
...☘️ Reading book ☘️...
Sudah 2 minggu lamanya Tiara selalu menghindar pada Peter, ia sungguh takut pada pemuda itu yang semakin menunjukkan sikapnya yang posesif dan introver, semua yang pemuda itu mau harus diturutkan, kini bahkan ia sudah lelah harus selalu dikejar-kejar oleh pemuda itu.
Ia memakan sate dipinggir jalan, entah mengapa ia begitu ingin makan sate. Daerah penjualan pun dekat rumahnya sehingga ia tidak memerlukan kendaraan karena ia juga ingin berjalan kaki.
Setelah makan ia segera pulang dengan satu bungkus sate yang sengaja ia beli untuk sang papa jika pria itu mau, menelusuri jalan yang terang akibat lampu jalanan, sungguh ia rindu dengan suasana hari ini.
Namun ketenangan nya tak berlangsung lama, ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya dan mungkin sedang mengawasinya, Tiara tak ingin menatap kebelakang tapi ia langsung berancang-ancang lari.
Nihil rasanya, kini mulutnya sudah dibekap dari belakang dengan sebuah sapu tangan. Aroma aloevera yang pekat dan sepertinya itu adalah dosis obat tidur, perlahan penglihatannya hilang dan kabur, kini sudah tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini disebuah kamar yang sangat luas, dengan interior modern yang cukup menenangkan pikiran, terdapat seorang gadis yang terbaring tak sadarkan diri, perlahan matanya mulai bergerak dan mengerjap memaksa buka.
Dia Tiara, Tiara mengerjapkan matanya memaksa membuka matanya yang begitu berat, tiba-tiba suara lenguhannya keluar dan mata nya pun kini terbuka sempurna.
Ia mengerjap-ngerjap bingung dengan keadaan sekitar, ia melihat cet warna ruangan yang ditempati nya tak sesuai dengan cet warna kamarnya.
Tiara pun perlahan menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya yang sepertinya masih lemas, ia melihat-lihat keadaan dan kini ia tau bahwa saat ini ia diculik.
"Gimana nih, sepertinya aku diculik!" Gumam yang terus menatap sekitar untuk mencari cela agar dia bisa lari.
Ceklek
Tiba-tiba pintu dibuka, dengan segera Tiara membalik badannya melihat siapa yang datang berani menculik dirinya. Satu orang yang ia lihat adalah Peter, pemuda itu tersenyum padanya dan mendekati Tiara ikut perlahan mundur.
"Ka-kamu...!" Tiara tak mampu mengucapkan apa-apa, kini pemikirannya kalut dan sulit mencerna semua nya saat ini.
"Iya baby, apa kabar hmm...!" Jawab Peter dengan seringainya.
Srekkk
Kini Tiara sudah berada dikukungan Peter, kedua tangan Peter menjadi sebuah pagar di antara kedua tubuh Tiara yang melekat didinding.
"A-apa ka-kamu yang melakukan hal ini!" Pekik Tiara dengan waspada.
__ADS_1
"So, kau yang meminta nya bukan!" Ucapnya yang tetap dengan seringainya.
"Ak-aku mohon lepaskan aku!" Lirih Tiara dengan wajah tertunduk.
"Tidak akan!" Ucap Peter.
"Ayahku pasti khawatir, ku mohon!" Kini Tiara memberanikan diri menatap Peter dengan tubuh yang gemetar.
Peter tersenyum senang, Tiara begitu menggemaskan saat seperti ini, gadis ini berubah seperti anak anjing kecil yang begitu menggemaskan.
Tiara yang melihat Peter tampak lengah, ia langsung mendorong tubuh Peter dan berlari secepat mungkin ke pintu kamar.
Tiara langsung memutar-mutar knop pintu, namun apa pintu terkunci padahal tadi Tiara melihatnya bahwa Peter tak mengunci apapun.
Peter bersandar didinding dengan tangan menyilang, sungguh ia suka dengan keputusasaan gadis itu, ia ingin memberi pelajaran karena berani sekali menghindar padanya dan ia cukup baik untuk 2 Minggu terakhir.
"Kok enggak bisa sih...hiks...buka...hiks...!" Tiara terus berusaha memutar-mutar namun juga tak bisa, kini tubuhnya sudah luruh di lantai dengan memegang knop pintu yang tak dapat dibuka.
"Hiks...aku mau pulang...!" Tangis nya pecah meratapi nasibnya kenapa harus diculik seperti ini.
Dalam satu hentakan, kini Tiara sudah berada di dalam gendongan nya, Tiara terus memberontak dan ingin lepas, namun Peter tetap bersikap acuh dan melempar gadis itu ke ranjang.
"Lepas...hiks...ku mohon lepaskan aku peter!" Mohon Tiara dengan air mata yang sudah mengalir.
Peter langsung mengukung Tiara, ia menatap air mata gadis itu yang sudah meluncur di pipinya, keadaan Tiara sungguh sangat berantakan.
Peter menghapus air matanya Tiara, ia nengusap dengan lembut. Namun Tiara terus menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Peter sekuat tenaganya.
"Tenanglah, sekarang kamu tidur. Apa kah kau mau kita melakukan sesuatu malam ini!" Ucap Peter penuh ancaman.
"Aku mau pulang!" Rengek Tiara.
"Tidak akan, segera tidur atau aku akan meniduri mu!" Ancam Peter yang membuat Tiara semakin deras air mata.
"Aku mau pulang Peter! Aku mau pulang!" Pekik Tiara.
"Oh baiklah, ternyata kau menginginkan itu!" Seringai Peter semakin begitu tercetak jelas. Peter perlahan membuka kancing baju nya satu persatu. Tiara tertegun dan ia terus menggeleng agar Peter tak melakukan hal nekat.
__ADS_1
"Ma-mau apa kau!" Tiara semakin berusaha menjauhkan diri dari Peter, kakinya berusaha untuk lepas dari kukungan pemuda itu.
"Ku mohon jangan lakukan itu, a-aku akan tidur!" Mohonnya yang terus menggelengkan kepalanya.
"Bagus, kau begitu suka diancam ya! Cup..." Sebuah kecupan singkat tepat dibibir Tiara.
Tiara langsung diam dan menatap dalam pada Peter, terkejut dengan yang dilakukan pemuda itu padanya. Peter langsung mengangkat tubuh Tiara untuk tidur ketempat ranjang yang tepat, pemuda itu langsung melepas sepatu nya dan memeluk tubuh Tiara dengan erat tidak peduli dengan protes gadis itu.
"Peter ngapain kamu tidur disini!" Pekik Tiara yang berusaha melepaskan tangan Peter yang begitu erat memeluknya.
"Ini kamarku!" Jawab Peter yang terus menciumi tekuk leher Tiara.
"Aku geli Peter, Lepasin aku Peter!" Tiara berusaha memberontak.
"Diam dan tidur atau kau memang kita ingin melakukan sesuatu malam ini!" Ancam Peter yang membuat Tiara langsung terdiam dan tertegun mendengar ucapan Peter yang begitu ambigu.
"Bagus, kau memang gadis yang baik!" Ucap Peter dengan membelai pipi Tiara yang tembam dan Tiara hanya diam membiarkan Peter melakukan apa pun.
Ughh
Satu ******* keluar dari mulut Tiara secara tak sengaja, ia dengan segera menggigit bibirnya karena berani-beraninya mengeluarkan suara menjijikkan itu.
Peter tersenyum, ia semakin liar menggigit dan menciumi tekuk leher Tiara dan tangannya sudah merambat masuk kedalam baju kaos Tiara.
"Peter!" Lirih Tiara yang menahan tangan Peter agar tak semakin liar pada tubuhnya.
"Hmmm!"
"Aku ngantuk!" Ucap Tiara pelan namun dapat didengar oleh Peter.
"Baiklah, tidur lah!" Pasrah Peter dengan mengelus puncak kepala Tiara.
Sebenarnya Peter hampir hilang kendali setelah mendengar suara yang memikat dari bibir Tiara, tubuhnya yang begitu dekat dengan Tiara membuat tubuh nya semakin panas dingin menahan hasrat yang tertahan.
Namun ia tetap akan menghargai gadis itu, tak akan mengambil sesuatu dari gadis nya sebelum Tiara mengijinkan melakukan hal itu.
Kedua nya pun saling memejamkan mata, entahlah keduanya tertidur atau apa, tapi ada terdapat sebuah pemikiran yang terus berputar dikepala keduanya.
__ADS_1