
1 Bulan Kemudian.
Hanan menatap nanar sebuah bangunan besar yang berdiri kokoh di depan matanya. Dada kembali di landa rasa sesak yang menghimpit dimana di gadung itu. Hubungan antara dirinya dan juga Aulia akan berakhir dengan sebuah perceraian.
Tepat di hari ini, satu bulan sudah Hanan dan Aulia berpisah. Dan setelah satu bulan tak bersua, mereka pun akhirnya akan kembali dipertemukan untuk pertama kalinya di pengadilan agama. Setelah apa yang terjadi satu bulan yang lalu.
Setelah kejadian dimana Aulia mengetahui hubungannya dengan Sarah. Hanan pun memutuskan untuk menetap di kota itu dan tidak mau kembali lagi ke ibu kota.
Merasa terlalu berat untuk melepaskan Aulia, Hanan pun akhirnya memilih menetap di sana meski tak juga satu rumah dengan Sarah. Hanan memilih untuk tinggal di apartemen yang sengaja dia beli untuk sekedar menenangkan diri dari keterpurukan karena harus berpisah dengan Aulia.
Namun kini, karena telah sama sama mengikhlaskan melepas tali pernikahan itu. Membuat proses perceraian antara Hanan dan Aulia di percepat karena kedua belah pihak telah sama sama sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Bahkan Hanan dan Aulia sama sama menyerahkan semua urusan perceraian itu pada pengacara masing masing dan tidak pernah lagi bertatap muka satu sama lain.
Dan kini, untuk pertama kalinya lagi setelah satu bulan berlalu. Hanan dan Aulia pun akan kembali di pertemukan di pengadilan agama untuk mengucapkan ikrar talak yang akan dilakukan oleh Hanan pada Aulia.
Sebagai tanda, jika pernikahan antara keduanya sudahlah berakhir. Baik Hanan maupun Aulia akan menyandang status baru, yaitu Janda dan juga Duda.
*
*
"Kamu baik baik saja Nak?" tanya Umi Fatimah pada putranya yang saat itu turut serta untuk memberikan dukungan pada putranya.
"Bohong jika Hanan jawab Hanan baik baik saja Umi, disaat Hanan harus melepaskan wanita yang Hanan cintai dengan ikhlas. Doakan saja, semoga Hanan bisa segera terlepas dari rasa sakit ini, Umi." jawab Hanan sendu, menatap Nanar bangunan yang akan mengakhiri hubungannya dengan Aulia.
Setelah bisa mengendalikan diri, Hanan pun mulai melangkahkan kakinya memasuki kawasan pengadilan agama, tempat dimana dirinya dan Aulia akan segera resmi berpisah.
__ADS_1
Deg
Langkah Hanan seketika terhenti saat netranya menangkap sesosok wanita dengan pakaian muslimah lengkap dengan khimar nya sedang berdiri di depan pintu ruangan sidang putusan yang akan di laksanakan hari ini.
Dengan langkah gontai, Hanan pun berusaha menguatkan diri berjalan mendekati wanita yang masih sah sebagai istrinya itu.
Tak kuasa menahan rindu yang teramat sangat dalam. Hanan pun langsung berlari lalu menabrakkan tubuhnya ke tubuh Aulia.
Hanan mendekap erat tubuh Aulia yang berdiri mematung di tempatnya karena kaget dengan apa yang Hanan lakukan saat ini.
“Mas,” lirih Aulia mencoba melepaskan pelukan yang dilakukan oleh Hanan di tubuhnya.
“Sebentar saja sayang, Mas mohon. Sebelum status kita berubah. Izinkan Mas memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, mungkin kita akan menjadi orang asing,” lirih Hanan yang i sudah tidak kuasa lagi menahan tangisnya di detik detik perpisahan nya dengan Aulia.
Mendengar permintaan terakhir dari Hanan, Aulia pun akhirnya membiarkan pria itu memeluknya dengan sangat erat. Toh mereka masih resmi suami istri jadi hal itu masih boleh mereka lakukan.
“Sudah Nak, waktu sidang akan segera dimulai,” ucap Umi Fatimah mencoba memberi pengertian pada putranya.
Mendengar ucapan sang Umi, dengan berat hati Hanan pun akhirnya melepaskan pelukan nya di tubuh Aulia. Pria itu terlihat menyeka air matanya sebelum memasuki ruangan yang terasa begitu menyeramkan untuknya masuki.
Meski begitu, Hanan pun tetap masuk dan melakukan tugasnya sebagai warganegara yang baik. Dengan kedua tangan nya tak berhenti saling meremas, Hanan mendengarkan semua yang diucapkan oleh hakim untuk putusan gugatan cerai yang diajukan oleh Aulia terhadapnya.
TIdak ada perebutan hak asuh anak ataupun harta gono gini yang menghambat putusan cerai itu. Hingga kini, Hanan pun sudah berdiri di depan Hakim pengadilan agama untuk mengucapkan ikrar talaknya terhadap Aulia.
Setetes cairan bening sama sama lolos dari netra Aulia dan juga Hanan saat Hakim ketua mengetukkan palu nya, sebagai penanda jika kini Aulia dan juga Hanan telah resmi berpisah secara hukum dan agama.
"Se_selamat berpisah wahai bidadari duniaku. Semoga setelah ini kamu dilimpahi kebahagiaan yang melimpah, setelah kesakitan yang aku torehkan di hatimu, sayangku. Maaf tidak bisa menyertaimu dalam meraih bahagia itu," lirih Hanan setelah keduanya keluar dari dalam ruangan sidang dengan status yang berbeda.
__ADS_1
Bahkan kini, ada jarak yang membentang luas di antara mereka berdua. Meski keduanya saling berhadapan satu sama lain.
"Iya Mas, doa yang sama juga tersemat dariku untukmu. Semoga kelak kita di pertemukan dengan kebahagiaan kita dengan keluarga masing masing,"
"Iya, tentu saja dan itu harus. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang," lanjut Hanan yang kembali harus menahan sesak saat batasan dan jarak itu semakin kentara diantara mereka.
"Tidak apa apa, aku bis___,"
"Tenanglah, Aulia akan pulang bersamaku," sela seseorang yang memotong ucapan Aulia.
Hanan tersenyum getir saat seorang pria bertubuh kekar yang menjadi bagian dari masa lalu Aulia tengah berjalan menghampiri mereka.
"Mas Fatih," lirih Aulia saat melihat ayah dari putrinya itu kini berdiri tidak jauh darinya.
"Assalamualaikum, Hanan, Umi. Sehat?" sapa Fatih menyalami dengan takzim tangan Umi Fatimah.
"Alhamdulillah Nak Fatih, kami dalam keadaan sehat walafiat. Berhubung sudah ada Nak Fatih, kalau begitu kami permisi dulu ya Nak Fatih, Nak Aulia. Sayang, ingat meski kalian sudah tidak bersama. Umi dan Abi masih tetap orang tuamu, jadi jangan lupakan kami ya? Datanglah ke rumah jika ada waktu luang untuk menjenguk kami berdua," ucap Umi pada Aulia saat mereka akan berpisah.
"Iya Umi, Aulia tidak akan melupakan Umi dan Abi. Bagi Aulia, Umi dan Abi adalah orang tua Aulia," jawab Aulia menahan rasa sedihnya.
Kedua wanita beda usai itu pun saling memeluk. Melepas semua lara di hati manakala mereka sama sama di paksa berpisah oleh keadaan.
Hanan dan Umi pun akhirnya pergi lebih dulu meninggalkan Aulia bersama Fatih yang masih berdiri di gedung pengadilan agama.
"Mas Fatih tahu dari mana kalau aku di sini?" tanya Aulia setelah Hanan dan Umi menghilang dari pandangannya.
"Tahu saja, ayo kita pulang. Ini sudah jam nya Aliya pulang sekolah. Kita akan menjemputnya ke sekolah sama sama," ajak Fatih yang di angguki oleh Aulia.
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya pergi meninggalkan gedung yang menjadi saksi bisu bagaimana Fatih dan juga Aulia mendapatkan status janda dan duda nya.