
...💐 READING BOOK 💐...
Kini disebuah kamar dengan nuansa berwarna putih dan biru, memberikan kesan bahwa pemilik kamar adalah orang yang sangat bersinar dan cerah.
Dia adalah Tristan Darwis, seorang pemuda bertubuh tegap sedikit jakung dengan tubuh atletisnya. Tinggi badan 175 cm, mata berwarna coklat kehitaman, tatapan nya tajam namun terdapat kehangatan, seorang artis papan atas yang baru naik daun.
"Haiss...sudah pagi saja!" Gumam nya dengan mengeliat.
Ia duduk diatas kasurnya, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih entah kemana. Entahlah, perasaan nya ia baru saja merebahkan tubuh di kasurnya eh rupanya sudah pagi saja.
"Tahap selanjutnya, aku akan berpura-pura bertanya!" Gumamnya memikirkan semua rencananya.
Ya dia merupakan orang yang berambisi besar dengan segala keinginan yang harus di penuhi, ia begitu menyukai seorang artis yang sering di panggil Ria itu dan akan selalu berusaha mendapatkan nya hingga menjadi miliknya.
"Akan ku pastikan itu!" Gumamnya dengan senyum miringnya.
...****************...
Tiara baru saja mengeliat dari bangunnya, ia berusaha mengumpulkan nyawanya, namun yang ia lihat di cermin malah dia yang sudah menggunakan gaun.
Ia menatap dengan cukup tajam di cermin, ia merasa tak percaya bahwa itu adalah dia. Ia langsung mencubit tangan nya dan ternyata sakit.
"Aww!" Ringisnya.
Ceklek
Pintu di buka seseorang, Tiara langsung menatap ke asal suara. Ia juga menatap bingung pada Peter yang malah memakai texedo hitam rapi dengan gaya rambut tertata dan dilampis oleh jas mahal.
"Sudah bangun, ayo bangkit!" Ucap Peter yang memperlihatkan senyumnya.
Tiara terdiam, ia perlahan bangkit dengan pemikiran yang begitu bingung. Ia berjalan kearah Peter dan terus menatap pria yang ada dihadapannya, satu kata yaitu TAMPAN.
Ya dia begitu tampan menurut nya diusia yang sudah tak tau lagi. Ia kini beralih menatap diluar dimana entah sejak kapan ia sudah di luar bersama Peter.
"Kita menikah hari ini!" Bisik Peter yang langsung membuat Tiara syok.
"Apa!"
Disinilah sekarang, Tiara sudah berada di gereja. Ia sudah mengucapkan janji suci nya untuk sehidup semati dengan Peter. Situasi macam apa ini, semua nya membuat ia bingung, bahkan ia pun masih tetap diam seribu bahasa.
"Tanda tangan tiara!" Intruksi Peter, ya memang ia sekarang sudah harus menandatangani kartu nikah nya.
__ADS_1
Ia menatap nanar pada berkas yang ada di depannya, ia pun menggerakkan tangannya mengambil pena dan menggoreskan sebuah tanda tangan.
Kini Peter juga melakukan hal yang sama, ia pun menandatangani berkas itu semua dan kini mereka berdua telah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri!" Ucap pendeta dengan tersenyum bahagia.
...****************...
Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil, Tiara terdiam memegang surat nikahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu melakukan ini!" Ucap Tiara menatap kearah Peter.
"Ya karena aku mencintaimu!" Ucap Peter dengan singkat.
"Tapi kan...!"
"Utsss...aku sudah menjadi suami kamu dan aku akan berusaha untuk membahagiakan mu!" Ucap Peter menyakinkan.
"Tapi...!"
"Jalan kan semua nya semestinya dan kamu akan merasakan kebahagiaan itu, bagaimana kalo kita kunjungi papa mertua!" Ucap Peter yang memperlihatkan senyum manisnya.
"Apa kamu tau dimana papa?" Tanya Tiara dengan mata yang berkaca-kaca menahan semua rasa pilu yang ia rasakan.
Peter mengelus rambut Tiara penuh sayang, semua rasa cinta nya sudah melekat pada gadis nya ini. Meskipun ia baru beberapa bulan mengenal, ia begitu mencintai gadis itu dan akan dipastikan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya bahagia.
...****************...
Rahman baru saja selesai membersihkan teman dekat rumah minimalis, ia cukup bersyukur mendapatkan tempat tinggal dari orang baik meski ia tidak tau maksud dan tujuannya. Namun hanya satu yang ia tau, ini semua tentang Tiara.
Ia membersihkan taman, menyiram dan juga menanam beberapa bunga yang cukup cantik. Senyumnya merekah saat semua yang ia lakukan berhasil membuat taman semakin cantik dan bersih.
"Akhirnya!" Gumamnya dengan tatapan puas.
Ia pun melangkah masuk kedalam berniat untuk membersihkan tubuhnya yang cukup kotor.
Setelah ia menyelesaikan semua nya, ia malah mendapatkan info bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya dan itu sangat penting.
dengan antusias ia pun berjalan keruang tamu dan di saat itu pula tatapan mata nya penuh kerinduan yang mendalam.
"Ti-tiara!" Lirihnya.
__ADS_1
Tiara langsung menatap kearah asal suara, ia langsung berlari menuju sang ayah. Memeluk dan melepaskan rasa rindu yang sudah tertahan 10 tahun lama nya. Keduanya menangis sesegukan, mencurahkan isi hati yang tampak begitu pilu.
"Kau kembali nak!" Lirihnya dengan sesegukan.
"Maafkan Tiara pa!"
"Kenapa kamu baru datang nak, kamu hilang begitu saja dan kembali lagi setelah sekian lama!"
"Maaf! Maafkan Tiara pa!"
Hanya kata maaf yang mampu diucapkan Tiara, ia tidak bisa berkata apa-apa selain maaf. Ia salah disini, ia tidak mengabarkan papa nya sedikit pun, tapi itu semua agar Peter tak dapat menemuinya, namun semuanya percuma bukan dan berakhir sia-sia.
Setelah acara melepas kerinduan, kini atensi Rahman menatap kearah seseorang yang duduk di sofa dengan wajah datarnya.
Ia sedikit berkesiap melihat siapa yang ada disini, seorang Peter Aril Coldas datang mengunjungi nya. Bahkan datang bersama dengan sang anak.
"Nak!" Lirih Rahman.
Tiara tau apa yang akan di tanya oleh papanya itu, ia tersenyum dan membawa papanya untuk duduk di sofa lebih dahulu.
"Pa! Papa jangan marah oke!" Ucap Tiara lembut.
"Katakanlah nak!" Ucap Rahman yakin.
"Hmm...aku sekali lagi meminta maaf pada mu pa, aku tak begitu kacau saat itu dan sekarang aku datang...!" Kini Tiara berhenti di ucapannya, ia menatap Peter untuk meminta persetujuan memberi tau pada sang papa.
Peter mengangguk dan tersenyum tipis.
"Dia suami aku pa, dia telah membawa ku kesini!" Ucap Tiara lembut namun semua tertutupi oleh semua yang terjadi.
Matanya berkaca-kaca, ingin rasanya ia mengatakan semua yang ia rasa tapi ia masih harus tetap menghargai Peter yang kini sudah menjadi suami nya.
Rahman tersenyum, ia mengelus puncak kepala Tiara penuh sayang. Sekarang anak nya sudah besar dan sudah memiliki suami, tapi ada rasa sakit yang ia rasakan ternyata sang anak tak meminta izin padanya.
"Kamu sudah besar nak, sudah bisa memilih semua yang menurut mu benar, aku akan selalu mendukung mu!" Lirih Rahman dengan tatapan pilu.
"Apa ayah mertua memberikan izin!" Kini Peter lah yang bersuara.
"Ya, apalagi kalian sudah menikah!" Ucap Rahman dengan senyum yang ia perlihatkan dan air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Aku menyayangi mu pa!" Tiara langsung memeluk Rahman, menyalurkan kehangatan.
__ADS_1
...****************...
NOTE: MUNGKIN KALIAN BELUM MENYADARI PERAN SEORANG AYAH. KERASNYA DAN JUGA SEMUA NASEHATNYA DEMI KALIAN SEMUA. MELEPASKAN SEORANG ANAK GADIS SATU-SATUNYA ADALAH HAL TERBERAT YANG IA RASAKAN, DAN SEMOGA KALIAN TETAP MENYAYANGI SOSOK AYAH