
...☘️ Reading book ☘️...
Kini disebuah kebun bunga yang memiliki berbagai varian bentuk yang begitu indah tubuh subur terawat dan terjaga oleh pemilik nya.
Tiara sibuk bersiul bahagia dengan menyiram bunga nya, ia sungguh sangat menikmati kehidupan nya kali ini, tak ada rasa lelah yang ia rasakan dan hanya rasa terus ingin menikmati hidup.
"Ternyata kamu disini!" Ucap seorang pemuda dengan nafas yang ngos-ngosan.
Tiara berbalik melihat siapa yang sedang berbicara dengan nya, seorang pemuda yang selama ini selalu membantu nya melakukan apapun itu.
"Kenapa? Bukankah aku selalu disini setiap waktu pagi!" Ujar Tiara menjawab.
"Bik cemi ingin bertemu dengan mu, dia sungguh rindu pada anak gadisnya!" Ujar pemuda itu dengan nada sindiran.
"Ah benarkah, bibi sudah pulang. Bagaimana keadaan nya?" Terlihat Tiara begitu semangat dengan kedatangan seseorang yang telah ia anggap sebagai sang mama.
"Yaudah cepatlah kau bersiap, bik cemi sungguh sudah menunggu mu satu jam yang lalu!" Ujar pemuda itu.
"Sabarlah jac, kau lihat ini semua belum selesai!" Tiara masih sibuk menyirami bunganya, sungguh ia tak ingin sampai bunganya layu karena sehari tak dapat air.
"Oh baiklah, aku bantu!" Tawarnya yang langsung mengambil satu selang air lagi dan mulai lah menyiram bunga itu semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Peter, mansion mewah itu tetap saja begitu sunyi tak bersuara, bagaimana sebuah kuburan dimalam hari. Mansion itu hanya ditinggalin oleh Peter dan semua pekerja, namun itu semua tak mampu membuat mansion mewah itu berwarna sedikit pun setiap harinya.
Peter baru saja selesai memakai baju kantoran, ia akan selalu memakai baju itu sampai sang kekasih ditemukan dan ia dapat istirahat dengan tenang tanpa sedikit pun pemikiran tentang nya.
Ia masih berharap Tiara itu masih singgel dan masih menjaga hati nya. Jika sampai gadis itu sudah menikah, ia akan pastikan akan menghukum lebih berat untuk gadis itu.
Drrrttt...drrrttt
Suara panggilan masuk di ponselnya, Peter langsung mengangkat nya dengan wajah dingin dan datarnya.
__ADS_1
"......"
"Lakukan penerbangan, kita akan membawa gadis nakal itu kembali!" Lirih nya dengan sumringah yang begitu menggoda.
Panggilan pun dimatikan, Peter terus tersenyum smrik mendapatkan kabar setelah sekian lama, ia pastikan akan membuat gadis nya itu menyesal karena berani kabur dari nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berbeda dengan Peter yang mendapatkan kabar baik, dikediaman Rahman begitu sangat kacau. Pria itu sungguh sudah sakit-sakitan setelah mendapatkan kabar bahwa sang anak tak ditemukan.
Satu-satunya keluarga nya harus pergi meninggalkan diri nya seorang diri. Kekayaan yang ia dapat percuma jika pada akhirnya akan tak ia bawa sampai mati sekali pun.
Saat ini Rahman mendapatkan kanker hati stadium 3 awal, dimana ia sudah rutin memakan banyak pil yang begitu pahit dan sudah melakukan kemoterapi 2 kali, sungguh sangat menyiksa disaat seperti ini tak ada satu pun yang berada disisinya.
"Tuan anda jangan terlambat meminum obatnya, mohon tepat waktulah!" Ucap dokter pribadinya yang saat itu telah selesai memeriksa Rahman.
"Percuma, obat itu hanya memperpanjang bukan menghilangkan, aku tak ingin memakan obat itu!" Sarkahnya lirih.
"Kau harus terus mengonsumsi obat tuan, aku tak ingin di cap sebagai dokter kejam karena tak menghiraukan mu!" Ucapnya dengan sedikit nada ejekan.
"Aku tak mempermasalahkan nya dengan mu, yasudah pergilah aku lagi tak ingin melihat wajah mu itu!" Usirnya yang langsung membelakangi sang dokter.
Dokter itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh tuan nya itu seperti seorang anak kecil saja yang selalu ngambekan.
"Oh yaudah baiklah, aku akan pergi dan kau harus selalu makan obatmu, aku tak ingin terus datang kesini dengan tergesa-gesa!" Ucap sang dokter sinis.
Bagaimana tak sinis coba, jarak dari sini kerumah sakit membutuhkan waktu 30 menit, namun apa ia harus sampai disini 15 menit tanpa sedikit pun bantahan.
Hal itu membuat ia menggunakan kecepatan tinggi agar sampai dengan cepat, oh ayolah setiap garis seperti ini ia takut terjadi sesuatu padanya.
Setelah kepergian dokter pribadinya, Rahman menggenggam sebuah foto seorang gadis yang tersenyum, siapa lagi coba kalo bukan anak gadisnya Tiara.
Sangat rindu yang ia rasakan saat ini, ingin sekali melihat wajah gadis itu meski sekali saja. Ia hanya ingin menanyakan kabar dan kenapa tak pulang, ia begitu merindukan nya.
__ADS_1
Air matanya perlahan merembes turun menuruni pelipis matanya, selalu saja menangis. Ia tak mampu mencari keberadaan gadis kecilnya itu.
"Kapan pulang nak...hiks!" Lirihnya dengan air mata yang mengalir.
"Kamu tau, kehidupan begitu hampa tanpa mu sayang, apa kamu tak mau merawat papa yang sedang sakit ini!"
"Kamu begitu tega meninggalkan papa!" Lirih nya dengan air mata yang terus mengalir.
Tak ada seorang ayah yang tak merindukan anaknya, Rahman sungguh sangat merindukan nya dan jika sampai ia ketemu dengan anaknya. Ia pastikan tak akan membuat anaknya itu marah dengan nya dan akan melakukan apa saja asal gadis kecilnya itu tetap bersamanya sampai akhirnya ia meninggal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Peter melakukan perjalanan menuju keluar negeri yaitu Kolombia, dimana disana ia harus menyelesaikan masalah di kantor cabang nya dan mengajarkan gadis nakal.
Ia saat ini sudah berada di dalam jet pribadi nya, senyumnya tidak kunjung hilang dari bibirnya, seakan begitu menantikan gadisnya itu kembali ke pelukan nya.
Ia terus menatap lurus dengan senyum, tak sabar saat ini ia turun dari kolombia dan berlari menuju persembunyian gadisnya itu.
"i'm coming baby" Gumamnya dengan seringai licik nya.
10 Jam lama nya akhirnya mereka pun sampai di bandara internasional di Kolombia, Peter turun dari jet nya itu dengan diiringi para bawahan yang sebagai bodyguard dan seorang sekertaris yang berada di belakang dekatnya.
"Tuan ini adalah berkas yang akan kita urus!" Ucap Juan yang memperlihatkan sebuah map yang berisi beberapa berkas.
"Baiklah, bagaimana perkembangan gadis itu?" Tanya nya semangat seakan tak mempedulikan perusahaan nya yang kini sedang begitu kacau.
"Ah itu... Semuanya sudah didapatkan dan nona Tiara masih lah singgel!" Jawab Juan dengan sedikit kurang percaya dengan pertanyaan tuan nya itu.
"Ah baiklah, itu lah jawaban yang aku tunggu selama ini, baiklah ayo kita ke perusahaan!" Kini Peter begitu semangat bahkan saat ini ia bersikap seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan.
...****************...
Sorry banget karena kemaren tak dapat up, soalnya ada acara keluarga dan mohon jangan lupa tinggalkan jejak ya besti☺️
__ADS_1