
Sarah menatap kagum pada bangunan yang baru saja dia dan Hanan datangi. Sebuah rumah berukuran sedang dengan gaya minimalis modern di pilih oleh Hanan sebagai rumah barunya yang akan dia tempati bersama dengan Sarah.
"Ayo turun," ajak Hanan setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
Dengan perasaan ragu, Sarah pun akhirnya turun dari dalam mobil lalu mengikuti langkah Hanan yang membawanya masuk kedalam rumah itu.
Sarah sempat di buat kaget saat Hanan tiba tiba menggandeng tangan nya untuk membawa wanita yang kini tengah mengandung anaknya itu masuki kedalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Hanan saat memasuki rumah baru nya itu.
"Waalaikumsalam, Bapak sudah datang?" jawab seseorang yang keluar dari arah dapur menjawab salam dari majikannya, lalu menyambut kedatangan Hanan dan Sarah dengan senyum ramahnya.
"Iya Mbok, perkenalkan ini istri saya namanya Sarah. Sarah, perkenalkan ini Mbok Emi yang akan membantu membersihkan rumah dan menyediakan kebutuhan kita," lanjut Hanan memperkenalkan kedua wanita neda usia itu.
“Selamat datang Bu, saya Emi. Ibu bisa memanggil saya dengan Mbok Emi.” ucap Mbok Emi memperkenalkan dirinya pada istri dari majikan nya itu.
“Iya Mbok, saya Sarah,” jawab Sarah menyambut uluran tangan Mbok Emi dengan tidak kalah ramah nya dengan wanita baya itu.
“Kami akan makan siang di rumah Mbok, jadi tolong siapkan ya. Kami mau istirahat dulu dan nanti kami akan turun setelah shalat dzuhur untuk makan siang,” lanjut Hanan.
“Baik Pak, akan saya siapkan,”
“Baiklah kalau begitu, kami pamit ke kamar dulu ya Mbok,”
“Baik Pak, silahkan.”
Hanan pun kembali membawa sang istri menuju ke lantai atas dimana kamar utama rumah itu ada di sana.
__ADS_1
Krreekkk
“Assalamualaikum, ayo masuk,” Hanan pun membuka pintu kamar itu lebar lebar agar istrinya bisa masuk kedalam ruangan yang begitu luas itu.
“Assalamualaikum,” lirih Sarah saat memasuki ruang pribadi yang akan dia tempati bersama dengan Hanan mulai saat ini.
“Waalaikumsalam warahmatullah, bagaimana? kamu suka kamarnya?” tanya Hanan pada Sarah yang saat ini sudah masuk kedalam ruang pribadi mereka berdua.
Baik Hanan maupun Sarah masih sama sama terlihat kaku dan juga canggung saat mereka hanya berdua saja, seperti saat ini.
“Suka, sekali. Apa ini untuk kamar ku ya Mas? Lalu, untuk kamar Mas sendiri dimana?” tanya Sarah hingga membuat dahi Hanan mengerut.
“Kamarku?” jawab Hanan dengan berbalik bertanya pada Sarah.
“I_iya, kamarnya Mas Hanan,”
Sarah bergeming, tetapi matanya sudah menggenang cairan bening yang siap jatuh membasahi pipinya hanya dengan satu kedipan mata saja. Meski tak ada satu kata yang terucap dari bibirnya, tapi sebuah anggukan kepala Sarah tunjukan sebagai jawaban akan pertanyaan yang Hanan berikan untuknya.
“Maaf ya, maaf jika selama satu bulan lebih ini Mas mengabaikan kalian. Tapi mulai sekarang Mas janji, Mas akan selalu ada untuk kalian,” lanjut Hanan kembali menggenggam erat tangan Sarah yang dingin dan basah oleh keringat dingin.
“Tidak Mas, Mas memang butuh waktu untuk menerima semua ini. Begitupun dengan aku, kita sama sama ditempatkan di tempat tersulit dan dihadapkan dengan pilihan yang sulit juga. Meski saat ini, posisi ini adalah posisi tersulit kita. Semoga kelak kita akan berucap syukur karena pernah di posisi ini Mas,” jawab Sarah yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya saat Hanan mulai mau menerima dirinya dan juga calon anak mereka.
“Iya, mari kita berjuang bersama demi calon anak kita,”
“Iya Mas,” jawab Sarah membalas genggaman tangan Hanan yang hangat dan menenangkan.
*
__ADS_1
*
Sementara di kota lain.
Kebahagian tanpa terlukis dengan jelas di wajah cantik Aliya saat akan mengunjungi panti asuhan dimana dulu Aulia tumbuh besar di sana.
Meski ada sedikit keraguan saat Fatih mengajaknya kembali ke kota itu. Namun, saat melihat betapa antusias nya Aliya saat akan mengunjungi kota itu membuat Aulia akhirnya pun luluh dan mau ikut serta untuk mendatangi kota yang sudah 10 tahun dia tinggalkan.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama berjam jama lamanya. Keluarga kecil yang belum memiliki status itu tiba di sebuah bangunan yang sudah banyak berubah sejak ditinggalkan oleh Aulia 10 tahun yang lalu.
Fatih memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu bangunan utama panti asuhan 'Kasih Bunda' itu. Setelah mematikan mesin mobilnya, Fatih, Aulia dan juga Aliya keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
Kedatangan Aulia dan Aliya tentu saja di sambut bahagia oleh Bunda Ane karena sudah lama sekali Aulia tidak pernah datang kesana meski hanya untuk menjenguk Bunda Ane.
"Assalamualaikum, Bunda," sapa Aulia saat sudah tiba di depan Bunda Ane yang menyambut kedatangannya dan juga putrinya di teras rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masya Allah sayang. Kamu datang Nak?" jawab Bunda Ane yang langsung memeluk erat tubuh Aulia.
Kedua wanita beda usia itu pun saling membalas pelukan masing masing. Hingga perhatian Bunda Ane pun tertuju pada seorang pria dewasa yang berdiri di samping Aliya, putri dari Aulia.
Bunda Ane pun segera mengurai pelukannya di tubuh Aulia. Lalu menatap lekat wajah tampan yang 10 tahun yang lalu pernah mendatanginya untuk minta bertemu dengan Aulia.
Sayang, saat itu Aulia sudah pergi dari sana hingga Fatih pun tidak bisa menemuinya dan pulang dengan tangan kosong.
"Sayang, apa dia___," pertanyaan Bunda Ane menguap begitu saja saat Fatih dengan lantang nya menjawab pertanyaan yang akan di layangkan oleh Bunda Ane pada Aulia.
"Assalamualaikum, Bunda. Masih ingat saya kan? Saya Fatih Bunda, pemuda yang 10 tahun yang lalu pernah datang ke sini untuk mencari Aulia," jawab Fatih membuat Aulia kaget hingga menatap ke arah Fatih cukup lama dengan dahi yang mengerut.
__ADS_1