Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 22


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Dipagi hari yang cerah dimana sinar mentari sudah siap menampakkan wujudnya, dikamar yang hangat itu tak ada satu orang pun yang mengusik tidur dua insan ini.


Tapi sinar matahari yang menerobos masuk disela-sela gorden. Membuat seorang gadis merasakan silau dimatanya. Perlahan mata nya yang coklat mengerjap menyesuaikan cahaya, ia melihat sekelilingnya dan ternyata kemaren bukanlah mimpi.


Bahkan saat ini di bagian perutnya ada sebuah tangan yang memeluknya erat dengan hembusan nafas ditekuknya yang begitu merasa hangat.


Tiara berusaha mengangkat tangan Peter berhati-hati, ia mungkin akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari pemuda itu.


Sekarang ia sudah begitu takut dengan nya apalagi harus tiap hari berhadapan dengan seringainya yang begitu menusuk. Namun nihil, bukannya terlepas tetapi malah semakin erat dan nafas Peter semakin terasa hangat.


"Tidur lagi aja, aku masih betah begini!" Ucap Peter dengan suara serak khas bangun tidur.


"A-aku...aku mau ke kamar mandi!" Ucap Tiara gugup.


"Baiklah, tapi ke sini lagi!" Ucap Peter yang kini langsung mengecup bibir Tiara dan melepaskan tangannya dari pinggang Tiara.


Tiara terdiam, ia tertegun sejenak mencerna semua yang dilakukan oleh Peter saat ini.


"Morning kiss sayang!" Ucap Peter serak dengan senyumnya yang manis.


Tiara salah tingkah ia langsung bangkit dari ranjang dan berlari kearah salah satu pintu yang ia yakin bahwa itu kamar mandi.


Namun Tiara kembali keluar, karena saat memasuki pintu putih ia tak menemukan toilet tetapi berbagai baju yang sudah di susun dengan rapi.


"Peter kamar mandi nya dimana?" Tanya Tiara saat melihat Peter yang melihatnya dengan senyuman yang membuat Tiara sempat salah tingkah.


"Kiss dulu!" Ucap Peter dengan senyuman nakalnya.


"Isshh...serius ah, aku sesak banget nih ntar keluar pula disini!" Ujar ketua Tiara, sebenarnya ia tadi hanya berpura-pura ingin ketoilet, tapi nyatanya malah jadi beneran.


"Enggak tau!" Jawabnya kembali menungkupkan kepalanya ke ranjang.


"Peter!!! Isshhh...iya!" Gerutu Tiara yang langsung menghampiri Peter.


Ia langsung berlari dan mengecup pipi Peter yang tak tertutup oleh ranjang dan kembali pada posisinya semula.

__ADS_1


Peter tersenyum dibalik ranjang, ia pun kembali memutar kepalanya menatap ke Tiara dengan senyuman senangnya.


"Disitu!" Tunjuknya pada satu pintu yang paling sudut.


Seketika Tiara merasa jengkel, seharusnya ia tak menuruti permintaan Peter dan lebih baik mengambil inisiatif mencari sendiri.


Dengan menghentak-hentakkan kakinya, ia berjalan menuju pintu sudut yang berwarna putih itu, bibirnya terus menggerutu menyumpah serapah Peter.


Sedangkan Peter hanya tersenyum geli, merasa lucu dengan tingkah Tiara yang begitu menggemaskan.


20 menit lamanya, Tiara pun keluar dari kamar mandi dan ia sengaja berlama-lama dikamar mandi untuk menghindari Peter. Dan benar saja diranjang sudah tak ada Peter lagi, seketika senyumnya lebar dan kini ia tinggal mencari cara lepas dari ruangan tertutup ini.


Tiara berjalan menuju pintu keluar, ia menarik knop pintu dan beruntungnya dirinya sekarang karena pintu nya tak terkunci. Ia melihat sekitarnya yang begitu kosong, ia pun langsung memutuskan keluar dari sana tanpa harus mengendap-endap.


"Maaf nona, anda dilarang keluar oleh tuan muda sampai tuan muda sampai kesini!" Ucap seseorang dengan badan kekar dan wajah bengis.


Seketika Tiara terkejut, pasalnya tadi saat ia membuka pintu sedikit tak ada orang satu pun bahkan suara gerakan kaki saja tak ada, tapi kenapa tiba-tiba ada dua orang bertubuh kekar menghadap dirinya.


"Tapi aku lapar!" Ucap Tiara dengan mata yang sengaja berkaca-kaca.


"Aku lapar!" Rengek Tiara dengan wajah memelas.


"Tapi no..."


"Apa kamu lapar sayang, ayo ikut aku!" Tiba-tiba Peter sudah berada dihadapan Tiara.


Apa semua orang yang ada disini suka datang tiba-tiba, batin nya menggerutu.


Tiara tetap diam tak bergeming, bahkan hanya menatap tangan Peter yang mengintruksikan untuk segera di genggam.


"Ayo!" Sekali lagi Peter mengajak dan bahkan kini penuh penekanan.


Tiara dengan gelagapan menerima uluran tangan Peter, seketika tubuhnya langsung sudah berada di dekapan nya karena Peter begitu saja menariknya.


"Kamu mau makan apa sayang, disini sudah ku sediakan semua!" Ucap Peter sebelum benar-benar pergi dari depan pintu kamarnya.


...****************...

__ADS_1


Ditempat lain, tepatnya dikediaman Rahman, Pria paruh baya yang memiliki satu anak itu terus khawatir dengan keadaan putrinya itu.


Karena tadi malam, ia merasa cukup kesal karena Tiara dengan berani nya kabur melalui jendela kamarnya, bahkan memanjat hanya untuk keluar.


Namun sampai saat ini belum juga ada kabar dan bahkan para suruhannya sudah mencari keberadaan sang anak. Satu petunjuk yang didapat, hanya sebuah cincin putih yang diyakini itu milik Tiara dan cincin itu terdapat ukiran nama sang istri.


"Gimana sudah ada kabar?" Tanya nya yang kini sedang melakukan sambungan telepon.


"Belum tuan!" Jawab dari orang suruhannya.


Rahman langsung mematikan panggilan itu, ia melempar kesal ponselnya kearah sofa dan untungnya ponselnya tak memantul.


"Kemana kamu nak, papa enggak mau kehilangan bidadari papa yang kesekian kalinya!" Lirihnya frustasi.


Kini seorang CEO yang bermartabat begitu acak-acakan, tak seperti gayanya nya yang seperti biasa yang selalu memakai jas dan dari yang rapi, kini bahkan kerapian saja tak ada pada dirinya.


Semalaman ia tak tidur demi mencari keberadaan gadisnya, bahkan kini bola mata hitam sudah terlihat di pelipis matanya. Pikirannya begitu kacau saat ini, bahkan tensi nya tiba-tiba saja terasa drop meski masih bisa ia kendalikan.


Kembali pada kediaman Peter.


Pemuda itu begitu meratukan Tiara, ia menarikan kursi untuk gadis itu duduk, mengambilkan makan dengan porsi sedikit demi sedikit menjadi bukit, duduk disamping gadis itu dan bahkan terus menatap wajah cantik yang begitu ia rindukan.


Tiara dari tadi terus menggerutu karena ia dipaksa harus menghabiskan makanan yang diambil oleh Peter, meski satu jenis makanan hanya diambilkan satu atau sedikit, tapi ini jenis makanan dihadapannya lebih dari 20 jenis makanan, bahkan kini piringnya sudah seperti gunung.


"Lucu!" Ucap Peter dengan senyum manisnya dan bertompang dagu.


"Ini siapa yang mau habiskan, ini masih pagi loh Peter kok nyuruh aku makan sebanyak ini!" Gerutu Tiara yang tidak peduli dengan ucapan Peter.


"Enggak apa, kau terlalu kurus sayang!" Ucap Peter yang tetap dengan senyumnya.


"Aku ideal bukan kurus, isss...!" Jengkel Tiara.


Ia tidak ingin disebut kurus meski itu fakta tapi ia tetap harus mengatakan bahwa ia bertubuh ideal karena jika terus mengatakan ia kurus maka tubuhnya akan menjadi lebih kering lagi nanti.


"Itu yang kamu bilang ideal, terus yang kurus itu yang tinggal tulangnya gitu!" Sarkah Peter yang membuat Tiara semakin jengkel.


"Serah!" Pasrah Tiara yang kini mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2