
di kamar mewah dengan dekorasi yang elegan, kini dua pasang suami istri berbaring dengan posisi saling berpelukan.
"Bagaimana kita bertemu?" Pertanyaan keluar langsung dari mulut Tiara.
Peter terdiam, ia bingung harus menjawab apa namun haruskah ia jelaskan.
"Kita bertemu secara tidak sengaja." Jawab Peter singkat.
"Lalu, dimana kita bertemu?" Kembali lagi Tiara bertanya.
"Lorong sepi di sekolah SMA." Ucap Peter sambil mengelus rambut Tiara.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku?" Kini Tiara mendongak menatap lekat wajah tampan suami nya itu.
"Ya, apa kau siap mendengarkan nya dan berjanji selalu disamping ku?"
Tiara tampak tersenyum manis dan ia hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Peter.
"Aku adalah ketua di dunia gelap, perusahaan yang aku pimpin hanya lah perusahaan kecil sebagai penutup dari kegelapan pekerjaan ku!" Peter memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat mata istrinya yang mulai terlihat nanar menatap nya.
"kenapa?" Peter kembali menatap wajah istrinya, ia mengerutkan kening nya mendengar pernyataan istrinya itu.
"Kenapa kau menyembunyikan itu semua, lalu apa kau masih menganggap ku;" Ucapnya menatap penuh harap.
"Aku mencintaimu, aku belum siap dan takut kau kembali pergi dari ku!" Lirihnya menunduk dalam.
Peter merasa ia begitu bodoh atau memang dirinya yang begitu takut kehilangan Tiara kembali.
Sebuah tangan mengelus pipinya dengan tangan lembutnya itu, Peter mengangkat wajahnya menatap asal tangan halus itu.
"Semua telah berlalu, mungkin aku tidak bisa ingat apa-apa dan tidak bisa juga memaksa mu untuk tak melakukan pekerjaan kotor itu, namun ku berharap perlahan-lahan lah untuk berubah!" Ucapan bijak yang terdengar indah di telinga Peter langsung membuat senyum mekar terlihat di wajah tampan pria itu.
"Serious, aku akan berusaha. Apa sekarang kita bisa mulai kehidupan baru yang begitu indah?" Tiara mengangguk menyetujui hal itu dan seketika Peter bangkit dari tidurnya dan melompat kegirangan.
Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suami nya yang sungguh diluar nalar yang ia pikirkan.
...****************...
9 bulan telah berlalu, kini sebuah wanita hamil duduk di kursi santai tepat di tepi kolam berenang. Duduk santai menikmati sinar pagi matahari dengan menikmati susu ibu hamil.
__ADS_1
"Sayang!" Panggil seseorang yang mampu membuat nya tersentak dari lamunan panjangnya.
"Kamu ngagetin." Jengkel wanita itu.
"Sorry, janji enggak buat!" Ucap nya dengan menarik telinga nya dan menatap penuh bersalah. Peter langsung mendekat dan mendekap tubuh istrinya itu.
"Ululululu, papa Peter minta maaf! Dimaafin gak ya...." Ledek Tiara dengan mengelus perut nya yang buncit.
"Sayang...hmmm!" Rengut nya menatap penuh harap pada Tiara.
Tiara tertawa lepas ia pun mengelus rambut Peter penuh sayang. "Lepas ihh...kamu basah, mandi dulu sana!" Usir Tiara dengan sedikit tertawa.
"Biarin, aku mau meluk istriku. mandi bareng ya?!" Ajaknya dengan wajah semringah.
"Oh no, aku enggak mau. Sekarang kamu cepat mandi, aku mau ngelus orang botak tapi di pinggir jalan!" Ucapnya dengan penuh semangat.
"Astaga, ayolah honey apa tidak ada ngidam yang lebih bagus, minta villa deh atau mall sekalian biar aku tak bingung untuk menuruti permintaan mu!!" Rengek Peter dengan wajah memelas.
"Kamu tega... hiks...tega ya, seriusan tega!!" Seketika Tiara terisak yang membuat Peter langsung panik setengah mati.
"I-iya aku mandi, sayang berhenti nangis nya ya biar kita cari orang botak nya!" Ucap Peter yang berusaha membujuk namun tetap saja Peter adalah pria kaku yang sulit mengeluarkan kata-kata.
"Benarkah, yaudah cepat sana!" Ucap penuh semangat Tiara.
Disini mereka sekarang, di mana berada di tepi jalan dekat bandara. Seketika Peter pucat pasi dengan tempat yang di minta Tiara.
"Di-disini sayang? Apa kita enggak pergi ke jalan taman mungkin itu lebih baik!" Bujuk Peter.
"No, aku mau nya di sini dan sekarang suruh anak buah kamu cariin aku orang nya!" Pinta Tiara dengan wajah yang masih bersikukuh.
"Tamatlah sudah, sepertinya anak ku lahirnya akan menjadi preman!" Batin nya lirih.
Segera saja Peter melakukan hal sesuai permintaan Tiara dan sekarang mereka tinggal menunggu orang yang suka rela memberikan kepala nya untuk di elus.
"Yang itu, Peter panggilll aaakkhhh!!!" Rengek Tiara.
Seketika Peter panik, astaga istrinya itu tidak tanggung-tanggung meminta hal sesuatu. Ayolah, orang itu seperti turis dan itu begitu jelas.
"Excuse me! Can I ask for help, my wife is pregnant and she has cravings right now!" Ucap Peter menghampiri turis itu.
__ADS_1
"Oh yes! So what do you want, sir?" Tanya turis itu.
"My wife wants to stroke your head, is that okay?" Tanya Peter dengan wajah dingin nya.
"Hmm...it's okey!" Santay turis itu.
Peter pun membawa turis itu mendekati istrinya.
"Hanya tiga kali, tidak boleh lebih. Kalo lebih hmmm...." Peter menatap tajam kearah turis itu yang membuat kedua nya langsung merinding.
"I-iya!" Tercekat Tiara.
Dengan penuh semangat Tiara pun mengelus kepala botak mengkilat itu, bahkan dengan mengelus perutnya.
"Thank you!" Ucap Tiara dengan wajah lega nya.
Dengan segera Peter menarik istrinya menjauh dari pria yang menatap istrinya kagum.
"Kasih dia tips!" Intruksi Peter pada suruhan nya.
dengan wajah tegang dan menahan emosi, Peter menarik tangan Tiara dengan lembut. Namun tetap saja kekuatan Peter mampu membuat satu tangan Tiara memerah.
"Peter sakit!!" Ringis Tiara.
Peter pun melepas cekalan tangan Tiara dan menatap bersalah pada wajah istrinya itu.
"Maaf!" Peter menunduk.
"Kamu kenapa hmmm... cemburu?" Tiara menatap lekat pada Peter.
"Aku!"
"Tega kamu biarin anak kamu ileran karena enggak di penuhi permintaan nya!" Lirih Tiara.
"Iya-iya ! Janji jangan ulangi lagi." Ucap Peter.
"Siap, tapi sekarang bisa enggak kita terbang di udara?" Seketika mata Peter membelalak mendengar permintaan Tiara.
"Ta-tapi..."
__ADS_1
"Oh ayolah, kita naik helikopter terbang di udara begitu menyenangkan bukan!" Ajak Tiara penuh semangat.
"Hmm...baiklah!" Lirih Peter dengan wajah lesu nya.