Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 50


__ADS_3

Amora, wanita itu baru saja keluar dari pintu apartemen nya. Baru saja membalikkan tubuhnya setelah menutup pintu ia dikejutkan seseorang yang menjulang tinggi di hadapannya dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi nona!" Sapa nya yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Se-selamat pagi juga!" Amora speechless melihat kedatangan pria itu kembali.


Febrian tersenyum cerah kepadanya, Oh ayolah kenapa ia harus dihadapkan oleh orang seperti pria itu.


"Haish...kau sudah mau keluar saja padahal aku ingin berkunjung ke apartemen mu!" Lirihnya dengan wajah memelas.


Amora hanya terdiam, ia sedikit tertegun dengan wajah imut di hadapannya itu.


"Aku harus pergi, jangan mengganggu ku." Dingin Amora yang memaling kan wajah nya.


"Kenapa kau begitu ketus kepada ku, apa kau tak ingin berteman dengan ku. Oh atau kau mau menjadi istriku saja!" Ucapnya yang menarik turunkan alisnya.


"Jangan harap, kau masih kecil jangan mengganggu orang dewasa." Sentak Amora yang melangkah meninggalkan Febrian.


"Aku sudah dewasa, bahkan aku bisa membuat sebuah gumpalan." Ucap nya yang mengejar langkah Amora.


"Oh ayolah kita baru saja kenal jangan mengganggu ku bocil." Pekik Amora yang langsung saja memasuki lift.


Febrian juga memasuki lift, ia tidak suka di panggil seperti itu padahal mereka hanya beda satu tahun. Oh satu lagi dari mana wanita itu tau bahwa ia masih cukup muda.


"Apa kau mau merasakan nya, satu lagi kenapa kau memanggil ku seperti itu!" Sentak Febrian dengan menatap tajam Amora.


"Aku sudah tau dari wajah-wajah kau yang masih bocil, jangan mengganggu orang dewasa." Ucap Amora dengan wajah geram nya.


Febrian tersenyum miring, ia mendekati tubuhnya pada tubuh wanita yang sempat mengusik pikiran nya. Ia semakin tersenyum kala terdapat tatapan waspada dari sosok wanita yang mengatakan dirinya bocil.


"Kau tau, aku bisa saja melakukan nekat jika mengatakan aku bocil." Bisiknya tepat ditelinga Amora.


Amora meremang, ia memalingkan wajahnya kesamping. Sebuah benda kenyal menghisap lehernya dan hal itu membuat ia terkejut dan langsung mendorong pelaku sebenarnya.


"jangan kurang ajar!" Ucapnya dengan tatapan waspada.

__ADS_1


Febrian mengusap bibirnya pelan dengan ibu jari, ia kembali tersenyum menatap lembut pada mata yang tampak ketakutan.


"Aku hanya memberikan sedikit tanda agar tidak ada orang yang merebut mu dari ku, oh satu lagi aku ingin ke apartemen mu nanti malam!" Ucapnya dan langsung melangkah tepat saat lift telah terbuka.


Amora terdiam ditempat, sepertinya pria itu bukan lah sesuatu yang baik untuknya. Sepertinya ia harus menjauh dari pria itu sebelum terjadi sesuatu hal yang begitu tak ia ingin kan.


Amora melangkah menuju supermarket, semau stok bulanan nya sudah hampir habis dan bahkan hanya tersisa beberapa bahan mentah.


Setelah semua nya ia dapat kan dan masuk kedalam troli belanjaan, ia melangkah menuju tempat di mana minuman dingin berada.


Ia terdiam ditempat, menatap dua orang yang tampak begitu bahagia memilih-milih minuman dan cemilan di sana. Amora tersenyum ketir, apakah ia bisa berada disana sehari saja mungkin ia tidak akan melupakan itu semua, namun semua nya percuma karena dirinya adalah bayangan masa lalu yang terhempaskan.


"Jangan beli itu, aku tau kau akan selalu meminum itu jika sudah kau beli!" Batas nya sambil menarik minuman kaleng yang akan diambil istrinya Tiara.


"Astaga Peter, aku menyukainya kenapa kau begitu pelit sih!" Sungutnya memasang wajah memelas dan menyedihkan.


Peter menghela nafas berat, bukan dirinya pelit namun ia ingin menjaga kesehatan istrinya itu. Pasalnya minuman soda yang rasa strawberry ini begitu di gemari sang istri, bahkan istrinya itu selalu memilih meminum itu tanpa ingin es krim.


"Bagaimana kalo kita tukar dengan es krim?" Peter berusaha memberi penawaran pada sang istri, namun percuma sikap keras kepala Tiara tetap menginginkan minuman itu.


Peter berjalan ketempat rak cemilan, ia mengambil beberapa cemilan hingga matanya menangkap seseorang yang memperhatikan mereka.


'Amora' Ia terdiam ditempat, wajahnya begitu pucat takut istrinya mengetahui masa lalu nya. Ayolah, ia baru saja merasakan yang nama nya dicintai tidak mungkin kan langsung hilang saja karena sebuah masa lalu.


"Peter!" Tiara menepuk bahu suaminya itu dengan wajah kesal.


"Kenapa kau diam saja saat ku panggil, apa ada sesuatu?" Tiara pun langsung menatap dimana mata suami nya berada tadi dan dapat ia lihat gelagat aneh dari seorang Peter.


"Apa yang kau lihat peter?" Tanya Tiara sekali lagi, pasalnya ia tidak melihat sesuatu disana.


"Ah itu, aku hanya menginginkan cemilan jagung itu, tapi ku pikir lagi sepertinya tidak enak!" Ucapnya sambil mengusap tangan nya yang basah.


"Oh baiklah!" Tiara kembali berjalan mengambil troli mereka, meski ada rasa tak percaya namun semua nya ia tepis dan tak ingin mempermasalahkan nya.


"Apa kau sudah selesai mengambil minuman nya?"Tanya Peter.

__ADS_1


"Sudah, sepertinya aku lapar." Jawabnya singkat dengan wajah bete yang terlihat jelas.


"Baiklah, ayo kita makan di restoran!" Ucapnya yang langsung mengambil alih troli itu.


Amora keluar dari sembunyikannya, tangisnya sesegukan berada didalam dekapan seseorang yang tak lain adalah Febrian.


Ia tak peduli jika suara isakannya terdengar jelas, namun satu ia sudah berusaha membekap mulutnya dengan tangan nya.


"Apa kau mengenalnya?" Tanya Febrian.


"Tidak!" Jawab Amora singkat dan melepaskan diri dari pelukan pria itu.


"Aku tau kau berbohong, ayolah aku tau dengan pria itu. Bukankah dia pak Peter CEO muda perusahaan besar itu!" Ucap Febrian.


"Aku tak peduli." Acuh Amora yang langsung melangkah meninggalkan Febrian dengan mengusap air matanya.


Febrian menarik troli itu mengambil alih dari tangan Amora. Oh ayolah jangan katakan dirinya Brian kalo tidak bisa menaklukan seorang wanita, bahkan banyak wanita yang mengantri untuk dirinya.


"Menurutmu aku tampan atau tidak?" Tanya Febrian yang berusaha mencairkan suasana.


"Tak, kau jelek!" Ketus Amora yang dengan tangan beberapa kali mengambil barang.


"Baiklah, mungkin aku bisa dengar seperti apa pria idaman mu." Ucap Febrian.


"Aku matre, jadi dia harus kaya dan sanggup memenuhi kebutuhan ku, Aku ingin dia tampan dengan rahang tegas, satu lagi aku tak suka cowok imut!" Ucapnya dengan sedikit memutar bola mata malas.


"Baiklah aku sudah masuk semua kriteria mu bukan, jadi bukankah aku pria idaman mu!" Goda Febrian yang langsung menumpukan dagunya pada troli dan menatap lekat waja. ketus itu.


"Tidak, kau memiliki wajah seperti bayi dan satu lagi kau tidak kaya!" Ketus Amora.


"Aku memiliki tabungan limited, memiliki cabang 10 perusahaan, 5 resto, 20 cafe, dan juga 50 hektar sawit apakah aku kurang kaya?" Ucap Febrian menyombongkan.


Amora berdecih, emang ya pria dihadapannya itu seperti tidak akan menyerah sebelum mendapat apa yang belum ia dapatkan.


"Kau tidak berwajah tegas, satu lagi aku tak ingin menjadikan kau pria idaman ku!" Ketus amora yang langsung melangkah pergi meninggalkan Febrian.

__ADS_1


Febrian tersenyum tipis, lihatlah ia akan melakukan apapun yang ia inginkan. Ia tuan muda Bramastyo yang mendapatkan segala hal yang dinginkan termasuk wanita.


__ADS_2