Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 36


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Tiara tertidur di lantai, keadaan nya sangat kacau hari ini, ia begitu ingin bebas, banyak perlawanan yang ia lakukan saat itu namun semua hasilnya nihil, Peter malah semakin menambah banyak bodyguard bahkan didepan pintu kamar sekali pun.


jendela kamar sudah di stenlis berpagar besi yang membuat siapa saja tak bisa keluar, bagaimana caranya menyelip kalo begini.


Peter masuk kedalam kamar, ia merasa sedih dengan keadaan gadisnya itu, tapi ia tak ingin kembali lagi terjadi seperti 10 tahun yang lalu.


ia mengangkat tubuh kecil itu, kini tubuh itu semakin kering bahkan pipi Tiara sudah tak terlihat lagi. ia membaringkannya di ranjang dan memeluknya dengan sangat erat, memberikan kehangatan yang di salurkan.


"Apa susahnya sih mencintai ku, aku mencintai mu tiara!" Ucap Peter dengan perasaan yang begitu kacau kali ini.


"Lihatlah, jika kamu tidak terus menerus mencari cara pergi dari ku, mungkin aku akan tetap selalu menjaga mu dan bahkan selalu membahagiakan mu bagaimana pun caranya!" Gumam Peter yang menatap lekat kearah Celyn.


Mereka Aditya pun mengikuti jejak Tiara untuk menyelam ke alam mimpi. Sedangkan Tiara langsung membuka matanya, air matanya tiba-tiba mengalir dengan sendirinya. Ini tidak benar, ia harus tetap menjaga hatinya tapi mengapa menjadi seperti ini.


"Tidurlah jangan menangis!" suara Peter menenangkan, entah dari mana pria itu tau bahwa Tiara menangis tapi tiara kini menjadi semakin merasa bersalah telah melakukan segala hal untuk meninggalkan Peter.


...****************...


Keesokan harinya, Tiara bangun karna sinar matahari yang menyelinap masuk dari sela gorden jendela, ia mengerjapkan mata menatap sekelilingnya yang begitu sunyi.


"Peter mana?" Gumamnya melihat sekitar.


"Kamu mencari aku!" Ucap Peter dengan senyum manisnya membawa satu nampan berisi makanan dan segelas susu.


Tiara hanya diam, ia melihat kearah lain menghilangkan kegugupannya saat ditatap begitu lekat oleh Peter.


"Sarapan dulu ya!" Ucap Peter yang mengacak rambut Tiara gemas.


Tiara menerima makanan itu, ia perlahan mengambil sandwich yang ada dipiring dan memakannya dengan cepat. Peter tersenyum tipis, ia bahagia melihat Tiara yang begitu nurut dengan nya.


"Apa yang kamu ingin kan sekarang, selain meninggalkan ku!" Ucap Peter yang memperlihatkan senyum manisnya.

__ADS_1


Tiara mendongak, melihat kearah Peter tak percaya, apa ia menurut dengan begitu Peter semudah itu menanyakan apa yang ia inginkan sekarang.


"Hmm...aku pengen makan di pinggir jalan, kita mukbang!" Ucap Tiara dengan wajah polosnya.


Peter terdiam, ia bingung harus setuju atau tidak, bagaimana pun makanan dipinggir jalan belum tentu steril dan sekarang permintaan Tiara mereka harus membeli dan mencicipi setiap makanan.


"Mau ya!" Mohon Tiara dengan wajah yang sengaja di buat imut.


Peter terkekeh, ekspresi yang begitu imut menurut Peter. "Bagaimana kalo kamu lakukan sesuatu!" Ucap Peter dengan menunjuk pipinya beberapa kali.


Tiara terdiam, ia pun langsung mengecup pipi Peter sekilas dan kembali duduk lagi.


"Sebelahnya lagi dong, masa iya cuman sebelah ntar nutrisinya kurang lagi disebelahnya!" Ngeles nya dengan kembali menunjuk pipi sebelahnya lagi.


Tiara berdecih kesal, ia pun mengecup pipi sebelah Peter lagi dan Peter malah menunjuk keningnya, Tiara menurut dan mengecup kening Peter, hingga Peter menunjuk bibirnya dan Tiara dengan mudah melakukannya seperti ia tanpa sadar.


Namun setelah satu menit telah lewat, Tiara malah terdiam memegang bibirnya dan menatap belalak kearah Peter. Ekspresi sangat lucu dan ingin sekali Peter gigit itu pipi.


"Yaudah yok kata nya mau mukbang!" Ucap Peter yang memperlihatkan senyum bahagianya.


Tiara langsung bangkit dari duduknya dan tegak dengan semangat, ia langsung merangkul Peter dengan semangat.


"Eh maaf!" Ucap Tiara yang langsung melepas rangkulannya.


"Rangkul lagi ah, nanti kamu yang kecil ini hilang lagi!" Ledek Peter dengan tertawa kecil.


"Isss...aku sudah tinggi loh, kamu nya aja yang terlalu tinggi!" Bela Tiara yang berwajah jengkel.


"Iya deh, yaudah yok!" Pasrah Peter dan mereka pun langsung berjalan keluar dari apartemen Peter.


Sungguh indahnya hari ini, tapi Peter tetap waspada so...ia tidak akan mudah percaya dengan sikap Tiara kali ini, bagaimana pun Tiara sering mencari cara untuk kabur dari nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Kini didalam mobil Avanza keluaran terbaru, terdapat seorang gadis berkarir yang tertidur lelap akibat semua pekerjaannya yang begitu padat.


Ia baru saja selesai dalam shooting siaran langsung siaran tv yang menanyakan semua kehidupannya, hingga sampai jam 4 pagi dan kini ia akan segera pergi ke tempat syuting film tentang mafia itu lagi.


"Bantu saya dandani ria!" Ucap manager ria yang begitu sibuk, bagaimana pun sebagai seorang manager harus sigap dan cepat dalam melakukan segala hal untuk bos nya.


Kini para penata rias mendatangi mobil ria, mereka semua mulai mendandani ria meski pun agak sulit tapi tetap harus mereka kerjakan dengan baik demi pekerjaan mereka.


Ria terusik, tapi ia cukup lelah kali ini. Jadi ia membiarkan semua melakukan pekerjaan nya hingga selesai, setelah pekerjaan mereka selesai, kini ria lah yang harus bersiap-siap menukar baju nya.


Ia memakai baju nya didalam mobil dan akhirnya keluar dengan mata fresh nya meski terdapat wajah kelelahan nya dibalik make up yang cerah itu.


"Minumlah untuk menyegarkan kerongkongan mu dan ini permen penyegar tenggorokan!" Ucap managernya memberi kan semua yang dibutuhkan ria.


Ria hanya mengangguk dan menerimanya, ia memakan permen itu dan perlahan tenggorokan yang kering kini menjadi begitu segar dan ditambah dengan sebotol air putih penyegar.


"Baiklah, sekarang kita harus mendatangkan tempat shooting!" Ucap managernya yang membimbing Ria.


Ria hanya menurut saja, toh dia malas kali ini untuk berdebat dengan managernya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rahman tunggang langgang di sebuah jembatan jalan tol, ia bingung harus melakukan apa kali ini. Duit yang ia punya sudah habis dan bingung harus berbuat apa lagi.


"Dengan pak Rahman!" Ucap seseorang yang berbaju formal dan kaca mata hitam yang melekat di wajahnya.


"Ya...kalian siapa!" Jawab Rahman.


"Ikut kami pak, bos kami ada perlu dengan bapak!" Ucap orang itu.


"Enggak, saya enggak mau ketemu dengan siapa pun!" Ucap Rahman, ia cukup trauma dengan ini. Dulu ia sempat dipanggil seperti ini, namun akhirnya malah dipermalukan oleh teman bisnisnya sendiri.


"Ini tentang anak bapak, ayo ikut kami...kamu janji tidak akan melakukan apapun!" Ucap nya lagi meyakinkan Rahman lagi.

__ADS_1


"Baiklah!" Ucap Rahman pasrah dan akhirnya ia masuk kedalam mobil hitam itu.


Setelah Rahman masuk mobil itu pun melesat pergi meninggalkan bawah jembatan yang begitu koto itu.


__ADS_2