
...🌸🌸🌸...
...~Happy Reading~...
*
Aulia menatap tajam ke arah Fatih yang masih duduk bersimpuh di hadapan nya. Kedua tangan pria itu terkepal kuat hingga memperlihatkan garis garis urang di punggung tangan nya.
Yang membuat Aulia tak percaya adalah, pria yang dulu begitu angkuh dan arogan itu kini tengah menangis sesenggukan di hadapan nya.
Aulia bahkan tak mampu lagi mengeluarkan suara nya. Dia membiarkan Fatih meluapkan semua emosi yang selama ini mungkin terpendam di dalam hatinya.
"Bangunlah, jangan seperti ini," lirih Aulia yang pada akhirnya kembali membuka suara nya.
Aulia menyuruh Fatih bangun dan duduk kembali ke bangku taman yang mereka duduki sejak tadi.
Awalnya Fatih menolak, meski harus seharian dalam posisi berlutut seperti itu tak mengapa asal Aulia mau memaafkan nya.
Namun Aulia mengancam akan pergi dan tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada Fatih untuk berbicara dengan nya.
HIngga mau tidak mau, Fatih pun akhirnya mau bangun dan kembali duduk di samping Aulia dengan berjarak tentu nya.
“Boleh aku tanya satu hal?” tanya Aulia lagi setelah Fatih kembali duduk di bangku taman itu.
“A_apa? apa yang ingin kamu tanyakan,” jawab Fatih masih dengan nada bicara yang terbata dan cukup lirih dengan suara yang serak karena habis menangis dengan waktu yang cukup lama.
“Kenapa? kenapa dulu, kamu melakukan itu padaku?” tanya Aulia dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
Sungguh, sulit rasanya saat harus membuka luka lama yang di torehkan oleh Fatih padanya.
Namun, sampai detik ini Aulia tidak bisa menghilangkan rasa ingin tahunya, kenapa dulu Fatih tega melakukan itu padanya.
Padahal seingat Aulia, dia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun apalagi dengan anak anak yang cukup memiliki kuasa di dalam sekolah itu.
Sebagai anak yang berhasil sekolah di sana atas bantuan beasiswa. Tentu saja nyali Aulia tidak sekuat itu untuk macam macam dengan anak anak orang kaya yang bersekolah di sana.
Terlebih itu adalah Fatih dan kedua teman nya, yang merupakan anak anak yang memiliki pengaruh besar di sekolah itu.
Hingga pertanyaan, ‘kenapa Fatih tega melakukan itu padanya?’ terus saja menghantui Aulia.
Kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuat Fatih marah hingga tega melakukan hal keji seperti itu padanya.
Sungguh, Aulia ingin tahu alasan di balik pelecehan yang dia terima dari seorang Alfatih Brahmaseto.
Jantung Fatih bak dihantam batu besar saat pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulut Aulia. Entah harus bagaimana Fatih menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia gelap mata hingga tega memperlakukan gadis sebaik Aulia sekejam itu.
“Sebenarnya apa salahku? Kenapa kamu tega memperlakukan aku sebegitu buruknya. Apa karena aku hanya orang miskin yang bersekolah di sekolahan elit milik kedua orang tuamu? Atau aku telah melakukan hal yang kamu tidak suka hingga kamu tega melakukan hal itu padaku?” lanjut Aulia saat Fatih hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari nya.
“Tolong jelaskan, apa salahku. Jika aku melakukan kesalahan yang membuat kamu marah, maka. Aku pun akan minta maaf, meski luka yang kamu torehkan begitu dalam hingga membuat aku sampai hancur sehancur hancurnya. Tapi aku tetap wajib minta maaf jika aku melakukan kesalahan padamu, dulu.” lanjut Aulia hingga semakin membuat suara Fatih tercekat di tenggorokannya.
“TIdak, kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Itu semua, murni kesalahan yang aku buat karena kebodohan aku,” jawab Fatih yang kini sudah mulai bisa menguasai dirinya.
“Lalu, kenapa melakukan itu padaku?”
“Aulia Dara, sebuah nama yang terus saja mengusik pikiran ku di setiap orang, atau lebih tepat nya pria lain di sekolah terus saja membahas bahkan memuji mu didepan mataku. Kesal dan juga marah, selalu saja aku rasakan setiap melihat bagaimana kamu bertegur sapa dengan pemuda lain dan bagaimana kamu tersenyum lembut pada mereka membuat aku kehilangan rasa sabar ku. Aku yang begitu menginginkan senyum itu hanya tertuju padaku hanya bisa memendam semua keinginan itu di dalam hati kala ego dan rasa angkuhku menjadi penghalang untuk mengungkapkan semua nya. Hingga suatu hari, aku mendengar kabar jika kamu kerap pergi bersama om om, yang akhirnya membuat aku naik pitam dan gelap mata hingga melakukan itu padamu.” Jelas Fatih yang membuat Aulia tertegun.
__ADS_1
Fatih terlihat menjeda ucapan nya untuk menghirup udara yang terasa kian menitip di paru paru nya kala di ingatkan kembali. Alasan di balik perbuatan kejam dulu kepada Aulia atau kepada Dara.
“Maafkan aku, sungguh. Aku benar benar menyesali semuanya, setelah kepergianmu. Aku benar benar tersiksa lahir dan batin, aku bahkan pernah ingin mengakhiri hidupku karena tidak sanggup menahan rasa sesal yang terus saja menyiksaku di setiap hari hariku. Namun sayang, Tuhan tidak membiarkan aku pergi dari dunia ini sebelum aku menyelesaikan semua nya dan minta maaf secara langsung padamu dan pada putri…kita,”
“Dia putriku, hanya putriku. Ingat itu,” sela Aulia saat untuk kedua kalinya dia mendengar menyebut Aliya dengan sebutan ‘putri kita’.
"Maaf," lirih Fatih yang kembali merasakan sesak di dada saat Aulia menolak menyebut putrinya dengan sebutan 'putri kita' seperti yang Fatih ucapkan.
"Siapa namanya?" Lanjut Fatih yang kini begitu ingin tahu perihal gadis kecil yang dulu sempat dia lihat di toko kue milik Aulia.
"Aliya Farah, usianya 10 tahun dan kini tengah duduk di bangku kelas 4 sekolah Madrasah Ibtidaiyah," jawab Aulia yang mampu membuat sebuah senyuman muncul di wajah tampan Fatih.
"Apa, aku boleh bertemu dengan nya?" Tanya Fatih lagi, meski ragu namun tetap harus dia tanyakan.
"Untuk apa? Untuk mengatakan bahwa kamu adalah ayah yang dulu menolaknya," jawab Aulia sedikit menohok dan mencubit hati seorang Fatih.
Fatih pun bergeming, pria itu tidak tahu harus bagaimana lagi dan harus berkata apalagi saat berhadapan dengan wanita yang dulu begitu menarik perhatian nya.
Ah tidak, ralat. Bukan hanya dulu, saat ini pun debaran itu masih ada bahkan jauh lebih kuat dari sejak pertama Fatih merasakan perasaan itu pada sosok gadis yang bernama Aulia Dara.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan. Aku permisi dulu, masih banyak yang harus aku kerjakan," ucap Aulia yang meraih tas selempang nya lalu beranjak pergi meninggalkan Fatih seorang diri.
"Tunggu," seru Fatih seakan akan tidak rela kembali ditinggalkan oleh Aulia.
Dan hal itu berhasil membuat langkah Aulia terhenti. Aulia pun kembali berbalik, menanti apa lagi yang ingin dikatakan oleh Fatih padanya.
"Apa lagi?"
__ADS_1
"Apa aku boleh datang lagi untuk bertemu denganmu dan Aliya?"