
"Ini minum,"
Lamunan Aulia kembali di buyarkan oleh suara bariton yang menyapanya, menyuguhkan satu buah kelapa muda yang siap di minum air nya.
Hari kian terik, namun di kecil Aliya masih bersemangat menghabiskan waktu di pantai dengan bermain pasir dan air laut yang siang ini begitu tenang hingga membuat para pengunjung pantai betah berlama lama di sana.
Seperti si kecil Aliya, yang masih asyik bermain pasir bersama teman baru yang dia jumpai di pantai itu. Sementara Aulia dan Fatih memilih menunggu di pinggir pantai, berteduh dengan berpayung kan payung pantai yang sudah tersedia di sana.
"Terima kasih," jawab Aulia sembari mengambil buah kepala itu dari tangan Fatih.
"Dia terlihat bahagia sekali ya? Ini pertama kalinya aku melihat senyum putri kita selebar itu, ini pertama kalinya juga aku melihat wajahnya seceria itu," ucap Fatih setelah menjatuhkan bokong nya tepat di samping Aulia dengan jarak aman.
"Apa selama Aliya bersama dengan Mas, dia cerita sesuatu yang aneh?" tanya Aulia ragu ragu.
Ini pertama kalinya mereka berinteraksi dengan jangka waktu yang lama. Bahkan obrolan mereka sudah mulai panjang, tidak lagi singkat seperti dulu lagi.
"Cerita yang aneh? Misalnya?" tanya Fatih dengan kerutan di dahi nya.
"Eemm, gimana ya? Curhat, iya curhat. Apa selama dia bersama Mas Fatih, Aliya sering curhat tentang perasaan dan keinginan nya?"
Deg
Seketika, Fatih di buat kehilangan fokusnya saat mendengar Aulia memanggilnya dengan sebutan 'Mas Fatih' . Masya Allah, seandainya panggilan itu bisa di dengar Fatih di setiap saat nya.
Mungkin Fatih akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Tapi sayang, semua hanya angan yang entah akan terwujud atau selamanya hanya angan semata.
"Tentu, dia bercita cita ingin lanjut sekolah di Kairo. Tapi dia bilang, sebelum dia pergi dia ingin memiliki seorang adik lebih dulu. Biar saat dia pergi, Bunda nya tidak akan merasa kesepian,"
__ADS_1
"Kairo? Kenapa jauh sekali? Di sini juga kan banyak sekolah agama yang bagus. Kenapa harus ke Kairo?" cecar Aulia dengan wajah panik saat Fatih mengatakan jika Aliya meminta nya mengirim Aliya ke Kairo usai lulus dari Madrasah ibtidaiyah.
"Dia punya mimpi, dia punya keinginan dan itulah mimpi dan keinginan nya. Dukung dan doakan, agar anak kita selalu dalam lindungan nya meski dia jauh dari kita,"
"Tapi kenapa harus ke Kairo? Kalau dia pergi ke sana, lalu bagaimana denganku? Aku tidak mau tinggal sendiri," lirih Aulia saat teringat kembali dengan kisah pernikahan nya yang berada di penghujung perpisahan.
Meski belum ada kata talak yang di ucapkan oleh Hanan padanya. Tapi Aulia sudah memutuskan untuk melayangkan gugatan cerai pada pria yang menikahinya dua bulan yang lalu itu.
"Itulah, kenapa Aliya ingin memiliki seorang adik sebelum dia pergi. Itu agar kamu tidak sendirian," jelas Fatih yang membuat Aulia tertegun.
"Tapi___,"
"Selesaikan dulu urusan mu dengan Hanan, setelah itu kita lanjut bahas ini lagi. Fokus dulu pada satu masalah agar semua selesai dengan baik. Lagi pula ini masih wacana belum sepenuhnya di realisasikan oleh putri kita." potong Fatih saat Aulia akan menjawab ucapan nya.
"Baiklah, dan terima kasih."
"Selalu ada untuk Aliya,"
"Dia putri, tentu saja aku harus ada untuknya. Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan karena kebodohan yang aku lakukan seperti 10 tahun yang lalu. Yang dengan begitu pengecutnya menyangkal perbuatan bejat itu dan malah menuduh mu yang tidak tidak. Padahal, aku tahu sendiri siapa ayah dari janin yang tumbuh di rahim mu dulu. Maafkan aku Aulia, aku sungguh benar benar minta maaf. Bahkan jika perlu, aku akan mengorbankan seluruh jiwa ragaku untuk menebus semua kesalahan yang aku lakukan padamu dan juga pada putri kita," jawab Fatih dengan mata yang berkaca kaca saat mengingat kesalahan yang dia lakukan pada Aulia 10 tahun yang lalu.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkan dan melupakan semua nya. Mas juga sudah membuktikan jika Mas sudah berubah jauh lebih baik," lirih Aulia yang tidak ingin mengungkit masa lalu kelam itu lagi.
"Ayah, Bunda, sini. Kita main di pantai," seru Aliya mengalihkan perhatian Aulia dan juga Fatih.
"Ayo, sekarang lebih baik kita lupakan semua beban yang ada. Saat ini, mari bersenang senang bersama putri kita," ajak Fatih sembari bangkit dari duduknya lalu menggulung celana panjang nya hingga batas betis.
Setelahnya, Fatih pun melangkah lebih dulu mendekati Aliya yang sudah berlari kesana kemari bersama air laut yang datang lalu kembali lagi ke laut.
__ADS_1
Melihat tawa bahagia Aliya bersama ayahnya, membuat hati Aulia tergerak untuk ikut bersenang senang dengan kedua orang itu.
"Ayo serang Bunda sayang, jangan biarkan baju Bunda kering sendirian," seru Fatih memberi intrupsi pada putrinya dan tentu saja itu di sambut baik oleh Aliya yang langsung saja menyemburkan air laut itu ke tubuh Aulia.
Tidak terima dengan apa yang Fatih dan juga Aliya lakukan, Aulia pun membalas keduanya. Hingga akhirnya keseruan pun terjadi karena saling balas membalas menyemburkan air laut ke tubuh masing masing.
Hingga akhirnya, gelak tawa pun kini menyertai kebersamaan mereka bertiga dan untuk pertama kalinya juga, Aulia bisa tertawa lepas padahal di sana ada Fatih. Pria yang sudah membuat Aulia kehilangan kebahagiaan dan juga keceriaan nya.
Terkadang, obat untuk sebuah luka itu bukan lah datang dari orang baru. Melainkan bisa juga, orang yang menorehkan luka itu sendirilah yang menjadi obat untuk luka itu.
Seperti Fatih yang akhirnya bisa membuat Aulia tertawa meski tengah dilanda luka dan kecewa yang mendalam akan nasib pernikahannya yang ada di ujung kehancuran.
*
*
Sementara ditempat lain.
Hanan masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Kedua tangan nya, menutupi seluruh wajah nya yang basah oleh air mata yang sejak satu jam yang lalu tidak bisa berhenti keluar.
"Sabar dan ikhlas lah, semua sudah jalan takdirmu seperti ini," ucap Umi Fatimah membelai lembut surai hitam legam milik putranya itu.
"Tapi kenapa Umi? Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa aku harus kehilangan orang yang selama ini aku perjuangkan?" lirih Hanan di batas keputusasaan nya saat akan kehilangan Aulia.
Wanita yang selama lima tahun ini dia cintai dengan segenap jiwa dan raganya. Bahkan Hanan tak peduli dengan status Aulia yang seorang orang tua tunggal dan memiliki masa lalu yang cukup kelam.
"Ingat Nak, semua yang ada di dunia dan apa yang kita punya itu semua adalah titipan dari sang maha pencipta. Tidak ada yang bisa mencegah saat dia akan mengambil kembali yang ternyata bukan untuk kita."
__ADS_1