
...☘️ Reading book ☘️...
Mobil Peter berjalan memasuki sebuah mansion megah yang diikuti oleh dua mobil penjaga di belakangnya.
Mobil langsung berhenti tepat didepan pintu mansion itu. Pintu mobil Peter langsung dibuka oleh asistennya. Ia disambut oleh para maid dan kepala maid yang berbaris dengan rapinya.
"Selamat datang tuan muda!" Sapa Kepala maid yang membungkuk.
Peter tetap diam tanpa menjawab sedikit pun. Ia berjalan melewati semua maid yang menyapanya. Wajahnya datar dan dingin, semua orang yang ada disana sempat ketakutan tetapi sesekali melirik karena wajah tuan mudanya itu cukup tampan, terlebih yang bekerja disana masih diumur 25 tahun keatas.
Peter memasuki ruangan mansion itu, dimana yang merupakan ruang utama. Terlihat disofa terdapat seorang yang duduk dengan wajah datarnya bersama dengan dua orang pengawal yang berdiri disampingnya.
Lelaki paruh baya itu melambaikan tangan sebagai instruksi agar dua pengawalnya pergi meninggalkan nya. Peter juga melakukan hal itu, ia memberikan instruksi lambaian tangan agar pengawal yang mengikutinya ikut pergi meninggalkan nya.
"Katakan!" Ucap Peter to the point yang langsung duduk dihadapan sang ayah tanpa menunggu persetujuan sang ayah.
"Bersikaplah sopan, aku ini ayah mu!" Ucapnya yang geram.
"Aku masih sekolah, kenapa kau membawa ku di jam yang tak tepat!" Ucap Peter tanpa ingin berniat menjawab ucapan sang ayah.
Coldas Tergam, lelaki paruh baya yang berumur 50 tahun, namun diusia itu pria yang berumur itu masih sangat tampan dan bahkan tak banyak ada remaja yang menyukainya.
Terlihat Coldas menghela nafas panjang, ia sungguh kesal dengan putranya yang begitu dingin dan datar terhadapnya.
"Aku ingin kau pergi ke Belanda mengurus perusahaan ku yang bermasalah!" Ucap Coldas yang tak ingin basa basi.
"Aku pikirkan!" Jawabnya.
Tatapan keduanya sangatlah tajam, tak pernah akrab diantara keduanya. Hanya ada rasa yang datar dan dingin, tak ada kasih sayang atau kenangan yang melekat untuk dikenang.
"Kau harus melakukannya!" Ucap Coldas yang memang tak meminta pendapat pada sang anak.
"Baiklah, kapan!" Ucap Peter yang tak ingin mengambil pusing.
"Besok!" Jawabnya.
Peter pun langsung bangkit dari duduknya tanpa menunggu ucapan selanjutnya dari sang ayah. Ia berjalan dengan langkah panjangnya, tatapan dingin dan tajam masih sama kecuali berada di dekat gadisnya itu.
__ADS_1
Peter keluar dari mansion mewah itu dan diikuti oleh beberapa bodyguard yang memang mengikutinya tadi saat pergi kesini.
Peter memasuki mobilnya dan mobil pun segera melaju kembali memutar hiasan kolam mancur ditengah halaman luas itu.
"Ke markas!" Ucap singkat Peter dan mereka pun hanya diam melakukan apa yang diminta bos nya itu.
Peter memejamkan matanya, ia berusaha menenangkan pikirannya agar tidak marah atau pun kesal karena ia sudah biasa diperlakukan seperti itu.
Beberapa kali Peter menghela nafas berat, yang membuat asisten Peter menatap kebelakang dan memberanikan diri bertanya.
"Apa anda baik-baik saja tuan?" Tanya asistennya.
"Hmmm...!"Dehemnya.
"Apa anda memerlukan alkohol dan rokok untuk menenangkan pikiran anda?" Tanya asistennya yang begitu tahu yang dibutuhkan Peter.
"Ya berikan padaku!" Ucap Peter yang membuka kembali matanya.
Dengan segera asistennya melakukan apa yang diminta oleh bos nya itu, mengambilkan beberapa minuman alkohol dengan radar alkohol sedang dan juga satu bungkus rokok.
Peter langsung mengambil botol minuman itu tanpa menunggu ucapan dari asistennya itu. Ia membakar rokoknya dan menghisap dengan cukup dalam untuk meluapkan rasa kesalnya.
Tampilannya berbeda saat berada di sekolah, saat ini ia tak memakai kacamata dan hanya memakai softlens bening untuk matanya yang sedikit rabun.
Rambut yang diikat asal membuat lingkaran diatas kepalanya, meninggalkan sedikit rambut disetiap sisi dekat telinganya. Sepoles makeup dan liptbam yang berwarna pink natural, menambah kecantikannya.
Berjalan keluar karena memutuskan untuk pergi ke kafe terdekat hanya untuk nongkrong bersama Ria sahabat nya itu.
Tiara menggunakan motornya dengan helm hello Kitty nya, saat ini laju motornya kecepatan rata-rata membelah keramaian jalanan.
Sesampainya di cafe yang dituju yaitu Cafe Astro boy and girl, ia langsung masuk kedalam mencari keberadaan ria disana.
Satu lambaian tangan mengarah padanya, Tiara pun langsung melangkah menghampiri Ria yang terus melambai dan tersenyum.
Tiara langsung duduk, ia melihat Ria yang masih melambaikan tangannya yang membuat dirinya sedikit bingung.
"Eh mbak, tolong jangan duduk disini itu teman saya datang!" Ucap Ria menunjuk kearah seorang gadis cupu memakai kacamata.
__ADS_1
"Apa mata nih anak rabun yak!" Batin Tiara menatap bingung pada Ria.
"Seriusan kamu nggak kenal aku!" Ucap Tiara yang menunjuk pada dirinya.
Ria menggelengkan kepalanya, ia tetap terus melambai sampai gadis itu menatap dirinya dan akhirnya mendekat.
Namun yang membuat Ria bingung, karena orang yang ia lambaikan ternyata salah orang akibat melihat wajah gadis itu dari dekat.
"Ah maafkan aku, aku salah orang!" Ucap Ria yang langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
"Tak apa, ku pikir kau mencari apaan!" Ucap gadis itu tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Ria.
Ria malah kembali menatap pada seorang gadis duduk di hadapannya.
"Apa! Ini aku!" Ketus Tiara yang membuat Ria langsung tersentak.
Ia pun langsung mendekati wajahnya menatap dengan lekat gadis yang ada dihadapannya dan ternyata benar bahwa yang dihadapannya saat ini adalah Tiara, sahabat nya.
"Ini seriusan, apa sekarang aku mimpi ya! Gumamnya yang tak percaya.
Tiara merasa kesal dengan gumaman Ria, ia pun langsung mencubit sedikit tangan Ria agar gadis itu segera tersadar.
"Aww...eh sakit tau, berarti ini bukan mimpi!" Ucapnya yang merasakan kesakitan tapi masih memikirkan tentang mimpi.
"Yaiyalah!" Kesal Tiara yang sedikit cemberut dengan wajah ditekuk.
"Ululululu...sorry, aku kan nggak kenal ama penampilan kamu kayak gini!" Cicit Ria dengan wajah yang sengaja diimut-imuti.
"Jangan sok imut, bikin mual tau!" Ketus Tiara yang membuat Ria merasa kesal.
"Ah bodo, pesan ah makanan deh!" Ucap ria yang tak ingin memperpanjang masalah yang membuat otaknya harus ikut berpikir.
Ria menyodorkan menu makanan kearah Tiara yang membuat gadis itu langsung membukanya.
Tiara memanggil pelayan yang memang biasanya berkeliaran untuk melayani setiap pelanggan datang.
"Cocolate americano, nasi goreng dan juga es krim rasa vanilli banana strow!" Ucap Tiara yang mulai memesan. "Kamu ra?" Tanya Tiara yang memberikan menu makanan pada Tiara.
__ADS_1
"Samain aja!" Ucap Ria yang memang males untuk kembali membaca menu yang menurutnya cukup banyak varian, tapi karena dirinya yang memang mageran saat ini