
POV MAWAR
Malam ini seharusnya aku sudah bersama mas Fahmi didalam kamar saling melepas rindu namun nyatanya rindu itu tidak terobati karena dia membatalkan kepulangannya. Entahlah semenjak dia memberitahu bahwa tak jadi pulang, membuat perasaan negatif muncul diotak ku. Seperti malam ini, lagi dan lagi perasaan negatif dan gelisah itu muncul namun segera ku tepis dengan mengalihkan pikiran ku dan mencoba berinteraksi dengan bayi yang ada dirahim ku.
Setelahnya, Aku memutuskan untuk menghubungi Mas Fahmi sebelum tidur, pasalnya dia hanya memberi kabar pada ku siang tadi saat membahas kepulangannya yang dibatalkan setelahnya dia tak mengabari lagi. Jadi sebaiknya aku menghunginya agar pikiran negatif tak kembali muncul, toh ini pun sudah malam pasti dia juga tidak sedang sibuk.
“Tutttttttttt”
Beberapa kali aku menghubunginya dan nihil, panggilan ku tidak diangkat. Sebenarnya ada apa, tidak seperti biasanya dia mengabaikan telpon dari ku padahal ponselnya sedang aktif tapi tidak diangkat. Pikiran² negatif itu seakan muncul kembali, entah efek Hamil atau apa membuat ku sebagai seorang istri merasa curiga. Karena insting ku berpikir negatif, bahwa tidak sepertinya biasanya Mas Fahmi mengabaikan panggilan dari ku. Menyudahi pikiran yang terlalu rumit, membuatku memutuskan untuk istirahat karena malam semakin larut apalagi aku sedang mengandung jadi tidak ingin membahayakan kandungan ku dengan pikiran² negatif yang terus bersarang dan membuatku stres dan alhasil akan berimbas pada janin ku.
...
POV AUTHOR
Dalam sebuah hubungan memang harus dilandasi rasa percaya dan jujur antar pasangan. Karena kunci dari langgengnya sebuah hubungan adalah saling terbuka, jika diantara pasangan sudah ada kobohongan maka akan timbul kebohongan² lain yang nantinya akan menjadi kenderang perang yang siap ditabu dan yang tersisanya hanyalah tentang masih mampu kah untuk bertahan atau justru memilih untuk pergi.
Setelah meriksa kondisi Anita, Fahmi kembali kekamar untuk istirahat. Bahagia, ya kini tengah dirasakan Fahmi saat bisa kembali bercanda dengan Anita mantan kekasihnya. Setelah menikah dan mengetahui istrinya hamil, Fahmi benar² memutuskan hubungannya dengan Anita dan dia hanya bertemu saat ada acara keluarga istrinya itupun jarang. Namun hari ini, dia berikan kesempatan untuk bertemu bahkan bercanda dalam satu ruangan tanpa memikirkan statusnya yang sudah menikah. Takdir seperti memberinya kesempatan untuk bersama Anita meski hanya sehari. Dan membuatnya berani untuk membohongi sang istri.
Fahmi telah memberiskan tubuhnya, dan beranjak menuju tempat tidurnya untuk beristirahat. Namun baru duduk diatas kasurnya, pikirannya melayang pada sang istri sebab dia baru sadar bahwa hanya menghubungi Mawar tadi siang setelahnya dia disibukkan dengan Anita. Bergegas mengambil ponselnya yang diletakkannya dinakas meja disamping ranjang tidurnya, sebab dia telah melupakan ponselnya seharian akibat merawat Anita.
“shitt” umpat Fahmi ketika melihat tiga panggilan tak terjawab dari istrinya saat dia meninggalkan ponselnya tadi.
Mencoba menghubungi kembali istirnya namun yang menyahut hanya suara operator. Dia merasa bersalah telah meninggalkan ponselnya, sebab terlalu fokus pada kondisi Anita membuatnya lupa untuk membawa ponselnya. Menyesal, itu yang dirasakan Fahmi saat ini.
“Sial, nomernya tidak aktif. Pasti Mawar berpikir yang macam², apalagi dia sedang hamil pasti membuatnya berpikiran negatif. Huhhh, bodoh” kesal fahmi pada dirinya sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur dan akan mengabari Mawar besok pagi.
...
Pagi ini setelah selesai menjalankan ibadah sebagaimana seorang muslim yaitu sholat shubuh. Mawar memutuskan menuju balkon kamarnya, untuk melihat pemandang dipagi hari setelah semalam berkelut dengan pikiran² yang membuatnya stress dan tak lupa membawa ponsel ditangannya untuk menunggu telpon dari sang suami. Dan tak lama setelah, ternyata ponselnya bergetar dan benar Fahmi telah menghubunginya pagi ini setelah semalam telponnya diabaikan.
“Hallo sayang, assalamualaikum” ucap seseorang disebrang sana, setelah mawar mengangkat panggilannya.
“Wa’alaikumussalam mas, selamat pagi” ucap mawar dengan senyum yang teduh.
“Pagi sayang, gimana kabarnya. Kamu baik² saja kan” ucap Fahmi dengan senyum yang mengembang, pasalnya dia masih mendengar suara Mawar yang lembut. Padahal pikirannya terus mengatakan mawar akan marah dan tidak mengangkat panggilannya ternyata justru sebaliknya.
“Alhamdulillah, aku baik mas. Kamu juga baikkan mas disana” jawab Mawar dan tak lupa menanyakan kabar sang suami.
“Alhamdulillah baik, oh iya yang tadi malam maaf bukan maksud mengabaikan panggilan telpon mu. Ponsel ku tertinggal didalam kamar, dan aku lupa membawanya saat keluar untuk bertemu client” ucap Fahmi memberikan alasan. Namun untuk kedua kalinya dia membohongi sang istri yang jelas semalam dia bertemu dengan Anita dan bukan client.
“Iya mas gak pp, aku tahu kamu sibuk bahkan sampai membuat mu membatalkan kepulangan mu kemarin, pasti kamu sibuk banget. Ya sudah sebaiknya aku sudahi telponnya, karena aku mau sarapan dulu. Kamu jangan lupa sarapan dan jaga kesehatan ya” ucap Mawar panjang lebar tanpa memberikan kesempatan Fahmi untuk mencelah omongannya.
__ADS_1
“Iya sayang pasti.... ”ucap Fahmi menggantung, belum sempat dia melanjutkan omongannya tiba² telpon sudah diakhiri dengan suara salam dari sang istri.
“Assalamualaikum mas”
“Wa’alaikimussalam” ucap fahmi sesaat setelah panggil diakhiri, dia yakin bahwa mawar tidak mendengar salamnya karena mawar mematikan telponnya sebelum dia menjawab salamnya.
...
Marah, kecewa dan sedih yang saat ini dirasakan mawar saat semalam telponnya diabaikan oleh sang suami. Dan saat pagi ini mendapat telpon dari Fahmi membuatnya senang namun entah bagaimana saat dia mendengar suara fahmi dan menjelaskan alasan kenapa tidak mengangkat telponnya. Masih membuatnya kecewa dan marah, oleh sebabnya dia mengakhiri telponnya dan tak ingin melanjutkan obrolannya bersama sang suami, karena takut justru dia yang tidak kuat menahan rasa amarah, kecewa dan sedihnya pada sang suaminya. Mawar bukan tipe orang yang suka melihatkan amarah dan kesedihannya pada orang lain sekalipun orang itu memiliki hubungan dengannya. Dia hanya butuh waktu sendiri untuk memenangkan pikirannya dari rasa amarah dan sedihnya. Mawar pun mengalihkan pikirannya dengan pergi ketaman yang sering dia rawat untuk menjernihkan pikiran kalutnya.
...
Sedangkan dilain tempat, Fahmi yang baru saja selesai menelpon sang istri seketika duduk disofa kamarnya gusar dengan ucapan sang istri yang seolah menyindirnya yang terlalu sibuk dengan pekerjaanya sampai mengabaikan telponnya semalam. Dia kaget pasalnya sang istri yang tak memberi celah untuk bicara sepatah dua kata ditelpon, apa mungkin istrinya marah karena telpon yang diabaikannya semalam.
“Nggak biasa mawar banyak bicara ditelpon dan tadi dia tak memberiku celah untuk berbicara bahkan langsung menutup panggilan ku tanpa menunggu ku menjawab salamnya, Aneh” ucap Fahmi memikirkan moment dimana istrinya seakan menghindarinya dengan tidak memberi kesempatan berbicara ditelpon. Pikirannya sudah dipenuhi dengan pikiran aneh² tentang istrinya yang beda pagi ini saat ditelpon. Namun dia seakan mengabaikan pikirannya sejenak setelah teringat kembali dengan Anita yang masih sakit.
Fahmi pun akhirnya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar untuk menghampiri kamar Anita melihat kondisinya apakah sudah membaik atau belum. Berjalan dengan santai lalu mengetuk pintu kamar Anita yang tertutup.
“Tok ,tok ,tok” bunyi ketukan pintu lalu setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya Anita membukanya dengan wajah yang sudah segar menandakan bahwa dia sudah membaik.
“Selamat pagi” ucap Fahmi tersenyum saat melihat Anita membuka pintu kamarnya dengan raut wajah yang jauh lebih segar dibandingkan kemarin yang tampak pucat.
“Iya”ucap Fahmi mengikuti langkah Anita.
“Duduk Mi, kebetulan kamu datang. Aku sudah siapakan sarapan untuk kita makan pagi ini” ucap Anita yang sengaja menyiapkan sarapan pagi yang dipesannya dari pegawai hotel, sebagai tanda terimakasih pada Fahmi yang sudah merawatnya kemarin sampai rela membatalkan kepulangaanya ke kota J.
“Iya, seharusnya kamu nggak perlu repot² menyiapkannya. Kan aku bisa pesan sendiri nanti” jawab Fahmi dengan sedikit canggung karena lagi² mereka harus berada dikondisi berdua didalam sebuah kamar yang membuatnya memikirkan sang istri namun segera ditepisnya pikiran itu, karena dia akan menyelesaikan nanti setelah pulang bersama istrinya.
“nggak repot kok, lagian ini semua sebagai tanda ucapan terimakasih ku karena kamu sudah mau merawat ku sewaktu sakit kemarin” ucap Anita lembut.
“seharusnya nggak perlu, lagian kita sekarang sudah menjadi saudara jadi memang sudah sepantasnya aku membantu mu yang lagi sakit”ucap Fahni dengan senyum tulus.
“Oh iya Nit, seperti nya kamu sudah terlihat lebih sehat dari kemarin yah” tanya Fahmi lagi.
“Iya Mi, badan ku enakkan malah sudah sehat sekarang. Berkat mu yang kemaren seharian merawatku” jawab Anita.
“kebetulan kamu sudah sehat, jadi sepertinya kamu tak perlu bantuan ku lagi kan. Karena aku harus kembali Ke kota J, mawar sudah menunggu dirumah dari kemarin. Kamu nggak pp kan aku tinggalkan sendiri” tanya Fahmi pelan² agar tak melukai perasaan Anita.
“Emmm, maaf ya karena aku sakit jadi buat kamu kemarin membatalkan jadwal pulang mu pasti kemarin istri mu sedih karena kamu batal pulang. Maaf sekali lagi, aku jadi nggak enak sama Mawar” jawab Anita dengan raut wajah yang biasa padahal jauh dilubuk hati ia merasa sedih, dia masih ingin bersama Fahmi berdua namun sepertinya takdir sudah tidak memihaknya lagi saat ini.
__ADS_1
“Sudahlah nggak pp. lagian kan aku sudah bilang, bahwa kamu itu kakak dari istri ku dan aku memang sudah seharusnya membantu mu karena kita sudah jadi saudara ipar sekarang. Masalah Mawar nggak perlu kamu pikirkan, dia baik² saja kok” Jelas Fahmi seolah istrinya memang baik² saja saat kemarin dia membatalkan kepulangaanya, nyata tidak baik² saja terlebih sikap istrinya yang pagi tadi seakan berubah.
“Oh iya kalau memang kamu harus kembali ke kota J, nggak masalah lagian aku sudah baik² saja” ucap Anita.
“Iya, ya sudah sebaiknya kita sarapan dengan makanan yang sudah kamu siapkan. Kasian daritadi makanan nya Cuma dianggurin karena terlalu lama mengobrol” ucap Fahmi diiringi tawa untuk memecahkan suasana canggung yang sempat terjadi.
“Eh iya ya, ayok makan” jawab Anita juga dengan senyum dan sedikit tawa.
Akhirnya mereka pun menghabiskan sarapan bersama untuk terakhir kali sebelum Fahmi berkemas untuk kembali ke kota asalnya menemui sang istri.
Bersambung.......
Jangan lupa tingalkan jejaknya disini, ya guys.
__ADS_1