
...☘️ Reading book ☘️...
Mereka berdua makan dengan keheningan, tak ada satu pun diantara mereka memulai pembicaraan namun Tiara beberapa kali melirik Peter yang fokus dengan makanannya.
"Apa aku tampan!"Tanya nya dengan alis yang naik turun.
"Geer!" Ketus Tiara yang kembali memakan makanannya dengan kesal.
Peter tersenyum kecil, sangat lucu melihat Tiara yang bersungut kesal seperti itu.
"Aku kenyang!" Ujar Peter yang langsung menjauhkan piringnya.
Tiara menatap makanan yang dimakan Peter, astaga baru dua potong daging yang terlihat rusak, kenapa langsung merasa kenyang.
"Eh habisin, mubazir tau!" Ketus Tiara.
"Enggak mau, kamu aja yang habisin!" Ujar Peter yang dengan santainya mengelap mulutnya menggunakan tisu.
"Enggk, bodo amat deh mau abis tau kagak nya!" Kesal Tiara yang lebih baik memilih fokus makanannya.
"Kalo kamu enggak ngabisin maka aku akan menahan kamu disini, jadi gimana!" Ujar Peter dengan senyum miringnya.
"Aku mana sanggup ngabisin Peter...Ah kok gitu sih!" Kesal Tiara.
"Ya enggak tau kok nanya saya!" Ujar Peter dengan wajah santai nya yang membuat Tiara semakin kesal.
Kini Tiara langsung bangkit dari duduknya, ia mendengus kesal melihat wajah Peter yang santai. Ayolah dia bukan seorang mukbang yang makan banyak, bahkan saat ini ia sudah kenyang dengan stek BBQ Level A yang di pesan dan bahkan banyak makanan lain yang belum disentuh.
"Aku mau pergi!" Pekik Tiara yang langsung berjalan kearah pintu room, namun pintu itu malah terkunci dengan rapat.
"Peter....aaaa....serius, aku mau pulang nanti papa marah sama aku!" Rengek Tiara dengan wajah memelas.
Peter berusaha untuk tetap bersikap santai, namun sebenarnya ia sudah sangat tersenyum lebar dalam hati mendengar rengekan manja Tiara.
"Makanan nya belum habis!" Ujar Peter.
"Kan makanannya banyak loh, tapi kamu bilang udah kenyang!" Rengek Tiara.
__ADS_1
"Iya, kan kamu ada!" Ujar Peter dengan alis yang naik satu.
"Ayolah, perutku bukan karet!" Ujar Tiara.
Peter tersenyum miring, ia pun bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Tiara. Terlihat gadis itu memasang wajah cemberut dan kesal.
"Bagaimana kalo kau suapin aku!" Bisik Peter tepat ditelinga Tiara.
Tiara meremang mendengar suara Peter yang begitu dekat, bahkan harum maskulin Peter sangat tercium di indra penciumannya.
"Ayo lakukan!" Ucap Peter yang berjalan menjauh dan langsung duduk kembali ditempat nya.
"Ta-tapi...!" Tiara ingin memprotes, ia merasa bingung harus menyuapi pria yang dihadapannya itu.
"Baiklah, kau saja yang menghabiskan!" Ujar Peter yang berwajah santai.
Tiara pun sedikit menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan menghampiri Peter yang tersenyum tipis padanya. Sedikit ragu untuk duduk disamping pria itu, ia berpikir sejenak dan akhirnya Peter sendiri lah yang menarik Tiara hingga terjatuh di pangkuannya.
"Aaaakkkkhhh....!" Teriak Tiara dan spontan langsung merangkul bahu Peter dengan erat.
Diantara keduanya sempat terdiam, Peter tersenyum miring penuh arti sedangkan Tiara masih dalam mode terkejut dan menstabilkan tekanan darahnya akibat sikap Peter yang spontan itu.
Namun Peter malah menahannya dan tetap memperlihatkan senyum yang membuat Tiara begitu kesal.
Tia menahan tubuhnya dan Peter dengan tangan yang mendorong bahu Peter. Sempat terpesona dengan wajah tampan Peter yang dekat saat ini, namun harus merasa jengkel dengan senyum mengejek nya itu.
"Ayo suapkan!" Pinta Peter dengan alis yang mengarah pada makanan dihadapannya.
"Hmm...itu bisa enggak aku turun dulu!" Ujar Tiara dengan wajah yang sudah merona menahan malu.
"Suapin cepet!" Pinta Peter tanpa ingin dibantah.
Tiara pun sedikit gelagapan, dengan terpaksa ia mengambil makanan dipiring Peter dan menyiapkan pemuda itu dengan telaten.
...----------------...
Kini di perusahaan Rahman group, terlihat Rahman menahan kesal akibat ulah sang anak. Bawahannya melaporkan tentang Tiara yang kabur dengan seorang pria yang membuat Tiara tak bisa pulang dalam pengawasan.
__ADS_1
Pena yang kini dalam genggaman sangat lurus dan berkilat, kini harus patah menjadi dua akibat amarah Rahman yang sudah tertahan.
"Siapa laki-laki sialan yang berani membawa anak ku, lihatlah bahkan anak ku berani membantah ku!" Geram Rahman.
AC didalam ruangan dingin itu saja tidak mampu merendamkan emosinya yang sudah terbakar, putrinya yang penurut dan manis kini menjadi anak yang nakal dan pergi bersama laki-laki asing, hal itu membaut rahman semakin geram.
Ia yang memang memiliki sifat over thingking dan protektif terhadap anak nya, sering kali melakukan hal yang mengekang sang anak. Tapi itu semua ia lakukan setelah istrinya meninggal, ia tidak ingin menghilangkan satu bidadari dalam hidupnya dan cukup hanya bidadari yang ia cintai satu lagi pergi.
Tok...tok...
Ketukan pintu diruangan kerja Rahman, setelah mendapatkan intruksi dari dalam sehingga masuk lah seseorang yang merupakan asisten pribadi Rahman.
Toyako, bernama asli Zeu toyako tang pria asal Jepang yang berusia 55 tahun lebih tua dari pada Rahman, sangat dekat dengan Rahman dan bahkan dianggap sebagai kakak sendiri.
"Ada apa?" Tanya Rahman yang berusaha bersikap biasa saja.
"Rapat akan dimulai 20 menit lagi, ini adalah berkas yang sudah siap di ajukan" Ujar toyako memperlihatkan berkas ditangannya.
"Baiklah, kita akan keruang meeting sebentar lagi!" Ucap Rahman dan diangguki oleh toyako.
Toyako pun duduk di sofa ruangan, ia menatap Rahman dengan lekat. Ia melihat wajah gusar pria itu yang tak akan bisa ia kecoh dari nya.
"Ada masalah? Katakan!" Ujar toyako dengan terus menatap lekat Rahman.
"Anak ku, dia sekarang menjadi nakal dan membantah perintah ku!" Ujar Rahman yang menggeram kesal.
"Apa yang kau lakukan yang membuat dia membantah mu?" Tanya toyako yang begitu hapal dengan tingkah adeknya itu dan juga bos nya.
"Aku hanya memberikan bodyguard untuk mengawasi dia agar tidak sering pulang malam, dan dia malah bersembunyi dan pergi dengan seorang teman pria nya, aku geram dengan pria itu yang berani membawa dampak negatif pada anak ku!" Jelas Rahman yang mengepal tangannya kuat.
"Patutlah dia tak patuh, dia sudah besar dan membutuhkan kebebasan agar dia tak terkekang, kau jangan berlebihan pada anak mu itu!" Ujar toyako dengan sedikit jengkel.
"Aku tak berlebihan, kau saja yang menganggap ku berlebihan!" Ketus Rahman.
"Hahahaha...baiklah, kau yang paling benar!" Ujar toyako dengan tawa nya yang sedikit receh, ia akan selalu kalah dalam berdebat meski ia mampu untuk melanjutkan perdebatan itu.
"Aku malas melihat tawa mu itu, cepat keruang meeting!" Dengus Rahman.
__ADS_1
"Ah baiklah, dasar kau pria ngambekan!" Ejek toyako.
Mereka pun berjalan bersamaan menuju ruang meeting dengan toyako yang berada di belakang Rahman.