
Tiara perlahan mengerjapkan matanya, ia menatap ke sekeliling yang serba putih. Ia berpikir bahwa saat ini berada di akhirat, apa seperti ini akhirat.
"Sepertinya aku benar-benar mati!" Gumamnya.
"Ada sudah bangun ya!" Sapa seseorang yang tiba-tiba saja keluar dari pintu.
Tiara terdiam, apa yang mendatangi nya adalah malaikat. Oh astaga kenapa malaikat begitu ganteng. Lalu itu apa, kenapa ia malah membawa seperti sebuah catatan.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya nya sambil memeriksa alat yang masih melekat pada tubuh Tiara.
"Baik, hmm...ini dimana?" Tanya dengan wajah ragu.
"Rumah sakit!" Jawabnya.
"Hah...bukankah ini...!"
"Hahahaha...jangan seperti anak kecil, kau masih hidup!" Potong nya dengan tawa yang tergelak bebas.
"Lalu kau....?" Tiara ingin bertanya, namun kembali lagi semua kalimat nya di potong.
"Panggil aja aku dokter Mark!" Jawabnya yang tersenyum manis.
"Lalu siapa yang...!"
"Pihak kepolisian menemui mu dan membawa kesini!" Potong Mark.
"Berhenti lah memotong ucapan ku, kau sudah melakukan nya berulang kali!" Jengkel Tiara.
"Oh ya, baiklah...aku hanya tak sabar menjawab pertanyaan mu!" Ujarnya yang berpura-pura terkejut.
"Berapa hari aku tak sadar?" Tanya Tiara bingung, pasalnya saat ini perutnya malah begitu mencucut minta makan.
"Bukan berapa hari, tapi bulan!" Jawab Mark dengan wajah sinis nya.
"Hey...apa kau tak ikhlas merawatku, kau dokter dan itu kewajiban mu!" Teriak Tiara.
"Hahahaha...aku hanya bercanda, kau tak sadarkan diri hanya 2 bulan saja!" Ucap Mark dengan tawa nya.
__ADS_1
Lihatlah dua orang yang tak dekat dan baru saja kenal menjadi begitu akrab, selain pembawaan Mark yang enjoy dan suka bercanda, Tiara juga merasa sangat nyaman berbicara panjang pada Mark.
"Apa kau memiliki keluarga, soalnya sudah 2 orang pengawal yang terus menjaga di depan silih berganti!" Ucap Mark.
"Hah... sepertinya aku sudah bisa menebak siapa yang melakukan itu semua!" Gumamnya dengan wajah yang berpikir keras.
"Hah...Kau mengalami patah tulang di beberapa titik, jadi kau tak bisa duduk saat ini karena bagian ekor pinggul mu sedikit tergores!" Ucap Mark menjelaskan sambil memperlihatkan gambar scan tulang yang dilakukan 2 bulan yang lalu.
"Lalu tangan ku!" Tunjuk Tiara pada tangan nya yang di perban cukup besar.
"Oh ada satu tulang tangan mu yang patah tulang parah dan bergeser, sebenarnya kami ingin melakukan potong tulang tangan mu itu!" Ujar Mark dengan wajah santainya.
"Hey apa kau mau aku tak memiliki tangan, ayolah aku lebih memilih tangan lumpuh dari pada potong!" Ucap nya dengan menatap takut pada tangan nya.
"Hahaha...kau begitu takut akan itu, aku tidak akan melakukan itu karena orang besar itu langsung mengancam membunuhku jika tidak melakukan terbaik!" Ucap mark dengan gelak tawanya.
"Jangan berkata banyak mark!" Sentak seseorang dengan suara dingin dan datarnya.
Tiara menatap kesamping meski dengan leher yang sulit di putar. Ia menatap pria yang ada dihadapannya.
Tiara menatap bingung pada pria yang ada dihadapannya, siapa dia lalu kenapa wajahnya seperti familiar.
"Apa kau baik-baik saja sayang!" Ucap Peter dengan wajah cemasnya.
Tiara terdiam, ia benar-benar lupa dengan orang yang di hadapannya. Ia hanya mengingat bahwa ia pernah mengenal orang hebat namun dengan ingatan yang samar.
Tiara hanya mengangguk patuh saja, ia masih mengerutkan keningnya bingung menatap wajah pria disampingnya itu.
"Jangan sering berpikir keras seperti itu, aku enggak mau kamu tambah stres!" Ucap nya sambil memijit kening Tiara.
"Hmm...s-siapa nama mu tuan?" Tanya nya dengan wajah polosnya.
Seketika Peter menatap tajam pada Mark, bukankah sahabatnya itu mengatakan bahwa Tiara tak mengalami hal dalam lainnya selain beberapa tulang yang harus diperbaiki.
"Oh...oh ayolah aku bukan tuhan, sepertinya aku melewati sesuatu!" Mark mengangkat tangan nya menandakan mohon bersabar, ia tau bahwa sahabatnya itu sudah tersulut emosi.
"Jelaskan?" Sentak Peter.
__ADS_1
"Aku melakukan scan pada bagian otaknya beberapa hari yang lalu, sepertinya satu saraf terputus yang membuat nya mengalami amnesia sementara dan akan kembali pulih jika mendapatkan sesuatu yang bisa membuatnya ingat!" Jelas Mark.
Peter terdiam, ia menatap kearah Tiara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lihatlah seluruh tubuh wanita nya itu sudah di perban seluruh tubuh, sedangkan dirinya hanya bagian kaki itu pun jari kelingkingnya yang hilang dan operasi jantung. Tatapan nya memanas seakan siap mengeluarkan air mata yang tertahan begitu lama, namun ia menahannya dengan tatapan iba dan beberapa kali mengecup kening istrinya itu penuh sayang.
"Ingat aku suami mu oke!" Ucap Peter dan Tiara hanya mengangguk patuh.
Peter tersenyum manis, Tiara begitu patuh dan sangat begitu lugu menurutnya. Baiklah mungkin ini saat nya untuk ia memperlihatkan menjadi suami yang baik.
"Kamu akan dirawat disini sampai sembuh, oh ya apa kamu lapar sayang?" Ucap Peter yang sekali lagi mengecup kening Tiara.
Tiara hanya mengangguk saja, sepertinya wanita itu berusaha mencerna semua yang terjadi saat ini.
Peter segera meraih ponselnya dan menelpon seseorang, dengan cepat ia memesan semua makanan yang enak dan bisa mengenyangkan perut sang istri.
"Hey...hey...istrimu baru sadar dan kau memesan makanan berat seperti itu!" Peringat Mark dengan wajah jengkel.
"Aku hanya membelikan nya beberapa makanan enak yang ia suka, kenapa kau malah mengomentari ku!" Sentak Peter.
"Kau memang keras kepala, tapi sebaiknya beri istrimu dulu bubur untuk memperbaiki sistem pencernaan nya!" Ujar Mark yang masih memasang wajah jengkelnya.
Peter pun mengangguk, ia perlahan membantu sedikit menaiki letak kepala Tiara, pasalnya Tiara masih belum bisa untuk duduk saja atau berpindah tempat.
Peter mengambil bubur hangat yang ada di atas nakas karena semua nya sesuai prediksi Tiara bangun, bubur hangat disiapkan setengah jam sebelum Tiara bangunan.
"Buka mulutmu!" Ucap Peter menyuapkan bubur itu kedalam mulut Tiara.
Tiara menerimanya, ia cukup lapar saat ini meski ia tak sudah rasa bubur hambar didalam mulutnya itu.
"Apa kau mengingat sesuatu sayang?" Tanya Peter yang masih tak percaya bahwa Tiara amnesia sementara.
"Hmm...sepertinya aku mengingat memiliki satu keluarga, apa itu benar?" Tanya Tiara dengan wajah ragunya.
"kau memiliki dua keluarga, ayah mu dan aku!" Ucap Peter dengan wajah sedikit sedu karena Tiara sepertinya tak mengingat dirinya.
"Hah... baiklah!" Jawab singkat Tiara, ia pun kembali menerima suapan bubur kedalam mulutnya.
Peter tersenyum tipis, ia berharap istrinya itu kembali mengingat semua nya dan menjalani kehidupan seperti biasa tanpa ada perban di tubuhnya itu.
__ADS_1