Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.24


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


...~Happy Reading~...


*


"Kalau boleh Mas tahu, siapa pria itu? Apa Mas mengenalnya?" tanya Hanan disela keterkejutan nya.


"Mas mungkin tidak mengenalnya. Tapi Mas pernah bertemu dengan nya satu kali." jawab Aulia yang membuat dahi Hanan mengkerut.


"Aku pernah bertemu dengannya? Dimana?"


"Apa Mas masih ingat dengan pria yang merupakan suami dari salah satu pelangganku yang bernama Sarah?"


"Fatih?"


"Iya Mas, pria itu adalah ayah biologis Aliya yang dulu pernah menolak untuk mengakui kehadiran Aliya," jawab Aulia sendu karena harus kembali di ingatkan dengan kisah kelamnya di masa lalu.


Mendengar jawaban dari Aulia, Hanan benar benar dibuat kaget, hingga pria itu pun terdiam selama beberapa saat sebelum kembali melanjutkan pembicaraan dengan Aulia.


"Aku harus bagaimana Mas? aku bingung," tanya Aulia lagi setelah keduanya terdiam selama beberapa saat.


"Mas tahu jika saat ini masih terlalu sulit untuk kamu memaafkan Fatih dan menerima kehadirannya. Tapi harus kamu tahu, jika yang memiliki masalah itu adalah antara kamu dan Fatih. Bukan Aliya dan Fatih, akan sangat berdosa Jika kamu dengan sengaja memutus tali silaturahmi antara ayah dan anak. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah bertanyaan langsung pada Aliya. Biarkan dia yang memutuskan Apakah dia mau bertemu dengan ayahnya atau tidak. Biarkan Aliya sendiri yang memutuskan apakah dia akan menerima kehadiran ayahnya atau tidak. Karena saat ini, yang memiliki hak untuk menentukan adalah Aliya sendiri, bukan kamu ataupun Fatih." Jelas Hanan yang Cukup dipahami oleh Aulia.


Hanan benar, yang bermasalah di sini adalah Aulia dengan Fatih. Bukan Aliya dengan Fatih, mau tidak mau, terima tidak terima, Aulia harus berlapang dada untuk membiarkan Aliya tahu tentang ayahnya dan mempertemukan mereka berdua jika keduanya ingin saling bertemu.


*


"Benarkah Ayah sudah kembali?" tanya si kecil Aliya saat Aulia memberitahu outrinya jika ayahnya yang selama ini tidak pernah Aliya tahu keberadaan nya, kini datang dan ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


"Iya Nak, dan Ayah ingin bertemu dengan Aliya. Apa Aliya bersedia?" tanya Aulia dengan penuh ke hati hatian.


"Tentu Bunda, Aliya ingin sekali bertemu dengan Ayah. Kapan? Kapan Ayah datang untuk bertemu denganku?" tanya nya penuh dengan semangat.


"Besok, di restoran kesukaan Aliya. Bunda sudah suruh Ayah datang ke sana,"


"Hore, ketemu Ayah. Ya sudah, kalau begitu Aliya mau siapin baju terbaik Aliya. Aliya nggak mau pas ketemu Ayah, Aliya terlihat jelek,"


Bocah kecil itu pun langsung berlari ke kamarnya dan memilih baju yang akan dia kenakan saat bertemu dengan ayahnya.


Melihat respon Aliya, menyadarkan Aulia akan penting nya kehadiran ayah bagi seorang anak. Seburuk dan sejahat apapun ayah dari anak kita, tentu suatu kewajiban bagi seorang ibu untuk memperkenalkan sosok ayah pada anaknya.


*(ini dalam kasus Aulia dan Fatih ya. Mohon jangan di samakan dengan kasus rumah tangga lain nya. Karena setiap orang memiliki kisah yang berbeda meski ada dalam satu tema yang sama.)


Flashback Off.


*


*


"Apa benar ini tempatnya Nak?" tanya Fatih saat mobilnya terparkir di depan sebuah bangunan rumah yang lumayan besar dan ada sebuah spanduk bertuliskan '*Rumah Baca Alifa**h*' tepat di depan rumah itu.


"Iya Ayah, ini tempat yang aku maksud tadi. Ayo, kita kesana untuk bertemu sama Ummi Alifa untuk memberikan buku buku yang tadi kita beli," jawab Aliya penuh semangat turun dari dalam mobil mewah sang Ayah.


Melihat bagaimana semangatnya Aliya, akhirnya Fatih pun ikut turun dan membantu membawa buku buku yang terlalu berat jika si bawa oleh anak kecil seperti Aliya.


Dengan sebuah dus berukuran cukup besar yang ada di tangan nya. Fatih berjalan tepat di belakang putrinya menuju ke rumah baca itu.


"Assalamu'alaikum," seru Aliya saat tiba di depan pintu yang sudah terbuka.

__ADS_1


"Waalikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, eh neng Aliya. Ayo masuk neng," jawab seorang wanita paruh baya dengan pakain syar'i menghampiri Aliya dan Fatih yang berdiri di depan pintu.


"Neng Aliya sama siapa? Bunda mana, nggak ikut?" tanya wanita baya yang biasa dipanggil Ummi oleh anak asuhnya itu.


"Bunda ada tapi nggak ikut. Perkenalkan Ummi, ini Ayah Aliya yang baru pulang dari kerja yang jauh," jawab Aliya memperkenalkan sang ayah pada wanita yang di perkirakan seumuran dengan ibunya itu.


"Oh Ayah nya Aliya, salam kenal ya Pak," jawab Ummi Alifa sembari mengatupkan tangan di depan dadanya.


"Iya Bu, salam kenal juga. Oh iya, ini ada sedikit buku yang ingin Aliya sumbangkan kemari. Mohon di terima," jawab Fatih sembari menyimpan kardus berisi buku buku baru itu di dekat Ummi Alifa.


"Wah, terima kasih loh Nak Aliya. Semoga berkah ya Nak dan dilancarkan lagi rezekinya,"


"Aamiin Ummi,"


Ketiga nya pun berbincang cukup lama, Ummi Alifa pun sempat di buat kaget dengan isi kardus yang di bawa oleh Fatih. Pasalnya, buku buku yang dibawa semua merupakan buku buku baru yang masih bersegel.


Ummi Alifa merasa terharu dan sangat berterima kasih karena Fatih tidak segan segan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membelik buku buku itu dan di berikan secara cuma cuma ke tempat Ummi Alifa.


Dimana di sana menampung puluhan anak yang belum memiliki kesempatan untuk sekolah karena terkendala ekonomi keluarga yang rata rata hanya seorang kuli serabutan dan pemulung sampah.


Menjelang sore, Fatih dan Aliya pun pamit undur diri pada Ummi Alifa karena sudah waktunya untuk Aliya pulang kerumah sang Bunda.


"Weekend ini, Aliya kan libur. Mau nggak kalau menginap di rumah Ayah? Oma sama Opa mau ketemu juga dengan Aliya, bagaimana? Mau nggak menginap dan menghabiskan liburan nya di rumah Ayah?" tanya Fatih saat keduanya tengah dalam perjalanan menuju pulang kerumah Aulia untuk mengantarkan gadia kecil itu kembali oada Bundanya. Setelah hampir seharian ini Aliya menghabiskan waktu bersama dengan sang Ayah.


"Nanti Aliya izin sama Bunda dulu ya, Ayah. Kalau Bunda mengizinkan tentu saja Aliya mau ketemu Oma sama Opa," jawab si kecil Aliya yang kini sudah mulai akrab dengan sang ayah. Meski keduanya baru saja bertemu dan menghabiskan waktu bersama selama satu hari.


"Baiklah, nanti kabari Ayah kalau sudah dapat izin dari Bunda, ya. Biar Ayah jemput,"


"Iya Ayah,"

__ADS_1


__ADS_2