Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.72


__ADS_3

"Mbak sibuk ya?" pertanyaan dari Gita mampu mengalihkan perhatian Aulia dari layar laptop yang ada di depannya.


Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja hati Aulia bersorak senang. Pasalnya, Aulia sudah sejak dua hari yang lalu Aulia menunggu Gita mengajaknya bicara.


Pembicaraan nya dengan Fatih tempo hati, mengenai Seno yang menyukai Gita terus saja terngiang ngiang di telinga Aulia.


Bahkan rasanya kesal sendiri saat ingin bertanya tapi harus di tahan hanya karena Aulia menghargai privasi Gita yang mungkin belum siap berbagi dengan nya.


"Tidak, sudah selesai kok. Ada apa memang nya?" tanya Aulia balik yang langsung menutup laptop itu meski sejujurnya, Aulia belum selesai menginput data di laptop itu.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama Mbak," jawab Gita yang terlihat begitu ragu ragu.


"Masalah Mas Seno?"


Deg


Gita tersentak kaget saat Aulia menyebut nama Seno. Bahkan gadis itu sampai mengangkat kepalanya lalu menatap Aulia dengan penuh tanya.


"Jangan heran seperti itu, Mbak sudah dari Mas Fatih," jelas Aulia saat melihat Gita menatapnya penuh dengan tanda tanya.


"Oh, begitu," lirih Gita kembali menundukkan kepalanya.


"Sini, duduk di sini," lanjut Aulia menepuk nepuk sofa di samping nya yang masih kosong.


Aulia tahu, saat ini Gita sedang tidak baik baik saja dan butuh seseorang untuk di ajak bicara. Sebagai seorang Kakak, tentu saja Aulia siap menjadi pendengar yang baik untuk adik angkatnya itu.


"Ceritakan, apa yang ingin kamu ceritakan pada Mbak," ucap Aulia setelah Gita duduk di samping nya.


"Aku bingung Mbak," jawab Gita yang akhirnya menceritakan keresahan hatinya pada Aulia.


"Bingung kenapa?"


"Mas Seno, dia bilang dia menyukaiku dan berniat mengkhitbahku,"


"Iya Mbak tahu, lalu kenapa kamu menolaknya?"


"Bukan sepenuhnya menolak sih, hanya saja. Sebenarnya, Bapak sama Ibu sudah membuat janji dengan seorang teman lama untuk menjodohkan aku dengan anak mereka. Besok Bapak memintaku untuk pulang karena lusa akan di adakan pertemuan pertama kami,"

__ADS_1


"Lalu, apa yang kamu risaukan?"


"Eemm, aku, aku___,"


"Suka sama Mas Seno?" tebak Aulia.


Deg


Gita kembali tersentak kaget saat Aulia tahu isi hatinya saat ini. Bahkan Gita sampai mengangkat kepalanya lalu menatap Aulia untuk yang kedua kalinya.


"Mbak tahu?" tanya nya lirih.


"Mbak sudah 6 tahun mengenal kamu Gita, tentu saja Mbak tahu apapun yang kamu rasakan saat ini. Kalau kamu suka sama Seno, kenapa menolaknya?"


"Karena aku sudah janji sama Bapak untuk menerima perjodohan itu jauh sebelum dekat dengan Mas Seno, Mbak. Aku juga tidak tahu kalau ternyata, hati ini malah berubah haluan setelah kami dekat beberapa bulan ini,"


Mendengar penjelasan dari Gita, Aulia hanya bisa menghela nafas panjang. Sulit memang ada di posisi Gita yang berada di antara dua pilihan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Aulia lagi.


"Tidak tahu, apa Mbak bisa memberikan aku saran? Aku harus bagaimana sekarang?"


"Begitu ya?"


"Iya pulang saja dulu, insya Allah semua akan baik baik saja. Dan ingat, rezeki, jodoh dan juga maut semua itu sudah ada di tangan Allah. Jadi, lebih baik kamu pasrahkan dirimu padanya. Mbak yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu meski itu bukan pilihanmu. Karena Allah jauh lebih tahu mana yang terbaik untuk kita,"


"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya Mbak karena Mbak selalu mau mendengarkan semua ceritaku," ucap Gita penuh rasa haru.


"Itulah gunanya saudara, jadi jangan sungkan lagi, ya?"


"Iya Mbak, terima kasih,"


"Sama sama, bismillah saja. Mbak yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu,"


"Iya Mbak, semoga saja. Aamiin,"


"Aamiin."

__ADS_1


*


*


Senyum mengembang hadir di wajah tampan Fatih saat melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalut jubah mandi dan bagian rambut yang ditutupi oleh handuk kecil.


Ini masih jam 4 subuh, tapi Aulia sudah di haruskan mandi junub karena ulah sang suami yang tidak pernah membiarkan nya sehari saja tanpa mandi wajib.


"Sudah?" tanya Fatih yang langsung bangkit dari duduknya untuk bergantian menggunakan kamar mandi.


"Iya," jawab Aulia singkat karena masih merasa lelah setelah melayani sang suami.


"Ya sudah, kalau begitu Mas mandi dulu ya. Habis itu kita shalat berjamaah,"


"Loh, memang nya Mas nggak ke masjid?"


"Hari ini libur dulu sayang, lagi pengen ibadah bareng istri," jawab Fatih sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap melakukan ibadah subuhnya bersama dengan sang istri.


Usai melaksanakan ibadah, pasangan yang sudah hampir dua minggu menikah itu selalu menghabiskan waktu dengan berbincang di dalam kamar sebelum melakukan aktivitas pagi mereka.


Banyak hal yang di bahas oleh Fatih dan Aulia disaat mereka sedang berdua saja seperti saat ini. Dimana keduanya tengah duduk di atas ranjang dengan saling memeluk.


"Untuk perjalanan besok apa sudah kamu siapkan segala sesuatu nya?" tanya Fatih pada Aulia.


"Sudah, semuanya sudah di dalam koper, tapi aku merasa khawatir harus meninggalkan Aliya, Mas,"


"Kenapa lagi dengan Aliya?"


"Aku, tidak tega meninggalkan nya,"


"Sayang, Aliya itu sudah 11 tahun dan di sini juga dia tidak sendirian. Ada Mama dan Papa, kenapa harus khawatir? Anaknya aja santai gitu kok,"


"Iya sih, tapi tetap saja aku___,"


"Sayang, Aliya itu sudah cukup besar untuk di tinggalkan. Lagi pula kita juga pergi hanya dua minggu kan. Setelah perjalanan kita ini, kita agendakan untuk liburan bersama. Bagaimana? Kamu setuju kan kalau kita liburan bersama? Kita akan ajak semuanya, termasuk Seno dan Gita juga, bagaimana?" jelas Fatih yang akhirnya membuat Aulia kembali tersenyum.


"Setuju Mas, setuju sekali. Makasih ya sayang, kamu memang suami yang terbaik," jawab Aulia yang begitu antusias sampai memeluk mesra tubuh suaminya.

__ADS_1


"Kalau begitu boleh nambah dong?" tanya Fatih menaik turunkan kedua alisnya hingga membuat kedua bola mata Aulia membulat sempurna.


__ADS_2