Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 14


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini Tiara berada di ruang makan bersama sang papa, tatapan tajam sang papa terus melayang pada nya hingga membuat Tiara sesekali mendengus kesal.


"Apa aku boleh minta sesuatu!" Ucap Tiara yang nadanya bukan memohon tetapi seperti harus diturutkan.


"Tidak, kau sedang dihukum dan jangan banyak permintaan karena ku tau apa yang akan kau minta!" Tolak Rahman mentah-mentah sambil mengunyah roti yang sudah dioles selai kacang.


"Huft" Tiara menghela nafas pasrah, ia sungguh tidak dapat membuat papanya memutar kembali keputusannya, bahkan ia saat ini lebih memilih untuk tidak menggunakan fasilitas dari pada harus dijaga begitu ketat dan menghasilkan opini publik terhadapnya.


"Aku sudah siap!" Lirih Tiara dengan wajah lesu.


"Tunggu sebentar!" Ucap Rahman dan ia langsung mengambil ponselnya menelpon seseorang yang dipastikan Tiara bahwa itu adalah orang suruhan papanya.


Tak berselang lama, dua orang bertubuh kekar datang dengan sedikit berlari.


"Selamat pagi tuan, selamat pagi nona muda!" Sapa secara bersamaan dua orang bertubuh kekar dengan sedikit membungkuk.


"Antar dan jaga anak ku, jika lecet sedikit saja maka kalian tanggung akibatnya!" Ucap Rahman dengan mata tajam, pria paruh baya itu begitu menyeramkan jika sudah sangat serius.


"Siap tuan!" Ucap salah satu bodyguard.


Tiara berjalan dengan lemas dengan diikuti dari belakang oleh dua orang suruhan sang papa. Memasuki mobil yang sudah siap dari awal, wajahnya terus ditekuk dengan jantung yang berdetak begitu cepat.


"Kalian menunggu saja di depan gerbang!" Ucap Tiara dengan wajah datarnya.


"Baik nona!" Jawab mereka.


Mobil pun melesat menuju sekolah Tiara, gadis itu semakin cemas dan saat ini mobilnya sudah memasuki parkiran sekolah.


Banyak pasang mata yang menatap mobilnya, mereka semua baru melihat mobil yang begitu asing memasuki area sekolah.


Dua orang bodyguard keluar dengan salah satu membuka langsung pintu mobil tempat Tiara berada. Tiara keluar dengan wajah yang menahan malu.


Kalian tau apa yang dirasakannya saat ini? Kalian tau bagaimana tatapan terkejut semua orang? Oh no ini sama seperti sebuah mimpi yang tak ingin Tiara dapatkan.


"Akan kami antar sampai kelas anda nona!" Ucap salah satu bodyguard.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, kalian pergilah dulu!" Ketus Tiara yang berjalan dengan cepat.


Namun ia berpikir orang bawahan papanya membiarkan, bodyguard itu terus mengikutinya hingga membuat dirinya merasa begitu kurang nyaman.


Sesampainya dikelas, ia langsung menjadi sorotan semua orang yang berada dikelas. Berita tentang dirinya dikawal begitu cepat tersebar, hal itu semakin sangat tidak nyaman.


"Bisakah kalian langsung pergi!" Ujar Tiara dan bodyguard itu mengangguk lalu sedikit membungkuk dan pergi.


Tiara duduk di bangkunya, ia merasa sungguh tak nyaman dengan semua tatapan itu. Ia segera menyibukkan diri dengan buku yang ia bawa didalam tas, tidak peduli dengan keadaan yang mungkin akan terus berlanjut.


Tak berselang lama guru pun datang, semua orang kini sudah mengalihkan fokusnya terhadap dirinya. Namun Tiara malah kurang fokus saat melihat bangku lelaki yang sering mengganggu nya masih kosong.


"Apa dia telat atau tak masuk" Batin sambil menatap dalam pada bangku itu.


"Tiara kesini kamu, jelaskan apa yang saya jelaskan tadi!" Teriak sang guru membuat Tiara langsung tersentak dan menatap kedepan.


"A-aku tidak bisa buk!" Ucapnya gugup.


"Sekarang kamu keluar, aku tak ingin memberi toleran terhadap murid yang tak mau belajar!" Ujar guru itu dengan mata nyalang.


Tiara hanya dapat menghela nafas pasrah, ia pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan sambil menunduk keluar kelas.


"Mikirin apa sampai segitunya!" Tegur seseorang yang membuat Tiara langsung berbalik menatap orang itu kembali.


"Ka-kamu!" Syoknya. Pasalnya sekarang berdiri Peter dengan senyum manisnya.


"Iya dong, kenapa bisa keluar?" Tanya nya sambil mengelus kepala Tiara.


"Dikeluarin!" Lirihnya dengan menundukkan kepala.


"Hmmm...yaudah mau aku bantu kamu masuk?" Tanya nya lagi yang masih saja memperlihatkan senyumannya itu.


"Enggak perlu!"Jawabnya singkat.


Sebenarnya ia cukup gugup saat berhadapan dengan Peter, pria itu begitu manis saat tersenyum dengan lengsung pipi yang terlihat, bahkan saat ini begitu salting jika terus di tatapa seperti itu.


"Yaudah, yok kekantin!" Ajaknya dengan menarik Tiara.

__ADS_1


"Ta-tapi aku enggak lapar!" Ucapnya.


"Temenin dari pada menunggu disini!" Ucap Peter yang kini menarik tangan Tiara sambil berlari.


Tiara ikut berlari, ia sekarang cukup senang karena sikap Peter yang cukup berubah dari sebelumnya yang begitu dominan. Namun ia penasaran dengan wajah Peter yang seperti nya dilapisi dengan sebuah bedak. Pengen bertanya namun takut jika ia mendapat masalah dengan pertanyaan nya itu.


Sesampainya mereka dikantin, Peter langsung membawa Tiara duduk dimeja paling dekat dengan steles makanan , sehingga memudahkan mereka untuk memesan makanan.


"Bakso satu, jus mangga dua dan beberapa cemilan snack!" Teriak Peter dan segera dianggukin oleh penjaga kantin.


Tiara tetap diam, bahkan saat ini Peter dengan nakalnya memainkan tangannya dan sesekali menggigitnya.


"Aw..." Ringisnya yang langsung menarik kembali tangannya, namun Peter segera mengambil kembali tangan itu dan mengelusnya dengan lembut.


"Maaf nggak sengaja!" Ucap Peter dengan wajah memelas.


"Oh tuhan, bisa kah aku buang wajah imutnya itu, itu akan membuat ku meruntuhkan pertahanan ku!" Batin ku dengan mata yang tertegun melihat tangannya yang terus di elus.


"Eng-enggak papa kok!" Jawab Tiara dengan gugup.


Pesanan pun datang, terlihat bakso dengan kuah yang masih panas dan dua jus mangga yang terlihat begitu manis, jangan lupa dengan beberapa cemilan yang juga dipesan Peter.


"Makanlah, aku tidak mungkin membiarkan gadisku menatapku makan begitu saja!" Ucap Peter dengan menyodorkan langsung cemilan kearah Tiara.


Oh tunggu Gadis sejak kapan dirinya menjadi gadis Peter, bahkan ia belum sepenuhnya menerima perlakuan Peter saat ini meski ia merasa cukup salting.


"Ma-makasih!" Ucapnya dengan mengambil satu cemilan.


Peter hanya mengangguk, ia pun mulai memakannya tanpa menambah apapun bumbu seperti saos, kecap atau pun cabai.


"Coba makan!" Peter malah menyodorkan satu buah bakso dengan garpu yang sudah ditusuk.


"Ini...!" Tiara sedikit ragu, namun akhirnya ia sedikit menggigit karena terlihat wajah penuh harap dari Peter.


"hah...hah...panas!" Ujar Tiara yang langsung meminum jusnya.


Ya pasti panas lah, kan baru saja dikeluarkan dari kuah yang panas dan bahkan saat ini kuah bakso saja masih mengeluarkan asap yang cukup banyak.

__ADS_1


"Ah maafkan aku, aku tak tau!" Ucap Peter yang sedikit panik.


__ADS_2