Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 20


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini setelah seminggu lamanya setelah kejadian dimana Peter mengambil first kiss nya, Tiara sering menghindar dan bahkan kadang pura-pura tak melihat.


Namun bukan namanya Peter kalo tidak melakukan hal lain yang membuat Tiara tak bisa berkutik. Kini Tiara begitu sesak, Peter kembali menc*umnya dengan sangat kasar.


Ia sudah berusaha untuk lepas, namun apa Peter bahkan berani bergeliaran tangannya dibalik baju seragamnya, Tangan Peter yang sudah berada di dalam br* kecilnya dan dengan cukup kuat Peter mempelintir Cocochips yang disana.


"Ah...!" Desah kesakitan Tiara.


Bagaimana ia masih dalam masa pertumbuhan dan itu sangatlah menyakitkan, apalagi ia lagi dalam masa subuh yang dimana bagian payu*ara nya mengalami pembengkakan.


"Hmmmmpppph....!" Tiara berusaha melepaskan dari kukungan Peter, ia mendorong dengan sangat kuat dan akhirnya bisa terlepas.


"Ka-kamu...!" Tiara menunjuk dengan nafas yang masih tersegal-segal.


"Apa baby, bukan kah ini yang kau kau!" Ucap Peter dengan suara serak khas dirinya.


"Hiks...hiks...kau menyakiti ku, aku benci kau!" Bentak Tiara dengan tangis yang masih sesegukan.


"Oh sorry baby, kau yang membuat ku melakukan hal itu bukan!" Peter kembali menghimpit Tiara, Tiara semakin sesegukan dengan tubuh yang gemetaran.


"A-aku mau pergi!" Ucap Tiara dengan tubuh gemetaran. Wajah nya ia alihkan menatap kesamping karena ia tak ingin melihat mata Peter yang begitu tajam.


Peter tersenyum miring, ia melihat dengan dalam wajah Tiara yang memerah akibat marah. Terasa cukup lucu menurutnya saat melihat Tiara menangis seperti seorang bayi, wajah yang memerah dan tubuh yang gemetar. Sungguh sangat sensitif bukan.


"Bagaimana kalau aku tidak mau!" Ujar Peter yang berbisik tepat ditelinga Tiara.


"Mi-minggir...!" Pekik Tiara dengan sesegukan.


"Kenapa? Apa kah kau tak kangen dengan ku setelah terus menghindar!" Ucap Peter yang tersenyum miring.


Tiara pun memberanikan diri untuk menatap manik mata tajam Peter, ia sangat benci dengan Peter yang bersikap seperti itu, sungguh ia tak ingin mengenal pria yang dihadapannya itu.


"Apa! You are mine and never run away!" Ucap Peter dengan senyuman iblisnya.


seketika Tiara semakin gemetar, kenapa saat ini tak ada satu orang pun yang lewat dekat gudang, setidaknya ia bisa meminta tolong untuk dibebaskan.

__ADS_1


"Le-lepas...!" Tiara berusaha mendorong tubuh Peter dengan sangat kuat. Namun apa bukannya menjauh Peter semakin dekat.


Cup


Peter mencium kening Tiara dengan sayang, seketika gadis itu langsung diam dengan perbuatan Peter. Oh ayolah kenapa hatinya kini malah terombang-ambing begitu sangat sulit baginya, ia sungguh sangat membenci pemuda itu tapi kenapa ada getaran yang begitu bergetar saat ciuman kening yang hangat itu.


"Jangan pernah sekalipun menghindar atau kau akan menyesal sayang!" Ucap Peter yang melepaskan ci*man nya.


Peter pun melangkah satu langkah menjauh dari Tiara, ia menatap wajah Tiara yang begitu ketakutan dan gemetaran, persis seperti seorang anak anj*ng yang kebasahan.


Tiara langsung berlari meninggalkan Peter, ia benci pria itu, ia sangat membenci pria yang berlengsung pipi itu, ia ingin pergi jauh dari sini sehingga tak bertemu dengan nya.


"Aku akan membawa nya dan membuat ia mengerti seperti apa aku!" Ucap tegas Peter didalam telepon yang baru saja ia angkat.


...****************...


Kini Tiara terus berlari, ia berlari hingga didepan pintu kelasnya yang dimana sudah terbuka, biasanya kalo ada guru yang mengajar maka pintu akan ditutup.


Ia berusaha mengatur nafasnya yang begitu sedikit tersegal, ia pun masuk dengan tarikan nafas yang dalam menenangkan dirinya.


"Ra!" Panggil Ria saat melihat Tiara masuk.


"Iya ri!" Jawab Tiara.


"Lama banget ketoilet, btw kok ini bisa berdarah!" Ucap Ria dengan menunjuk sudut bibir Tiara yang sedikit berdarah.


"Hmm...itu...tadi terantuk!" Jawabnya bohong yabg sedikit gugup.


Ria menatap mengintimidasi Tiara, namun akhirnya ia kembali bersikap biasa karena ia tau mungkin sahabatnya itu tak mau mengatakan yang sebenarnya dan menjadi privasi nya.


"Kantin yok, soal nya guru rapat nih kan sampek jam ke tiga, jadi kita kekantin yok!" Ajaknya menjelaskan.


"Yaudah yok, bentar ngambil duit!" Ucap Tiara dengan mengangguk dan berjalan menuju tasnya.


Sebuah kaki seorang gadis dengan sengaja menghalangi jalan Tiara, Tiara yang memang lagi tak fokus dan terus memikirkan tentang Peter membuat ia tersandung dan ya terjatuh.


Bugh

__ADS_1


Terdengar sangat jelas Tiara terjatuh, namun gadis yang melakukan hal itu malah tertawa kencang bersama dengan teman-teman nya.


"Eh apa-apaan kau ini, kurang ajar banget!" Bentak Ria yang langsung membantu Tiara untuk bangkit.


"Bukan aku yang salah bukan, dia nya saja yang melenter!" Ujarnya dengan gaya angkuh.


"Ya kau lah yang salah, udah tau orang mau jalan tu kaki ngalangin, sini deh ku patahin sekalian!" Ucap Ria yang mendekati gadis itu.


"Eh apa-apaan sih, yang jatuh itu Tiara kok kau yang sewot!" Ujar teman nya gadis itu.


"Siska tak ada salah ya, menang temanmu itu yang jalannya enggak bener!" Belanya pada Siska.


Ya dia Siska, gadis angkuh nan sombong. Pekerjaan ayahnya seorang debt collector yang terus memeras seseorang dengan bunga yang besar.


Memiliki banyak teman karena ia mengandalkan wajahnya yang begitu menyedihkan, ia bersikap seolah sangat lemah tetapi begitu licik didalam.


"Udah deh Ri, yok kita makan aja!" Ucap Tiara yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Mereka itu keterlaluan ya Ra, lihat deh kamu aja sampek meringis!" Ucap Ria dengan wajah kesalnya.


"Udah ah aku enggak apa-apa!" Ucap Tiara yang langsung menarik lengan Ria.


Tiara mengurung kan niatnya untuk mengambil uang, sepertinya ia akan memakai uang Ria terlebih dahulu sebelum sahabatnya menjadi seorang reog, alias bertengkar.


Setelah kepergian Tiara para gadis itu tertawa senang dan memutuskan untuk kekantin juga.


Sedangkan Tiara dan Ria, Ria terus menggerutu karena Tiara malah menahan nya, ia ingin sekali menjabat rambut gelombang gadis itu yang begitu semena-mena pada Tiara.


"Udah ah, aku enggak apa-apa juga!" Ucap Tiara dengan sedikit menepuk lengan sahabatnya itu.


"Kamu itu harusnya lawan enggak diem aja, bikin kesel aja tu para Doraemon!" Kesal Ria dengan wajah yang begitu merah.


"Biarin aja!" Ujar Tiara.


"Lihat aja tu orang kalo berani lagi lakuin itu, bener-bener aku potong tu kaki!" Kesal Ria yang malah mempercepat langkahnya.


Emosi membuat ia menjadi lapar, sehingga ia mempercepat langkah nya dan melampiaskan emosinya dengan makanan kantin.

__ADS_1


__ADS_2