Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 43


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Tiara terus menatap kearah jendela dengan pikiran yang berkecamuk entah kemana, sedangkan Peter terus menatap sang istri yang masih tetap murung.


Suasana mobil hanya ada keheningan dengan suara deru mobil yang melaju sedang. Hingga suara mobil yang lain tiba-tiba menyelip diantara mobilnya, sehingga kini mobil Peter berada di tengah-tengah kepungan 3 mobil.


"Sialan! Penyergapan!" Umpat Peter dengan tangan yang bersiap dengan pistol entah sejak kapan berada ditangannya.


"Akan saya selesaikan tuan!" Ucap sopir itu yang segera mengeluarkan pistolnya dan sedikit membuka kaca pintu mobil.


Mobil musuh saling menghimpit diantara jalanan yang sempit. Tiga mobil secara berlawanan saling menembakkan peluru pada mobil Peter yang terhimpit.


"Nunduk kebawah, jangan mendongak keatas!" Peringat Peter memaksa Tiara langsung menunduk di bawah.


*Dor...dor..


Prankkk*...


Kaca mobil pecah akibat tembakan itu, Peter dengan cepat menembakkan satu peluru tepat di pistol lawannya.


"Akkhhh...peter!" Teriak Tiara yang berusaha menutup telinganya.


Peter tetap berusaha melawan lawannya yang memiliki jumlah yang cukup banyak, ia kewalahan dan disini hanya ia dan sopirnya yang bisa melawan sedangkan di berbagai arah terdapat lawan yang menembakkan peluru.


"Akhhh!" Jerit sang sopir saat lengannya tertembak tepat di engselnya.


"Sialan!" Umpat Peter yang kembali menembak secara membabi buta.


"Hati-hati!" Teriak Tiara saat mobil yang mereka kendarai berjalan tidak sesuai jalurnya.


"Tetap menunduk Tiara!" Teriak Peter saat melihat Tiara yang tiba-tiba bangkit.


Lawan yang melihat Peter lengah langsung saja menembak tepat di dada pria itu.


"Akhhh!!"


"Peter!" Teriak Tiara yang langsung memeluk tubuh Peter.


Tubuhnya bergetar hebat, semua yang ia dapatkan saat ini tak pernah terjadi dalam hidupnya. Kenapa harus terjadi seperti ini, seharusnya ia tidak menjadi beban untuk Peter dan sekarang lihatlah ia yang membawa malapetaka.

__ADS_1


"Tuan! Apa anda baik-baik saja?" Tanya sang supir yang cukup khawatir dengan keadaan tuannya itu.


"Masuk jurang!" Teriak Peter.


"Apa tuan! Itu berbahaya!" Ucap sopir itu memperingatkan.


"Aku bilang masuk jurang bangs*t!" Teriak Peter dan dengan terpaksa sopir nya itu melajukan mobilnya itu pada pembatas jalan dan ya...mobil pun meluncur kebawah.


Para mobil lawannya pun berhenti, mereka melihat kearah mobil Peter yang cukup tak berbentuk lagi dan mereka sudah yakin bahwa yang mereka incar sudah mati.


"Kembali!" Teriak ketua nya dan mereka pun langsung pergi meninggalkan area tersebut.


didalam rumah minimalis, seorang pria paruh baya sedang menikmati coklat hangat setelah melakukan rutinitas paginya. pemandangan saat ini sangat indah dan menyejukkan hatinya yang begitu gelisah sejak tadi pagi.


Prangg...


Gelas yang ada ditangannya langsung pecah tak berbentuk beserta coklat hangat yang sudah bertebar mengotori lantai yang bersih itu.


"Astaga! Ada apa ini!" Batinnya yang tampak begitu gelisah.


Tak berselang lama datanglah seorang wanita paruh baya yang merupakan pembantu yang telah disiapkan langsung oleh menantunya, ya siapa lagi kalo bukan Peter.


"Astaga tuan, kumaha atuh?" Tanya pembantu itu dengan nada khawatir nya.


"Tidak ada tuan, apa saya perlu menelpon nona tiara?" Tanya pembantu itu.


"Tak perlu, bersihkan saja ini!" Ujarnya yang langsung berjalan meninggalkan pecahan kaca yang bertebar itu.


...----------------...


Kini di jurang hutan, terdapat seorang wanita yang tak sadarkan diri dengan kepala penuh darah terbaring di tanah dengan satu tangan tertancap pada akar pohon.


Dia Tiara, wanita itu masih memejamkan mata tak sadarkan diri, bahkan cahaya matahari yang masih siang kini bertukar menjadi gelapnya malam.


"Egghh...uggghhh!" Lenguhnya yang baru saja sadar dari pingsannya.


Ia mengerjapkan matanya, satu yang ia rasakan yaitu seluruh tubuhnya mati rasa dengan kepala yang sangat begitu sakit.


"Pe-Peter!" Panggilnya dengan suara lemahnya.

__ADS_1


Ia memicingkan matanya berusaha menangkap cahaya agar dapat melihat, namun semua nya percuma hanya pepohonan rindang dengan gelapnya cahaya yang ia lihat.


Sedangkan di jalan tempat kejadian, polisi dan para damkar berkumpul bersiap mencari korban dan membersihkan TKP. Mereka harus segera menyelesaikan ini semua agar operasional jalan pengendara.


"Apa kita harus mencari ini sekarang pak?" Tanya salah satu damkar.


"Sepertinya kita lanjutkan besok saja, saya sudah memberikan plang polisi di tempat ini!" Ucap pak polisi itu.


"Baiklah pak!" Semua yang ada disana pun bergegas bersiap untuk menyudahi kegiatan mereka memantau tempat kejadian.


Memang sih mereka baru saja mendapatkan kabar ini jam 4 sore yang lalu, jadi mereka hanya baru mengecek keadaan sekitar dan mobil korban yang terjun ke jurang. Mereka masih akan melakukan autopsi mencari jenazah korban yang mungkin terlempar jauh.


Kini di dalam sebuah helikopter, Peter mengalami pendarahan hebat. Bekas tembakan itu berhasil mengenai jantungnya dan mungkin harus segera di operasi.


Semua anggota mafia nya sedang bergegas mengawal bos mereka nya itu menuju rumah sakit agar segera ditangani. Saat ini yang mereka pedulikan adalah ketua mereka dan untuk yang lain mereka menunggu ketua mereka sembuh dan memberikan mereka perintah.


Peter di bawa menggunakan helikopter dalam keadaan yang tak sadarkan diri, untung saja para anggotanya menemui nya setelah satu jam berada didalam hutan dan hanya di berikan selang darah agar darah Peter masih bertambah meski terus keluar.


Berbeda dengan sopirnya yang kini ditangani oleh dokter pribadi mereka, saat ini dokter itu menanganinya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya itu.


"Siapa yang melakukan ini!" Geram Juan yang berjabat sebagai tangan kanan Peter.


"Berdasarkan peluru yang di lihat, ini seperti nya mafia black rose!" Ucap sang dokter yang memperlihatkan peluru bekas sopir itu.


"Ck...cari masalah mereka, aku pastikan mereka akan tau akibatnya telah berurusan dengan kita!" Geram Juan dengan urat tangan yang keluar menahan emosi.


...****************...


Tiara menyadarkan dirinya kembali setelah ia kembali lagi pingsan. Ia menatap langit-langit yang begitu sangat gelap dan sunyi.


Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku, sangat sakit dan begitu susah. Ia menatap kesampingnya yang ia rasakan salah satu bagian tubuhnya tertancap sesuatu.


Ia menatap tangannya, berapa terkejutnya bahwa tangannya tertancap sempurna pada akar pohon yang runcing dan darah yang mengering.


"Hiks...hiks...sakit!" Tangisnya yang pecah, sudah sangat tak bisa ia tahan saat ini dengan seluruh tubuh yang kaku dan sakit, kini malah tangan yang tertancap dan mungkin saja tulang tangannya sudah patah akibat itu semua.


"Peter! Peter kamu dimana...hiks...hiks!" Hanya itu yang bisa Tiara lakukan, menangis dan terus memanggil nama sang suami.


Suara burung dan beberapa hewan malam semakin terdengar deras, membuat malam yang gelap semakin begitu mencekam.

__ADS_1


"Aku harap kamu juga masih baik-baik saja!" Gumamnya disela tangisnya, ia masih ingat bagaimana Peter yang tertembak karena nya dan bagaimana Peter menahan rasa sakit didalam pelukannya.


"Kamu dimana peter!" Lirihnya.


__ADS_2