Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 35


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini Tiara berada di kamar apartemen Peter, ia dikunci bahkan cahaya matahari pun tidak diperlihatkan. Sudah satu jam lamanya ia menangis dan akhirnya tertidur di lantai dengan tangan yang bertumpu pada ranjang.


Pintu terbuka, cahaya lampu dari ruangan lain menerobos masuk kedalam kamar yang bercahaya minim itu. Peter masuk dengan membawa sepiring makanan dan segelas susu. Terdapat raut kesedihan diwajahnya saat melihat jejak air mata yang menempel pada pipi gadisnya itu, tapi itu semua demi agar Tiara tau keberadaan nya.


Ia berjongkok mengelus pipi yang sedikit basah itu. Bukan salah nya bukan, ia begitu mencintai Tiara namun gadis itu sungguh tak mengerti dan memahami isi hati nya, jika saja Tiara tak kabur mungkin gadis itu sudah akan ia bawa untuk berbelanja tapi semua musnah karena sikap Tiara.


"Bangun, kamu harus makan!" Ucap pelan Peter yang terus mengusap lembut pipi mulus Tiara.


Tiara yang merasa tidurnya terusik seketika sedikit mengerjapkan matanya dan membuka matanya melihat siapa yang berani mengusik tidur ya.


Saat siapa yang melakukan nya, Tiara langsung mundur kebelakang dengan tubuh gemetar, ia tak berani menatap Peter dan hanya menunduk dengan tubuh gemetar.


"Kamu harus makan!" Ucap Peter yang menyodorkan makanan yang ia bawa.


Tiara menggelengkan kepalanya menolak, ia tak lapar saat ini. Yang dipikiran nya adalah bebas, bebas dan bebas. Tak ada pemikiran lain yang ia pikirkan.


"Makan Tiara!" Tekan Peter dengan wajah geram nya.


"Aku enggak lapar!" Jawabnya pelan dan hampir berbisik.


"Makan ku bilang!" Sentak Peter dengan suara meninggi.


"Aku sudah bilang kalo aku enggak lapar, bisa dengan enggak sih!" Kini Tiara lah yang malah membentak Peter.


"Oh benarkah, sungguh berani!" Senyum miring terbit dibibir Peter, sungguh ia tak menyangka bahwa Tiara seberani itu membentak nya.


Peter mencekram dagu Tiara dengan sangat kuat, menatap manik mata yang ketakutan itu.

__ADS_1


"Kau tau, jika kau patuh mungkin aku akan bersikap baik padamu sayang!" Bisik Peter dengan seringai miring nya.


Tiara semakin gemetaran, ia menutup matanya menghindari tatapan Peter yang menakutkan. Ada rasa penyesalan dihatinya karena telah kabur disaat itu, seharusnya ia tetap bersikap baik maka ini semua tak akan terjadi.


"Makan atau kau yang ku makan" Bisiknya tepat di telinga Tiara.


"Ma-Makan!" Ucap Tiara yang gemetaran.


"Bagus!"


Peter memberikan piring yang ada ditangannya pada Tiara, sebenarnya ingin menyuapkan tapi karena tak ingin Tiara semakin gemetaran, ia hanya melihat tiara memakan makanan yang ia bawa.


"Aku ada urusan, habiskan makanan mu dan aku tak mau tau makanan itu harus habis tak tersisa!" Ucap Peter penuh penekanan.


Peter pun berjalan melangkah pergi dan jangan lupa tangan yang menghidupkan saklar lampu. Ia kembali mengunci pintu nya dan meninggalkan Tiara dengan keadaan yang kacau.


"Hiks...hiks...Kenapa harus begini!" Tangis nya pecah berbarengan dengan nasi yang terus disuap meski tak sedikit ia merasakan enak.


Seperti ini kah posesif, kenapa! Kenapa harus dirinya yang di posesif kan, kenapa enggak Amora yang memiliki wajah yang mirip dengan.


Kemana pergi Amora itu, apa Peter mengada-ada tentang gadis itu dan mengatakan ia mirip dengan kekasih lamanya, tapi kan seharusnya ia melepaskan dirinya bukan malah semakin mengekang seperti ini.


...****************...


Kini tepat disebuah kost an kecil, terdapat seorang pria paruh baya setengah abad itu. Ia sedang terbaring lemas dengan jantung yang berdetak begitu cepat dan sepertinya jantung nya kambuh.


Dia Rahman, pria itu mengalami sebangkrut-bangkrutnya akibat seseorang yang mengatakan bahwa ia tak kompeten, semua klien nya meninggalkan nya dan mengambil semua saham yang membuat ia bangkrut dengan sangat mengenaskan.


Pakaian yang mewah, jas berkilat yang rapi, sepatu yang berkilat dan rambut yang tertata rapi, kini semua nya sirna akibat kebangkrutan itu. Bahkan saat ini untuk berobat saja ia tak bisa, dimana obat jantung nya sudah habis dan ia harus membelinya kembali. Tapi disini uang nya tak cukup untuk membeli itu.

__ADS_1


Bruak...bruak ...bruak


Terdengar suara pintu yang di gedor dengan sangat kuat, Rahman sudah memastikan bahwa itu adalah pemilik kost yang menagih uang kontrakan yang telat selama 3 bulan.


Rahmat berusaha bangkit, tangan nya masih memegang dada nya yang sakit, wajahnya sudah sangat pucat, dengan sisa tenaga yang ada ia pun membuka kunci pintu.


"Pak Rahman, anda tau kan saya kenapa kesini!" Ucap pemilik kost pelan namun penuh arti.


"Ya saya tau, beri saya satu bulan lagi pak, saat ini saja saya bahkan belum makan!" Ucap Rahman memohon.


"Maaf pak, anda tau kan bahwa kost an ini adalah biaya untuk makan keluarga saya, jika saya terus-terusan membiarkan anda tinggal disini mungkin istri saya akan marah sama saya!" Jelas pemilik kost itu.


"Hmm...baiklah, saya akan keluar dari sini...Makasih pak karena telah berkenan memberikan saya tempat tinggal selama 3 bulan di kost an bapak!" Ucap Rahman dengan sedikit menunduk.


Ya pemilik kost an itu sudah sangat baik untuk nya, biasanya pemilik kost yang lain pasti akan marah atau membongkar semua barang nya jika telat satu bulan saja, tapi ini sudah 3 bulan dan pemilik kost tu masih tetap tenang memberitahu kan nya untuk keluar.


Pemilik kost adalah seorang ustadz yang biasa ceramah dan solat di mesjid diarea rumah nya, istri nya juga sangat baik tapi memiliki kesabaran yang begitu tipis sehingga mudah meledak-ledak.


Pemilik kost itu pun pergi meninggalkan Rahman yang akan masuk juga. Rahman tak berpikir apa-apa, yang ia harus lakukan adalah menyusun semua barang nya agar ia tak lagi merepotkan pemilik kost.


Setelah beberes Rahman langsung mengayunkan kakinya dengan air mata yang menatap nanar pada perkarangan rumah kost nya, sekarang ini dimana ia harus tinggal sedangkan sekarang yang disaku nya hanya ada uang 50 ribu dan tak mungkin kan ia mencari kost sedangkan saat mengekost harus membayar uang DP nya dulu.


"Cobaan apa ini tuhan, aku hidup sendiri tunggang langkang tanpa seorang keluarga, bahkan anak gadis ku entah kemana pergi nya!" Batinnya yang menangis.


"Kemana pergi anak ku, apa ia masih ingat pada ku atau sama sekali tidak?" Batinnya terus bertanya dan hingga akhirnya pergi meninggalkan kost an itu.


Rahman sudah menjalankan hidup seperti ini selama 7 tahun setelah kepergian anaknya yang menghilang selama 10 tahun. Kehidupan nya sangat begitu susah dengan hanya mengandalkan uang simpanannya yang hanya 1 milyar saja, sedangkan ia harus membeli obat untuk jantung nya.


Selama 7 tahun itu ia terus berpindah-pindah kost an hanya karena menunggak pembayaran sebulan dan ia pun memaklumi semua itu sebab semua orang juga butuh biaya.

__ADS_1


Entahlah, seharusnya di umurnya yang sudah tua ini seharusnya sudah menikmati hari tua dan istirahat di rumah, tapi ia harus terus berpikir dan tetap hidup meski nasibnya yang malang ini.


__ADS_2