
“Hoy, melamun saja nanti kamu kesambet loh,” seru seseorang mengejutkan seorang wanita yang sejak tadi hanya bengong saja di meja kerjanya.
“Kamu Ran, ngagetin saja,” jawabnya dengan nada bicara yang sangat kesal.
“Habis, kamu bengong saja dari tadi. Kamu kenapa sih, kok tidak bersemangat begitu?”
“Nggak tahu, lagi lemas aja. Mungkin karena lagi PMS,”
“Oh pantesan, ya sudah lanjut kerja gih, jangan sampai kena tegur atasan,”
“Iya, iya. Eh, kamu tahu nggak kenapa Pak Fatih selama tiga hari ini tidak masuk kerja?” tanya nya tiba tiba.
“Pak Fatih? memang nya kenapa dengan beliau?”
“Nggak, cuma tanya aja,”
“Katanya sih lagi ada urusan keluarga, tapi hari ini masuk kok. Tadi pagi aku lihat Pak Fatih datang sama Pak Seno,”
“Benarkah? Kamu serius?”
“Mana mungkin aku bohong, orang aku datang nya barengan sama beliau kok. Memangnya kenapa sih? Kok tanya tanya Pak Fatih?”
“Nggak, nggak apa apa. Ya sudah aku lanjut kerja ya,” jawabnya yang kini sudah kembali lagi bersemangat saat mendengar jika Fatih sudah kembali masuk kantor.
Menjelang siang, lebih tepatnya menjelang jam makan siang. Maryam segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke sebuah lift yang akan membawanya ke lantai atas.
Dengan senyum yang mengembang, Maryam menunggu pintu lift itu terbuka dengan membawa rantang bekal yang setiap hari selalu Maryam bawa di tangan nya Maryam menunggu dengan perasaan yang tidak sabar.
Ting
Pintu lift yang ditunggu terbuka pun akhirnya berbunyi yang menandakan jika pintu lift itu terbuka.
Deg
__ADS_1
“Mbak Aulia” seru Maryam saat melihat Aulia berada di dalam lift yang akan di naiki oleh nya.
“Maryam? Sedang apa kamu di sini?” tanya Aulia balik saat melihat Maryam, anak dari Ummi Alifa itu berada di gedung kantor milik suami nya.
“Apa kabar Mbak? Kebetulan sudah beberapa bulan ini Iam kerja di sini Mbak,” jawab nya setelah menyalami lalu cipika cipiki dengan Aulia.
“Oh begitu,” jawab Aulia dengan senyum lembut menghiasi wajah cantiknya siang ini.
“Mbak sendiri ada keperluan apa ke mari?” tanya Maryam balik.
Karena setahunya, Aulia memiliki usaha sendiri yang sudah maju pesat, jadi sangat tidak mungkin jika Aulia bekerja di sana.
“Mbak mau antar makan siang buat suami Mbak,” jawab Aulia yang masih terlihat malu malu saat mengatakan jika dirinya sudah kembali menikah.
“Suami Mbak juga bekerja di sini? Loh, kok aku baru tahu kalau Mas Hanan bekerja di sini,” lanjut Maryam yang membuat Aulia tersentak kaget. Namun, detik kemudian Aulia pun bisa mengendalikan dirinya.
Wajar jika Maryam menganggap jika yang akan dikunjungi oleh Aulia itu adalah Hanan karena pernikahan nya dengan Fatih masih belum dipublikasikan.
Seandainya saja tadi pagi Fatih tidak memaksanya untuk datang untuk makan siang bersama. Mungkin Aulia tidak akan mau datang ke tempat dimana suaminya saat ini bekerja.
“Bukan, bukan Mas Hanan. Mbak dan Mas Hanan sudah lama berpisah, Iam dan sekarang Mbak mau bertemu dengan suami Mbak yang baru,” jawab Aulia yang semakin merasa malu saat mengatakan jika dirinya sudah kembali menikah.
“Oh, begitu,” jawab Maryam yang mengangguk mengerti.
“Lalu, kalau boleh tahu di divisi mana suami Mbak itu bekerja?” tanya Maryam lagi.
“Suami Mbak bekerja di___,”
Ting
Belum sempat Aulia menjawab, pintu lift sudah terbuka dan menampilkan sosok Seno yang sudah berdiri di depan pintu untuk menjemput sang nyonya Alfatih.
“Pintunya sudah terbuka, ayo Iam kita keluar dulu dan lanjut di luar ngobrolnya,”
__ADS_1
Kedua wanita muda itu pun akhirnya keluar secara bersamaan dan betapa terkejutnya Aulia saat melihat Seno ada di depan pintu lift.
“Selamat siang nyonya dan selamat datang di kantor tuan,” ucap Seno saat Aulia keluar dari dalam lift yang membuat dahi Maryam mengerut menjadi satu.
“Mas Seno, kenapa ada di sini?” tanya Aulia saat melihat sang asisten suaminya ada di depan pintu lift.
“Saya mendapat amanat untuk menjemput anda nyonya, mari biar saya antar ke ruangan tuan,” jawab Seno lagi.
“Ke ruangan tuan? Maksudnya apa?” gumam Maryam yang tidak sengaja mencuri dengar perbincangan antara Aulia dan Seno.
“Kenapa harus repot repot, saya bisa pergi sendiri,’’ jawab Aulia yang merasa tidak enak hati saat mendapatkan perlakuan istimewa yang diberikan oleh suaminya.
Sampai harus disambut dan dijemput oleh asisten pribadinya segala. Sungguh Aulia merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh Fatih.
Bukan tidak menghargai usaha Fatih yang mengistimewakan nya, hanya saja. Aulia pikir ini terlalu berlebihan.
“Mari nyonya, tuan sudah menunggu anda,” lanjut Seno saat melihat Aulia hanya terdiam.
“Baiklah,” jawab Aulia yang akhirnya pasrah saat Seno mempersilahkan nya untuk berjalan.
“Eh, kamu ada apa kemari?” tanya Seno yang hampir melangkah justru kembali berhenti saat melihat Maryam ada di belakang.
“Saya mau bertemu dengan Mas___,”
“Sayang, kenapa lama sekali sih?”
Maryam tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendengar suara bariton dari Fatih yang memanggil ‘sayang’ ke seseorang.
“Mas,” jawab Aulia yang melihat suaminya berjalan mendekatinya.
“Kenapa lama sih? Mas sampai khawatir loh sayang,” lanjut Fatih yang langsung memeluk tubuh Aulia tanpa peduli jika di sana ada Seno dan juga Maryam.
Hal itu, tentu saja membuat Maryam tersentak kaget saat melihat dan mendengar langsung Fatih memanggil Aulia dengan sebutan ‘sayang’.
__ADS_1
***
Tambah nggak nih bab nya untuk hari ini?? Ada yang mau tambah?? Hihihi...