Kau Milikku Tiara

Kau Milikku Tiara
Bab 31


__ADS_3

...☘️ Reading book ☘️...


Kini Tiara sudah siap dengan gaun indah seluruhnya yang berwarna krim yang sudah disiapkan oleh maid. Polesan make up menambah kecantikan seorang Tiara yang telah lama tak melakukan hal itu lagi.


Kini Tiara terdiam didepan cermin, ada rasa tak rela untuk dirinya kembali ke Indonesia. Oh ayolah, apakah ia akan bertemu dengan sang ayah yang telah lama ia kecewakan.


Sebuah tangan melingkar di lengannya, hembusan nafas yang hangat sedikit dingin, dengan aroma mint tercium di indra penciumannya. Peter meletakkan dagunya di bahu tiara, menatap kearah cermin dimana gadis itu juga menatap dirinya melalui cermin.


"Kau cantik sayang!" Bisiknya dengan suara rendah.


Tiara hanya diam, ia tidak mampu bergeming saat ini dengan posisi seperti ini. Matanya terus bergeliaran mencari sesuatu agar ia lepas dari dekapan Peter.


"Hmm...itu, apa kau sudah memasang dasi?" Tanya Tiara dengan berhati-hati. Terdapat rasa gugup yang begitu kuat membuat ia begitu canggung dan gelagapan saat berbicara dengan Peter setelah sekian lama.


"Ini!" Peter malah memperlihatkan dasi nya pada Tiara, senyum simpulnya membuat Tiara tertegun sejenak menikmati ketampanan pria itu.


"Pasangkan!" Bisiknya yang sedikit mengecup leher putih Tiara.


Tiara terdiam, ia bingung harus berbuat apa. Apa tadi 'Pasangkan', Oh tidak seperti nya ia lupa cara memasang dasi.


"Hmm...aku tak pandai memasang dasi!" Ucap Tiara dengan gelagapan.


"Tak apa, aku akan memakai dasi yang kau pasangkan!" Ucap Peter tenang.


Peter langsung menarik Tiara bangkit dari duduknya, ia langsung merangkul pinggang ramping itu mendekati nya, terkikislah jarak diantara mereka.


Tatapan mereka saling bertemu, manik mata mereka terus menatap setiap inci wajah mereka masing-masing dan memuji keindahan ciptaan tuhan dalam hati mereka masing-masing.


Peter semakin mengikis jarak dan hingga akhirnya, b*bir mereka bertemu, Peter tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung saja mel*matnya dengan sangat rakus, bahkan kini Tiara mengikuti permainan Peter meski cukup kewalahan.


5 menit berlangsung, hingga Tiara langsung memukul-mukul bahu peter agar menyudahi ci*man itu.

__ADS_1


"Kau hampir membunuhku, tak etis jika aku mati saat berci*man!" Sungut Tiara sambil mengelap bekas sal*Van mereka berdua.


"Jangan dihapus!" Sentak Peter yang menahan tangan Tiara.


Seketika gadis itu terlonjak kaget dan menatap bingung dengan sikap Peter, namun ada sebuah rasa kecewa karena mendapatkan bentakan seperti itu.


Seketika matanya berkaca-kaca, entahlah ia sepertinya begitu sensitif saat ini, mungkin tamu bulanannya akan sebentar lagi datang sehingga ia bersikap begitu menyedihkan.


"Hey...maafkan aku, aku...aku tak bermaksud!" Ucap Peter cemas dengan menangkup kedua pipi Tiara.


Tiara hanya dapat melayangkan senyumannya yang manis, mana mungkin kan ia harus bersikap berlebihan dan menangis guling-guling dilantai.


Peter menghela nafas berat, kini Tiara mengerti pasti Peter begitu kerja keras selama 10 tahun terakhir dan itu semua akibat dirinya yang begitu ingin pergi dari nya.


"Yok, apa pesawatnya belum siap?" Tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.


"Kita sarapan dulu ya, baru berangkat!" Ucap Peter lembut sambil mengelus rambut Tiara.


Bahkan melihat wajah Tiara yang meringis sakit saja ia tidak mampu, mana Peter yang dulu yang selalu kejam dan sangat beringas. Oh ayolah, ini namanya kekalahan karena sebuah cinta bukan.


Tiara hanya mampu mengangguk saja, Peter langsung merangkul Tiara membawanya keluar kamar hotel. Note ya bukankah waktu itu Peter membawa Tiara ke hotel.


Saat keluar hotel, terlihat sekelilingnya tak ada satu pun orang yang berkeliaran. What, apa cuman satu kamar ini saja di lantai ini, berarti percuma dong kalo ia kabur dan meminta tolong sama orang sekitar.


"Kenapa?" Tanya Peter saat melihat Tiara yang dari tadi bengong dengan wajah terkejut.


"Ah..eh enggak ada!" Elak Tiara dan Peter hanya mengangguk saja.


Mereka memasuki lift, sepertinya lift ini khusus untuk lantai yang ditempati Peter. Hingga berbunyi suara Ting pintu lift terbuka.


Seinci, sesenti, atau bahkan lima centi saja Peter tak memberikan Tiara jarak. Rangkulan tangannya begitu erat, bahkan Tiara yang berjalan saja sempat terseret-seret akibat Peter yang tak mau memberikan sedikit ruang untuk Tiara berjalan.

__ADS_1


Segitunya ya pak bapak....😌🤣🤣


Mereka berjalan menuju restoran mewah yang disediakan pihak hotel, dimana memang disini cukup ramai karena beberapa orang ada yang masih sarapan.


Demi kenyamanan Tiara, Peter memesan private room. Ia tak ingin membuat gadis nya ini menjadi tak selera makan karena banyaknya orang disini.


"Private room!" Ucap Peter dalam telepon nya.


"10 menit atau pecat!" Sambungnya dan langsung mematikan panggilan itu.


Ya memang Peter menatap sekitarnya dan langsung menekan nomor sekretaris nya yang sudah berada di restoran ini untuk sarapan.


Selang beberapa menit, datanglah Juan dengan nafas yang ngos-ngosan. Kalian tentu tau bagaimana yang dirasakan oleh Juan bukan.


"Sudah dipesan dan ayo!" Ucap Juan yang sopan.


Peter hanya diam, ia kembali lagi merangkul pinggang ramping Tiara dengan posesif dan tak memberikan ruang sedikit pun untuk Tiara bernafas bebas.


'Sepertinya aku memang enggak boleh bebas deh, bahkan untuk nafas enggak bayar aja harus di atur!' Batinnya.


Mereka pun berjalan keruang VVIP, dimana disediakan untuk orang kelas atas yang memiliki kartu Hitam. So...bukankah itu terlalu memilih, bahkan orang kelas menengah saja tak diizinkan.


Bukan tak diizinkan, selain menyewa ruang yang cukup mahal, Ruang VVIP cukup jarang digunakan, sehingga pihak hotel melakukan larangan itu.


Mereka memasuki ruangan VVIP, interior yang enggak main-main, begitu mewah, elegan dan juga sangat fashionable. Susunan setiap benda sangat rapi, tak ada satu pun debu disana, pemandangan dari balik kaca yang menampilkan kolam buatan dengan bebatuan besar yang sengaja diletakkan disana menambah kesan indah apalagi jika dilakukan sore mungkin semakin indah.


Tiara terus melihat-lihat interior ruangannya, bahkan mulutnya tak segan-segan untuk terbuka hanya mengatakan wow. Enggak papa lah ia sedikit norak, toh ia kan sudah lama enggak merasakan seperti ini apalagi kan memang dulu ia hanya mampu memesan ruang VIP itu pun di Indonesia, berbeda kalo disini.


Peter terkekeh kecil melihat tingkah lucu Tiara yang menggemaskan, ingin sekali ia menggigit bibir tipisnya itu yang selalu mengatakan Wow itu, bahkan matanya saja berbinar-binar menatap sekitarnya.


"Ehekmmm...sarapan dulu yuk sini, nanti kita baru kagum-kagumnya oke...!" Ucap lembut Peter sambil menarik Tiara untuk duduk disofa dengan meja yang sudah diisi oleh banyak makanan yang baru saja diantarkan.

__ADS_1


Tiara hanya mampu menampilkan senyum cengengesan nya dan akhirnya duduk disamping Peter. Mereka pun sarapan bersama berdua meski sesekali Peter selalu ingin menyuapi Tiara, sungguh indah bukan😌


__ADS_2