisik Tiara pada Ria.
Ria hanya mengangguk mengiyakan dan merasa lega karena Tiara sudah melepaskan bekapan dari Ria.
__ADS_1
"Yaelah buang ke laut tu orang, sok berkuasa ampek kamu takut pada nya, bahkan melarangku agar tak berucap sembarangan tentang tu si Peter!" Cerocos Ria yang mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada didalam hatinya.
Tiara yang berusaha membekap mulut sahabat nya itu, namun saja gadis itu malah terus menghindari setiap tangannya.
"Udahlah, sekarang diam dan kita akan ke kelas!" Peringatan Tiara dengan mata yang tajam.
Ria hanya diam, ia mengikuti langkah Tiara secara bersamaan.
Saat didalam perjalanan, Tiara merasakan kebelet pipis.
"Aku ke toilet ya, kebelet banget nih!" Tiara berusaha menahannya dengan merapatkan kedua pahanya.
"Ditemenin ya!" Ucap Ria yang ikut berputar arah menuju barat.
"Nggak usah deh, cukup kamu minta izin untuk aku terlambat masuk!" Ucap Tiara yang langsung pergi meninggalkan Ria.
Tiara berjalan dengan terus menunduk, ia tidak mempedulikan tatapan orang yang menatapnya, terdengar beberapa kali Berbisik tentang dirinya dan ia tidak mempedulikan hal itu.
Tiara berjalan dengan cepat, berusaha tetap bersikap tenang namun tetap saja yang namanya kebelet tidak akan bisa ditahan dengan cukup lama.
Perlahan pintu kamar mandi dibuka, terlihat sepi. Ia pun mengambil salah satu toilet yang kosong dan langsung masuk.
Tiara menghidupkan kran air, membasahi wajahnya yang tampak lelah. Terlihat wajahnya yang tak terawat, cukup banyak terlihat pori-porinya sedikit terlihat karena tak ada sedikit pun perawatan.
"Lebih baik aku maskeran deh!" Gumamnya melihat tekstur wajahnya.
Tak lama ia berada di dalam kamar mandi, ia pun memutuskan untuk segera masuk kelasnya. Diluar terlihat sunyi tak ada satu orang pun, mungkin karena sekarang sudah jam pelajaran, jadi suasana saat ini sangat sunyi.
"Jauhi Peter, aku menyukainya dari jarak jauh!" Ucap seseorang yang membuat Tiara memutar arah pandangnya.
Tiara menatap orang yang berbicara padanya, seorang gadis yang berdiri dengan angkuh melipat tangannya.
"Apa kau mengerti apa yang aku ucapkan!" Lanjutnya yang semakin dekat pada Tiara.
"Bukan aku yang mendekatinya!" Jawab Tiara yang menatap dengan berani kearah gadis itu.
"Ck...kau pikir aku bodoh, orang yang penakut dan muka pas-pasan dikejar oleh Peter yang wajahnya tampan dan cukup populer itu!" Sinisnya menatap tajam pada Tiara "Bahkan kau tak cocok berpasangan dengannya!" lanjutnya lagi.
"Tapi itulah kenyataannya, jika kau bisa membuat dia menjauh dariku, maka aku akan senang hati menerima kenyataan itu!" Jawab Tiara yang saat ini malah menatap jari jemari nya yang ia remas.
__ADS_1
"Kau pikir aku bodoh, CK...kau seakan mendukungku tetapi dibelakang kau akan berbuat lebih atau kau juga menghasut Peter!" Gadis itu mencekram dengan keras dagu Tiara, sehingga Tiara merasakan sakit didagunya.
"Aku mendukungmu, tapi lepaskan lah tanganmu karena itu menyakitkan!" Ucap Tiara yang berusaha melepaskan cekraman itu.
Plak
Tangan gadis itu langsung terlepas dari dagu Tiara, Peter begitu saja langsung menghempas dengan kasar tangan gadis itu dari wajah Tiara.
"Apa kau begitu menyukai pem-bulyan!" Ucap Peter dengan wajah datar dan mata nan tajam.
"A-aku...!" Gadis itu tak mampu berkata apa-apa saat melihat mata tajam Peter.
"Apa kau mau membagi tangan indah mu itu untuk peliharaan ku, sepertinya satu hari ini ia hanya makan daging biasa!" Ucap Peter yang mengambil tangan gadis itu dengan lembut namun penuh ancaman.
"A-aku...aku tak melakukan apa-apa, se-sebaiknya aku pergi!" Ucap gadis itu yang langsung berjalan cepat melewati Peter dan Tiara.
"Lakukan apa yang saya ucapkan!" Titah Peter dan tiba-tiba tiga orang dengan baju hitam langsung datang menangkap gadis itu.
Tiara syok, karena tiga orang itu datang tiba-tiba tanpa tau keberadaan orang itu sejak kapan. Ketiga orang itu langsung membawa gadis itu pergi dan meninggalkan Peter dengan Tiara yang merasa canggung.
"Apa aku harus mengajarkan mu cara melawan gadis ku!" Ucap Peter mengelus dagu Tiara lembut.
"A-aku sepertinya sudah terlambat!" Tiara langsung membalikkan badan, namun saat satu langkah ia berjalan tubuhnya langsung berputar menghadap Peter.
"Kau mengacuhkan ku, apakah kau tau! Kau orang yang pertama kali terus menolakku...!" Ujar Peter yang berada tepat didepan wajah Tiara yang hanya berjarak 5 Centimeter.
"Aku tak ingin kau mengganggu ku!" Ketus Tiara.
"Karena kau berbeda membuat ku jadi orang yang begitu ingin mengejarmu!" Timpal Peter yang berbisik tepat ditelinga Tiara.
"Aku ber-berbeda!" Gugupnya yang memalingkan wajahnya kesamping.
"Ya"
"Kenapa? Aku tak memiliki masalah denganmu, lalu kenapa kau mengganggu ku berketerusan seperti ini!" Ujar Tiara dengan tatapan yang tajam, namun bagi Peter itu sangatlah menggemaskan.
"Baiklah, ayo kita lakukan perjanjian!" Ucap Peter yang memperbaiki tegak berdiri mereka.
"Oke, asal kau menjauhiku!" Ucap Tiara.
__ADS_1