
...☘️ Reading book ☘️...
Kini Tiara bersiap dengan tali yang ia temukan di laci nakas, ia mengikat pada balkon kamarnya. Melihat situasi yang begitu sunyi dan sepi, ia pun langsung segera melancarkan aksinya.
Kini ia sudah memakai masker dan juga topi, semua sudah siap dengan rencananya. Perlahan-lahan turun dengan mengandalkan tali kecil.
Untung saja dibagian dinding dekat balkonnya terdapat tonjolan-tonjolan batu yang sengaja di keluarkan.
Hap
Akhirnya kaki nya sudah menapak pada rumput, sungguh usaha yang melelahkan bukan. Dengan mengendap-endap ia pun berjalan menuju pintu belakang pagar.
Sial itu ada orang, Umpatnya yang langsung bersembunyi di balik didinding.
Tiara menunggu sampai orang itu pun pergi dari pintu belakang itu, ia berjalan cepat untuk segera masuk kedalamnya.
"Oh astaga, ternyata mansion ini berada ditengah-tengah sungai!" Ucapnya tak percaya dengan membekap mulutnya.
Bagaimana tak percaya, disekelilingnya adalah sebuah air yang mengelilingi tanah ditengah-tengah mansion ini, gila ini seperti cerita fiksi yang ia baca, tapi kenapa harus terjadi padanya.
Kini Tiara yang bingung sendiri harus berbuat apa, sedangkan disekelilingnya adalah sungai terus setelah melewati sungai apakah ia juga harus melewati hutan yang rimbun ini.
Tiara mencari cara agar bisa dengan mudah keluar dari sini, tapi apa ia sungguh bingung harus berbuat apa. Duduk sambil melihat kanan dan kirinya.
Seketika matanya berbinar saat sebatang kayu yang ternyata dijadikan jalan terlihat dikawal yang tak terlalu jauh dari nya duduk.
Tapi jarak jalan itu menuju lebih masuk kedalam hutan, baiklah ia akan menggunakan otaknya agar bisa segera keluar, tapi yang pasti ia harus keluar dari genangan air ini.
Tiara pun berjalan dengan perlahan, cukup licin karena kayu itu sedikit terendam oleh air. Setelah menyelesaikan menyebrangi sungai, kini ia mencari cara keluar hutan. Ia pun memutuskan untuk berjalan kedepan agar bisa tau lebih muda keluar dari semua ini.
Tiara melihat-lihat situasi, disana ia melihat juga penjaga mansion diluar pagar, eh ralat benteng itu sekitaran 15 orang dengan tubuh yang kekar.
"Ngeri, gimana nanti aku sampai tertangkap!" Ucap Tiara dengan terus mengawasi agar para penjaga tak melihatnya.
Ia berjalan perlahan-lahan, ia takut sebuah ranting terinjak dan akan dipastikan mereka mengetahuinya meski di sini terdapat sungai dengan suara yang deras.
__ADS_1
Trakkk
Oh tidak baru saja di ucapkan sekarang sudah terinjak, Tiara menatap kearah penjaga itu. Hati nya lega ternyata suara ranting yang ia injak tidak menimbulkan keributan.
Ia pun langsung berlari lurus sesuai jalan yang sepertinya selalu ditapaki oleh sebuah kendaraan. Ia sungguh tak peduli saat ini bahwa jalan itu belum tentu selesai ia keluar hingga sore hari nya karena jalannya begitu jauh masuk ditengah hutan.
"Ah capek juga!" Gumamnya menyerka keringat yang membasahi wajahnya.
"Harus cepat-cepat keluar, kalau sampai ketahuan aku tak berada disana habis jadinya!" Lanjutnya yang langsung berlari meski nafas yang ngos-ngosan.
1 jam setengah, akhirnya Tiara sudah terlihat dijalanan beraspal, tapi ini belum tentu menjadi sebuah udara kebebasan, jalanan beraspal ini begitu sunyi dan sepertinya jarang dilalui oleh orang lain.
"Gimana yak!" Gini Tiara harus berpikir keras lagi, bingung harus melakukan apa.
Sepertinya tak ada cara lagi, Tiara pun memutuskan terus berjalan meski tak tau arah ia saat ini menuju kemana. Seperti tuhan memberkati dirinya untuk kabur, lihatlah bahkan saat ini tidak ada penghalang untuk dia sampai di jalan tol.
Kini ia hanya tinggal mencari taksi, kenapa saat ini ia begitu mudah kabur yak, entahlah tapi yang ia pikirkan saat ini adalah harus segera pergi dari sini agar tidak ditemukan oleh Peter lagi.
Tiara memutuskan terus berjalan, ia tidak bisa menemukan taksi dijalan tol, apalagi taksi tidak bisa memberikan tumpangan untuknya di jalan tol.
Ia pun berjalan menuju jalan tempat semua kendaraan bisa lewat, ia cukup haus kali ini. Ingin membeli minuman, tapi ia hanya membawa sebuah kartu.
Ia mencari-cari mana tauan adalah duit receh yang terselip di tasnya.
"Haish...enggak ada lagi!" Gumamnya.
"Hay...kamu kenapa nona, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjual es kelapa yang saat itu melihat gurat kesedihan dari wajah Tiara.
"Hmm...itu!" Bingung harus mengucapkan apa, Tiara memutuskan untuk mendekati kedai es kelapa itu.
"Kau dari mana?" Tanya pria itu.
"Hutan, capek haus banget!" Balas Tiara dengan wajah lelahnya.
"Hah...kau se-serius!" Keterkejutan orang itu membuat Tiara menatap bingung kearah pria itu.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Tiara bingung.
"Ah itu.. itu tu bukan kah tempat terlarang, bahkan sudah dilegalkan oleh pemerintah untuk tak boleh kesana satu orang pun kecuali orang yang berkuasa itu sendiri!" Jelas pria itu dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Hmm...benarkah, bisakah aku meminta air kelapa muda mu, jika aku ketemu akan aku bayar untuk mu!" Ucap Tiara meski dengan wajah yang ragu.
"Ini, enggk usah dibayar aku ikhlas!" Ucap pria itu dengan cepat dan rasa ketakutan dari pria itu tak hilang sedikit pun.
Tiara berpikir sejenak, ternyata kekuasaan Peter tak bisa ia ragukan. Bahkan pemerintah saja takluk sama nya, apa sebegitu menakutkan kah seorang Peter.
Ia begitu bingung dengan keadaan nya saat ini, ia harus pastikan untuk lepas dari seorang Peter meski dengan kekuasaan nya itu.
Ia pastikan untuk tidak akan bertemu dengan pria itu, jika sampai terjadi maka ia akan berlari sejauh mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
10 tahun kemudian.
Di kediaman yang sederhana dengan seorang gadis yang berusia 29 tahun, ia sedang menyirami bunga nya yang begitu berkembang sangat indah.
Wajahnya terus tersenyum dengan tangan yang mondar mandir kedepan dan kebelakang untuk menyiram secara rata bunga yang ia rawat.
10 tahun lamanya, dimana 5 tahun ia berada dalam pengejaran seorang Peter, dan kini 5 tahun ia merasakan hidup bahagia.
Ia Tiara, gadis itu berhasil lepas dari genggaman seorang Peter. Ia tidak bodoh dengan bersikap ceroboh seperti novel fiksi yang ia baca.
Ia cukup berpengalaman dari beberapa novel yang dimana para wanita nya kembali tertangkap hanya karena kecerobohan nya dalam melarikan diri.
Tiara saat itu mengeluarkan semua uang dalam tabungannya saat masih di Indonesia, ia pun membawa uang nya itu pergi ke negara paling tersembunyi yaitu Kolombia.
Negara dengan kehidupan yang masih begitu kuno tetapi membuatnya nya nyaman, satu lagi ia tigal di kebun pelosok yang tak bisa terjangkau oleh jaringan pelacak seorang Peter.
Untuk sang papa, ia sudah 10 tahun tak berhubungan dengan nya, ia begitu merindukan papa dan ingin sekali mengetahui bagaimana kabar sang papa.
Ia tinggal sebatang kara disini dengan berbagai perasaan cemas yang menghantui karena tak ingin tertangkap oleh seorang Peter.
__ADS_1
Ia mengandalkan uang nya yang berlebih 80 juta untuk merawat bunga-bunga nya dan menjualnya ke toko bunga, satu lagi ia juga melakukan pekerjaan keras yaitu memotong kayu untuk dijual di pasar.
Kehidupan yang selama ini tak pernah ia bayangkan ternyata terjadi padanya, hanya karena sebuah pelarian.