
...☘️ Reading book ☘️...
Kini Tiara berada ditaman mansion besar ini, ia baru sadar ternyata yang ia tempati adalah sebuah mansion bukan rumah bertingkat biasa.
Disini lengkap semua, lapangan untung golf aja ada, sungguh orang kaya mah beda. Eh bentar ngeleg sebentar, bukan kah dia juga termasuk orang kaya. Diralat deh, orang milyader mah beda, itu sepertinya cocok untuk seorang Peter saat ini.
Ntahlah ia baru tahu bahwa pria itu begitu kaya, bahkan begitu kaya sampai saat ini ia hilang saja enggak ditemukan. Lihatlah, ia bahkan bingung ini dimana karena disini semuanya pagar nya begitu tinggi menjulang setinggi 5 meter, bayang kan saja sama kayak seperti benteng aja kali ya.
Kini saja ia sedang dijaga oleh 10 orang pelayan, ia diikuti kemana pun ia pergi. Ia benci dengan suasana seperti ini, seakan ia bisa kabur saja dari sini padahal ini pagar saja tak bisa ia lewati.
"Nona, tuan muda mengatakan akan pulang besok pagi dan ini adalah titipan dari tuan muda!" Ucap salah satu pelayan.
"Hmm...baiklah, sini!" Minta Tiara yang langsung diberikan oleh pelayan itu dengan sedikit membungkuk.
Tiara menatap amplop putih itu dengan ditengah-tengah sebuah bentuk hati tempel di kertas nya. Meski pun ia mendapatkan surat cinta ini, tapi ia sungguh ingin bebas dari sini dan tak ingin berada di sisi pria itu.
"Siap nama kalian?" Tanya Tiara sebelum membuka amplop ditangannya.
"Ijin menjawab nona!" Ucap sopan yang baru ia kenal adalah kepala pelayan disini.
"Saya bernama Fani, sebagai kepala pelayan, disebelah saya Noni, Dewi, resti, Atin, Efa, Jupe, Tefa, Cici, lesya, dan Fera. Mereka semua adalah pelayan pribadi anda dan saya disini diminta langsung oleh tuan muda terus berada disisi anda untuk menjaga anda nona!" Jelas Fani dengan memperkenalkan semua pembantu yang pribadi yang disiapkan.
"Kemari lah!" Ajak Tiara.
Kini Tiara sudah duduk disebuah gubuk bersantai, bisa dibilang tepat duduk biasa dengan atap persegi dan pagar-pagar kecil yang mengelilingi.
Mereka semua mendekati Tiara, berdiri menunggu perintah dari nona muda nya itu.
__ADS_1
"Duduk lah bersama ku!" Ucap Tiara yang langsung membuat wajah mereka semua syok.
"Ah nona, kami hanya pelayan jadi tak boleh duduk di sini!" Tolak halus kepala pelayan.
"Udah duduk saja, selagi bersama ku jangan terlalu formal, aku disini juga bosan tidak mempunyai teman!" Ucap Tiara dengan nada jengkelnya.
"Ta-tapi nona, tuan muda akan marah!" Ucap Fani yang berusaha kembali mengingat pada nona muda nya itu.
"Sudah untuk Peter tenang saja, jika dia marah biar aku yang akan memarahi nya, sini duduk kita bercerita bersama!" Ucap Tiara yang menarik salah satu pelayan untuk duduk di gubah itu.
Semua nya tetap diam tak berkutik, bingung harus berbuat apa, nanti jika mereka ketahuan melakukan hal itu maka tuan muda mereka mungkin akan memecat mereka semua atau lebih parahnya di bunuh mati.
"Udah sini pinjam ponsel, biar aku yang bicara sendiri dengan peter!" Pinta Tiara yang menjulurkan tangan pada Fani.
Fani pun menghela nafas pasrah, ia pun memberikan ponselnya pada Tiara.
"Aku ingin pelayan pribadi ku menjadi teman ku, aku tak ingin mereka terlalu formal saat bersama ku!" Ucap Tiara to the point tanpa sedikitpun basa basi menjawab ucapan Peter disana.
"Tidak mungkin, mereka pelayan kamu bukan untuk teman mu sayang, jangan bersikap seperti itu!" Tolak Peter tegas namun dengan nada lembut.
"Aku akan marah jika kamu tak menuruti itu, kamu pikir aku tak bosan tanpa melakukan apa-apa, bahkan ponsel ku saja tak kau balikkan!" Gerutu jengkel Tiara.
"Ah baiklah, tapi ingat mereka tetap harus tau batasan saat berteman dengan mu, yaudah selamat bersenang-senang saya...Muach!" Ucap Peter bersemangat dan langsung mematikan panggilan dengan sebuah kecupan jarak jauh.
Tiara langsung memberikan ponsel Fani ke pemiliknya dan menatap kearah mereka dengan tatapan jengkel karena mereka semua tak peka untuk segera duduk di dekat nya.
"Duduk lah, kalian dengar tadi apa yang dikatakan tuan muda kalian, ayolah!" Dengus kesal Tiara.
__ADS_1
"Baik nona!" Serentak mereka.
Mereka pun semua duduk melingkar, disana yang menjadi objek utama adalah Tiara, dimana sebagai seorang nona muda di mansion ini.
"Kita kan belum perkenalan secara keseluruhan, bagaimana kita melakukan nya sekarang!" Ucap Tiara yang bersemangat.
"Baiklah, aku adalah Tiara Aulia Rahman, masih 17 tahun dan sekolah kelas 11, sedikit terlambat masuk karena duduk tak suka sekolah, hmm...apa ya lagi, oh ya jangan panggil aku nona, panggil aja Tiara!" Ucap Tiara memperkenalkan.
"Ta-tapi nona!" Fani ingin membantah, namun Tiara langsung menutup mulutnya dengan tangan mulusnya.
"Panggil aja kalo kita bersama, kalo didepan Peter panggil formal aja!" Bantah Tiara yang membuat mereka mengangguk.
Mereka semua pun memperkenalkan diri masing-masing, namun tidak selengkap Tiara yang menjelaskan semuanya dan hanya memperkenalkan nama dan umur mereka saja.
"Oh kalian semua adalah kakak-kakak ku, jadi kenapa kalian bisa bekerja disini, apa dipaksa sama iblis sialan itu!" Ucap Tiara yang cukup jengkel pada Peter.
"Tidak no...eh Tiara, kita semua berkerja disini atas kemauan kita, tuan muda memberikan gaji yang begitu besar sehingga kami masuk sini, tapi pemilihan pelayan harus melalui proses yang panjang sehingga berkerja disini!" Ucap Resti dengan wajah ketakutan saat melihat mata Tiara yang tajam saat ia akan memanggil nona.
"Kalian enggak perlu terlalu kaku sama ku, aku juga sama kok kayak kalian, tapi bedanya aku di kurung dan enggak boleh keluar!" Ucap Tiara namun kalimat terakhirnya yang membuat ia langsung menunduk.
"Apa anda baik-baik saja nona!" Khawatir Fani takut jika ada sesuatu yang menjanggal di pikiran sang nona.
"Aku enggak apa-apa juga, yaudah salah satu sana ambil cemilan dan minuman untuk kita, kita akan menikmati waktu disini! Ucap Intruksi Tiara yang membuat tiga orang langsung bangkit dan sedikit membungkuk lalu pergi berjalan menuju dapur mengambil apa yang diminta sang nona.
30 menit lamanya, akhirnya mereka semua pun datang dengan membawa tiga buah nampan besar yang tak diketahui isinya oleh Tiara.
Mereka pun mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupan mereka, tentu semuanya Tiara dengar dengan khidmat dan tanpa ia sadari ternyata ada satu orang yang memoti mereka semua.
__ADS_1